wpid-DSCF1962.jpg

Siti Fatimah binti Maimun, … (Kisah Perjalanan)

image

Alhamdulilah, musim liburan kali ini, saya berkesempatan berkunjung lagi ke tempat-tempat yang sekiranya memberi pengalaman dan pengetahuan, syukur-syukur bisa jadi oleh-oleh di dalam kelas. Bersama keluarga, saya berkunjung ke makam seorang perempuan, yang dibatu nisannya tertulis nama Fatimah binti Maimun, dengan kaligrafi Arab bergaya Kufi. Selain memuat nama sang putri, juga memuat tanggal wafatnya almarhumah, tgl  7 Rajab 475 Hijriah atau  2 Desember 1082 Masehi.  Makam berbentuk kubus dengan bentuk menyerupai rupa bentuk candi-candi yang tersebar di pulau Jawa. Terletak di desa Leran, Kecamatan Manyar, kota Gresik.
Berdasarkan, angka tahun yang tertulis pada batu nisan, maka ini merupakan salah satu sumber sejarah Islam tertua di nusantara. Berdasarkan sumber tertulis tertua yang menjadi bandingan, terdapat dalam sejarah Banten yang ditulis tahun 1662, disebutkan bawa seorang putri bernawa Putri Suwari yang di tunangkan dengan raja terakhir Majapahit. Jika benar adanya, maka putri Suwari memiliki peranan penting dalam perkembangan ajaran agama Islam. Paling tidak, abad ke 11 di pulau Jawa, khususnya Jawa Timur berkembang komunitas muslim. Berbagai macam legenda (folklore) berkembang tentang Fatimah, ada yang menyebut dari Kamboja (Champa), hal ini bisa jadi. Karena kaligrafi tulisan batu nisan dengan gaya kufi ditemukan juga di daerah Phanrang, Champa selatan. Ada juga yang menyebut dari Kedah, Malaysia dan masih merupakan dari keponakan Maulana Malik Ibrahim.
Nama putri Suwari juga disebut-sebut dalam jurnal perjalanan Moquete, yang pernah berkunjung ke Leran. Moquette menyebut bahwa putri Suwari punya hubungan dengan Maulana Malik Ibrahim (salah satu wali Songo), namun agak susah diterima kedua tokoh ini hidup sejaman, karena perbedaan penanggalan wafat keduanya berbeda 400 tahun.
Di dalam cungkup makam, makam Siti Fatimah binti Maimun berjejer dengan para putri lain yang diyakini sebagai dayang-dayang sang putri. Terdiri dari putri Keling, putri Kamboja dan putri Kucing.

image

image

Siapapun sang putri, merupakan bukti panjangnya proses penyebaran dan pengembangan ajaran agama Islam. Bermula dengan sistem pelayaran perdagangan hingga melalui perkawinan, jadi saluran proses Islamisasi. Hingga menjadi acuan akidah dan akhlak 90% persen lebih pendudukn Indonesia. Terlepas dari apapun setiap berkunjung ke makam siapapun, yang penting kita selalu ingat akan mati, sehingga kita akan meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita disertai do’a dan ucapan terima kasih kepada mereka yang telah memperjuangkan Islam, yang menjadi pegangan kita hingga hari akhir.
Surabaya, 2 Januari 2012

About these ads

2 comments

  1. dari makam Siti Fatimah Binti Maimun kita bisa mengetahui bahwa Islam sudah ada di negeri kita sejak 1000 tahun silam, ternyata sudah lama dan jauh sebelum kedatangan para wali…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s