Penilaian Hasil Pembelajaran Dengan Sistem Konversi Nilai

Bapak dan ibu guru yang terhormat (maaf, guru berdasarkan postingan sebelumnya disebutkan sebagai pribadi dan profesi yg terhormat -bukan anggota DPR saja yg terhormat-) :) tentu pernah melaksanakan penilaian hasil belajar. Dalam KTSP  ada berbagai macam teknik penilaian, antara lain tes, observasi, penugasan, inventori, portofolio, jurnal, penilaian diri, penilaian antarteman dan lain-lain. Jadi, penilaian itu sebenarnya bukan melulu siswa menjawab soal saja, tapi banyak jenis bentuk lain dari penilaian hasil belajar peserta didik. Kombinasi penggunaan berbagai teknik penilaian di atas akan memberikan informasi yang lebih akurat tentang kemajuan belajar peserta didik.

Salah satu teknik penilaian yang sering (bahkan selalu ini saja) adalah dalam bentuk tes. Tes adalah pemberian sejumlah pertanyaan yang jawabannya dapat benar atau salah. Tes dapat berupa tes tertulis, tes lisan, dan tes praktik atau tes kinerja. Tes tertulis adalah tes yang menuntut peserta tes memberi jawaban secara tertulis berupa pilihan dan/atau isian. Tes yang jawabannya berupa pilihan meliputi pilihan ganda, benar-salah, dan menjodohkan. Sedangkan tes yang jawabannya berupa isian dapat berbentuk isian singkat dan/atau uraian. Tes lisan adalah tes yang dilaksanakan melalui komunikasi langsung (tatap muka) antara peserta didik dengan pendidik. Pertanyaan dan jawaban diberikan secara lisan. Tes praktik (kinerja) adalah tes yang meminta peserta didik melakukan perbuatan/mendemonstasikan/ menampilkan keterampilan.

Dalam rancangan penilaian, tes dilakukan secara berkesinambungan melalui berbagai macam ulangan dan ujian. Ulangan meliputi ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, dan ulangan kenaikan kelas. Sedangkan ujian terdiri atas ujian nasional dan ujian  sekolah. Ulangan adalah proses yang dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik secara berkelanjutan dalam proses pembelajaran, untuk melakukan perbaikan pembelajaran, memantau kemajuan dan menentukan keberhasilan belajar peserta didik. Ujian adalah kegiatan yang dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik sebagai pengakuan prestasi belajar dan/atau penyelesaian dari suatu satuan pendidikan.

Bapak dan ibu guru terhormat, sudah tahu dan mengerti kan tentang teorinya ?  yang saya kutip langsung dari Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.

Setelah melaksakana ulangan atau ujian pernah tidak menemukan nilai peserta didik kita sangat rendah atau dibawah nilai Kriteria Ketuntasan Minimal. Jika dalam bentuk ulangan harian dan ulangan tengah semester kita bisa melaksakan program perbaikan yg disebut dengan remedial, tapi jika ulangan semester atau ujian sekolah kapan lagi melaksanakan program perbaikannya. Salah satu cara mengatasinya bisa dengan sistem konversi nilai.

Berikut caranya :

Misalkan ada 50 soal pilihan ganda, kita koreksi dulu hasil ulangan siswa hingga mendapatkan skor. Skor yang di dapat adalah jumlah soal yang dijawab benar oleh siswa  dari 50 soal yang diberikan. Lalu kita mendapatkan skor tertinggi dan skor terendah, misalnya

Skor tertinggi = 30

Skor terendah = 10

lalu bapak dan ibu guru yang terhormat kita menentukan berapa nilai tertinggi dan terendah yang bapak dan ibu inginkan,misalnya

Skor tertinggi = 30  dapat nilai 8

Skor terendah = 10 dapat nilai 6

Rumus yang kita pakai adalah  Y = ax + b

Terlebih dahulu kita menentukan nilai a, dengan cara :

Niali Tertinggi 8 = 30a + b        (30 adalah skor tertinggi)

Nilai Terendah 6 = 10a +  b  – (10 adalah skor terendah)

2 = 20a

a = 2/20

a = 1/10 atau 0,1

sekarang kita menetukan b, dengan cara :

8 = 1/10 x 30 + b                       ( 1/10 atau 0,1 adalah a sedang 30 adalah skor tertinggi)

8 = 3 + b

b = 8 – 3

b = 5

Sekarang kita tinggal memasukkan kedalam rumus Y= ax + b

sekarang kita buktikan untuk menentukan nilai konversi

Y = 0,1 x 30 + 5

Y = 3 + 5

Y= 8

Artinya siswa dengan skor 30 mendapat nilai konversi 8, bagaimana dengan yang terendah berikut perhitungannya

Y= 0,1 x 10 + 5

Y = 1 + 5

Y= 6.

Bagaimana dengan yang lain,misalkan skornya 20,denganrumus Y = ax + b

Y = 0,1 x 20 + 5

Y = 2 + 5

Y = 7

Demikian yang bisa saya sampaikan mudahan bermanfaat, jika masih kesulitan saya kasih file simulasi dengan Excell, bisa klik disini

About these ads

27 comments

  1. Wah, kalau begitu caranya bisa lulus semua… misal jumlah soal 50, skor tertinggi 40 diberi nilai 8 dan skor terendah kebetulan 1 diberi nilai 7 dengan KKM 6.5….waduh yang bodoh pun lulus … Beginikah harga ilmu di Indonesia???

