Di Banua kita Kalimantan Selatan umumnya dan Banjarmasin khususnya sudah ratusan tahun mengenal istilah “calap”, yaitu air sungai yang meluap saat air sungai pasang yang merendam daerah yang bukan merupakan daerah aliran sungai. Namun dalam beberapa tahun belakangan ini, “calap” agak berbeda dengan “calap-calap” beberapa tahun yang lalu. Di penghujung tahun 2008 ini, beberapa daerah kabupaten di Kalimantan Selatan tidak lagi mengalami “calap” namun sudah masuk dalam kategori banjir. Ironis memang, padahal sifat khas Kalimantan Selatan pada umumnya dan kota Banjarmasin khususnya dengan keadaan alam yang dialiri banyak jalur air. Sungai Barito dengan luas muaranya lebih dua kilometer dan panjangnya 900 km, merupakan salah satu sungai terbesar di muka bumi ini. Belum lagi dengan sungai ukuran sedang seperti Sungai Andai, Kuin, Alalak, Kalayan dan Pekapuran beserta anak-anak sungainya. Selain sungai yang terbentuk secara alami, “urang Banjar” juga mempunyai keahlian secara turun temurun selama ratusan tahun membuat daerah aliran sungai berupa kanal. Ada tiga kanal yang biasa dibuat oleh “urang Banjar” yaitu Anjir, Handil dan Saka (Bambang Subiyakto:2004). Kanal-kanal ini berfungsi sebagai irigasi pertanian juga untuk transportasi air.

Melihat paparan di atas sebenarnya hampir mustahil daerah Kalimantan Selatan mengalami kebanjiran. Namun kenyataan beberapa tahun belakangan ini banua kita mengalami kebanjiran. Ada beberapa sebab hingga hal ini bisa terjadi, Pertama; Pembangunan tidak berwawasan lingkungan. Ketidakmampuan pemerintah daerah untuk meneruskan ciri khas alam Kalimantan Selatan sebagai daerah dengan banyak aliran sungai. Anak-anak sungai terutama di Banjarmasin, banyak yang hilang berubah menjadi got. Hal ini tentunya berhubungan dengan konsep tata ruang pembangunan kota yang tidak berwawasan lingkungan.

Kedua; Perubahan Penggunaan Lahan. Beberapa tahun terakhir pembangunan pusat perbelanjaan, perumahan meningkat dengan pesat. Akibatnya banyak lahan-lahan yang beralih fungsi. Ini menyebabkan daerah resapan air menjadi berkurang dan ketika musim hujan tiba tanah tidak lagi mampu untuk meresap air dengan baik.

Ketiga; Mandek-nya Penegakkan hukum terhadap perusak dan pengotor lingkungan. Sebenarnya sudah ada berbagai peraturan daerah yang mengatur tentang lingkungan. Namun seringkali peraturan daerah ini tidak berjalan, akibatnya output yang ingin dihasilkan dari penyusunan perda ini juga tidak dapat terwujud. Sebagai contoh adalah larangan membuang sampah sembarangan, walaupun sudah banyak plang-plang yang dipasang mengenai larangan, ancaman denda dan kurungan terhadap para pembuang sampah sembarangan, tetap saja banyak masyarakat yang membuang sampah secara sembarangan, di selokan dan di sungai. Akibatnya adalah mayoritas sungai di Banjarmasin penuh sesak dengan sampah dan menjadi dangkal, sehingga ketika hujan tiba aliran air di sungai terhambat dan terjadilah banjir . Jika terhadap pelaku-pelaku pembuang sampah sembarangan saja hukum tidak tegak, apalagi terhadap perusahaan-perusahaan yang melanggar amdal, illegal logging, illegal minning, bangunan-bangunan mewah yang berdiri diatas saluran air, yang notabene mereka adalah pihak yang mempunyai kekuatan uang yang besar?. Contoh lain, hingga saat ini kita hanya mendengar aparat menangkap orang membawa kayu illegal, kenapa tidak mencegah dan menangkap orang yang menebang pohonnya.

Keempat; Faktor Alam, untuk yang satu ini sebenarnya sudah menjadi masalah yang mengglobal, perubahan iklim secara tak menentu terjadi secara signifikan terhadap alam ini. Curah hujan yang tinggi, juga merupakan salah satu faktor. Namun jika diruntut ulang, maka sadar dan tidak sadar manusialah perusak alam nomor satu, sehingga alam menunjukkan kemurkaannya dengan bencana-bencana yang tidak bisa diduga oleh manusia.

Solusi

Untuk mengatasi banjir di Kalimantan Selatan tidak akan dapat bila dilakukan oleh pemerintah daerah saja ataupun masyarakat saja. Perlu sinergi dan kerjasama antara elemen diatas untuk menghasilkan energi yang besar dalam menanggulangi banjir. Pemerintah kota/kabupaten harus lebih tegas dalam menegakkan regulasi yang ada , berkomitmen untuk melakukan pembangunan yang berwawasan lingkungan, serta meningkatkan program yang dapat meningkatkan kesadaran kolektif masyarakat terhadap pelestarian lingkungan. Sementara itu masyarakat juga harus menyadari tentang pentingnya pelestarian lingkungan hidup tidak hanya untuk kemaslahatan umum tetapi untuk kebaikannya sendiri.

Secara teknis bisa dilakukan antara lain, peningkatan kapasitas drainase. Kapasitas saluran drainase yang tidak memadai menyebabkan aliran sungai meluap dan menggenangi daerah sekitarnya. Salah satu cara untuk mengurangi terjadinya luapan banjir adalah dengan meningkatkan kapasitas saluran yang ada dengan upaya melarang bangunan di bantaran sungai dan melebarkan serta melancarkan saluran drainase.

Bukankah jika tidak ada banjir kita semua diuntungkan? Kita dapat beraktivitas dagang, bisnis, sekolah, kuliah dengan nyaman tanpa terhambat oleh gangguan banjir. Untuk itu marilah kita cintai lingkungan hidup. Tidak membuang sampah secara sembarangan mulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang terkecil dan mulai saat ini juga. Bila semua warga dapat melakukan hal ini, semoga kedepan kota akan terbebas dari masalah banjir

Iklan