Guru Masa Kini

Guru dalam Konsep Traditional Jawa (Dulu) dan Masa Kini

Dalam pandangan masyarakat Jawa tradisional, secara sosio-kultural guru merupakan suatu profesi yang terhormat. Hal ini terungkap dari kata “guru” yang dalam bahasa Jawa menurut kerata basa atau jarwa dhosok merupakan kependekan dari digugu lan ditiru (dianut dan dicontoh). Bertolak dari kerata basa itu, maka guru merupakan pribadi dan profesi yang dihormati dalam masyarakat Jawa tradisional. Mereka menjadi panutan dan contoh bagi masyarakat karena memiliki keahlian, kemampuan, dan perilaku yang pantas untuk dijadikan teladan. Oleh karena itu, untuk menjadi guru seseorang harus memenuhi sejumlah kriteria untuk memenuhi gambaran ideal dari masyarakat Jawa tradisional itu.

Pujangga Keraton Surakarta Raden Ngabehi Ranggawarsita dalam Wirid Hidayat Jati menuliskan delapan kelompok sosial yang pantas menjadi guru,

  1. bangsaning awirya (orang yang berkedudukan/ jabatan),
  2. bangsaning agama (para ulama ahli kitab),
  3. bangsaning atapa (para pendeta yang senang bertapa),
  4. bangsaning sujana (orang yang memiiki kelebihan dan menjadi orang baik),
  5. bangsaning aguna (para cerdik pandai yang memiliki keahlian tertentu),
  6. bangsaning prawira (prajurit yang masih memiliki ketenaran dalam olah keprajuritan),
  7. bangsaning supunya (orang kaya yang masih memiliki keberuntungan), dan
  8. bangsaning susatya (kaum petani yang rajin dan telaten).

Seorang guru harus memiliki kemampuan dalam delapan hal, yaitu:

(lebih…)