Banyaknya spanduk iklan caleg dan calon DPD di berbagai daerah bikin mata agak tidak enak melihat pemandangan di dalam kota bahkan di pelosok pedesaan. Selain cara meletakkannya tidak teratur dan terkesan sesuka hatinya menarik spanduk tersebut.

Terlepas dari hal yang diatas, –bagi caleg yang membaca tulisan ini – bagi saya “nggak ngaruh” sama sekali. Selain hanya melihat gambar, saya tidak mengenal anda sama sekali. Calon legistif bagi saya minimal memiliki kriteria sebagai berikut :

1. Memiliki Buku “Pengantar Ilmu Politik” tulisan Miriam Budiardjo. Ini adalah buku baboon, artinya buku wajib setiap orang yang ingin berpolitik. Saya yakin seorang anggota DPR yang tidak pernah membaca buku ini, bibirnya akan “kelu” ketika bebicara dalam sidang-sidang DPR. Coba anda bayangkan betapa lucunya ketika seorang anggota DPR nggak ngerti misalnya tentang hak budget, hak inisiatif, masa reses, amandemen, dll. Jadi supaya jangan bikin malu, buruan beli bukunya di toko buku yang terdekat J
2. Keberartian diri, point yang kedua ini agak susah saya menguraikannya. Hemat saya sudah kah membuat diri anda berarti bagi lingkungan anda. Orang akan memilih anda secara langsung ketika anda sangat special bagi pemilih anda. Jika anda anggota dari salah satu organisasi massa tertentu misalnya maka yang akan memilih anda tentu dari organisasi massa tersebut. Pengamat politik menyebutnya dengan” kendaraan politik”. Bisa juga anda dari golongan agama, kesukuan, gender, kelompok, golongan dll. Singkat kata, bikin diri anda menjadi berarti bagi golongan atau kelompok tertentu lebih hebat jika anda cukup berarti bagi semua golongan. Contoh berikut adalah beberapa tokoh yang cukup berarti bagi saya. Alm Jendral M. Yusuf, menurut alm bapak saya ketika TNI (dulu ABRI) di pimpin beliau, beliau pertama yang membagikan susu dan kacang hijau gratis kepada setiap anggota ABRI hingga saya anak ABRI tumbuh sehat hingga sekarang, BJ. Habibie inilah presiden yang menaikkan gaji pegawai dan TNI cukup tinggi sehingga saat itu saya bisa beli sepeda motor untuk kuliah, banyak juga tokoh politik yang saya suka karena pemikirannya seperti Kwik Kian Gie (orang keturunan yang pemikirannya lebih Indonesia dari pada orang Indonesia asli). Marwah Daud Ibrahim (khas Bugis, keras, teguh pada pendirian) , Alm Sophan Sopian(nasionalis sejati), Amin Rais (Bapak reformasi), Priyo Budi Santoso (vokalis dari partai Golkar), dan beberapa tokoh yang saya lupa namanya. Jika anda tak seperti mereka yang saya sebutkan di atas maka saya tak akan memilih anda.
3. Kemampuan akademik, untuk yang satu ini sangat menguntungkan jika anda berasal dari akademisi atau kampus. Paling sederhana saya pernah membaca tulisan anda di koran, majalah, jurnal, wawancara di TV dan radio. Kita bisa melihat kemampuan pemikirannya dalam bentuk tulisan-tulisan. Saya tak mengharuskan anda orang yang harus pintar lalu menjadi anggota DPR. Tapi agak miris juga jika jadi anggota DPR tak pernah menulis di koran, jangan-jangan membaca saja tidak lancar. Saya tidak mau terjerumus dalam prasangka buruk. Kalau anda mau jadi anggota DPR, berarti anda cukup berani. Berarti separo dari keberanian anda adalah kepintaran anda.
4. Image Diri, kasian memang jika anda membangun image anda sebagai anggota DPR di rusak oleh kelakuan anda sendiri. Lihat di TV anggota DPR yang korup dan suka main perempuan. Orang tak akan memilih anda lagi. Hal ini juga akan berimbas pada partai yang akan mengusung anda. Orang akan berpikir bahwa jadi anggota DPR jalan untuk mencari kekayaan, kekuasaan dan wanita. Sungguh prilaku yang sangat tidak amanah.
5. Jadi sinterklas dadakan, untuk satu ini anda harus hati-hati dengan Panitia Pengawas Pemilu dan Komisi Pemilihan Umum, karena sudah dekat dengan politik uang. Jika anda jeli membaca situasi dan punya banyak uang, datang saja ke kampung-kampung silahkan kasih uang cash atau barang, jika tak mampu silahkan beri saja mereka dengan janji-janji. Hal ni cukup efektif terutam dari pelosok. Saya pun akan memilih anda jika jalan di depan rumah saya menjadi mulus, sederhana kan !. Tapi, ini sangat tidak fair, sepertinya DPR anda buat sebagai bahan perdagangan. Logikanya begini, jika anda ingin menjadi anggota DPR pakai modal tentu harapan anda modal akan balik kan ! Nah, lalu dimana semangat anda sebagai calon rakyat, ternyata tak lebih kepentingan ekonomis yang anda cari. Apakah ujung jalan dari pencalonan diri anda sebagai caleg hanya untuk kepentingan ekonomis ?? Jawab bozz sejujurnya…

Dibuat saat dalam kegalauan hati.

Iklan