    1. tidak semua pak, menggunakan sistem konversi ini. Di sekolah maju dgn input peserta didik yang sdh baik, saya kira nggak perlu sistem konversi nilai. Suatu saat bisa digunakan guru ketika nilai hasil ulangan peserta didik jeblok semua, hal ini bisa terjadi saat ulangan semester ketika soal ulangan beli langsung atau dibuat oleh Dinas Pendidikan, yg materinya agak berbeda dgn yang diajarkan oleh guru di sekolahnya. Dan menentukan nilau terendahnya juga kita kira-kira, masa nilai/skor 1 dikonversi dgn nilai 7. Sistem konversi ini juga lebih adil, misalkan dalam sebuah evaluasi beberapa peserta didik dapat nilai rendah, lalu guru sekenanya menaikkan nilai untuk mendongkrak nilai, tidak adil bagi yg sudah dapat nilai tinggi. Tapi begitulah,saya jg tak menyebut pendidikan kita atau harga ilmu di Indonesia baik,.. ini hanya salah satu solusi sistem penilaian versi saya dan teman-teman dan sepertinya tidak di atur sama sekali dalam peraturan manapun.. semoga bermanfaat..

  2. Sangat bisa sekali, pak.. Namun, sayangnya banyak guru pada tidak mengerti sehingga di tempat saya mengajar tidak dipakai untuk ujian sekolah, karena dianggap sukar bentuk penilaiannya. Biasanya sering saya pakai sendiri utk ulangan harian dan semester..

  3. mau koment ma cara konversi nilai azha… rumusnya terlalu ribet…n nilai yang dihasilkan juga kurang variatif… kenapa harus mencari a dan b segala.. lw yang gak mudeng matematika bingung juga tuch…
    Nilai terkecil 3 misalnya mau dikatrol jadi 7,00. trus nilai 10 tetap 10….

  4. Ya.. memang susah pak, bentuk konversi ini juga hasil penghitungan dari guru matematika, mungkin bapak bisa konsultasikan dgn guru matematika, kenapa harus mencari a dan b segala,
    Ini hanya salah satu cara, ..
    Terimakasih sdh berkunjung, sukses selalu untuk anda..

    1. Sebenernya rumus itu sangat mudah, bisa juga dibikin seperti ini
      Jumlah soal 50, si A siswa yg jawab benar 40 soal diberi nilai 80 dan si B siswa yg jawab benar 10 diberi nilai 20.
      Tinggal masing-masing ditambah 100 terus dibagi 2, nanti hasilnya siswa A mendapat nilai 90 dan si B mendapat nilai 60, selesai!

      Kalo belum puas, gampang aja masing-masing ditambah 200 terus dibagi 3. Nanti hasilnya si A dapet 93,3 dan si B dapet 73,3.

      It’s easy man!

  5. Terima kasih tipsnya….memang konversi nilai kadang perlu bagi sekolah yang input biasa dan atau ketika nilai jeblok (jatuh)….Semoga dapat bermanfaat agar nilai dapat lebih adil….

    1. Ini memang salah satu cara, dari sekian cara. Kita (guru) kadang tidak mau (termasuk saya), untuk memaksakan ketuntasan belajar, artinya tak tuntas maka tak lulus, bisa2 separo sekolah nggak lulus atau tak naik kelas, .. :) trims sdh berkunjung ..

  6. Menarik sekali bu jalan keluarnya, tapi apakah boleh diterapkan di US bersama sekolah sewilayah kalau sekolah lain tidak menggunakan sistem konversi? Sejauh apa ke-legal-an nya bu dimata diknas? maaf, Takut “dijewer’ pengawas… he..he…

    1. pertama, memang lebih baik bersifat internal. Supaya tak kebablasan, buat setiap semester peningkatan nilai terendah, maksudnya jika semester ini yg betul 10 dikasih nilai 5, semester depan harus lebih baik, misal betul 15 atau 20 dpt nilai 5. Sehingga suatu saat ketemu dgn nilai sebenarnya. Masa tiap semester jeblok trus :) .. Kalo pengawas di beri pengertian, tentu bapak2 itu akan mengerti. Jika memang tak harus membantu yang terendah, bisa aja di tinggal kelas. Misal dalam sbuah penilaian, terendah cuma menjawab betul 10 soal, lalu kita mematok nilai terendah yg betul 15, juga nggak masalah .. Begitu bu ya .. Sukses selalu utk anda

  7. wuh ini nih yang bikin pendidikan di indonesia jeblok, mana ada nilai dikonversi begitu juga saat ulangan mana ada ulangan open book

    1. Hehehe, nggak usah repot mas .. Kalo hasilnya baik nggak perlu konversi. Kita diskusikan aja kalo sampeyan punya solusi supaya jangan jeblok, hehe .. Jgn pakai anonim dong pak guru ..

  8. bisa menjadi salah satu cara terutama oleh petinggi pendidikan untuk “memperbaiki” nilai UN, sehingga siswa seluruhnya dapat “diluluskan”daripada pusing pusing karena soal atau jawaban bocor

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s