Ilmu Pengetahuan Sosial, biasa disingkat IPS, adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan kajian ilmu dengan cakupan yang luas dalam berbagai lapangan meliputi perilaku dan interaksi manusia di masa kini dan masa lalu. IPS tidak memusatkan diri pada satu topik secara mendalam melainkan memberikan tinjauan yang luas terhadap masyarakat.

Karena sifatnya yang berupa penyederhanaan dari ilmu-ilmu sosial, di Indonesia IPS dijadikan sebagai mata pelajaran untuk siswa sekolah dasar (SD/MI), dan sekolah menengah tingkat pertama (SMP/MTs). Sedangkan untuk tingkat di atasnya, mulai dari sekolah menengah tingkat atas (SMA/MA) dan perguruan tinggi, ilmu sosial dipelajari berdasarkan cabang-cabang dalam ilmu tersebut khususnya jurusan atau fakultas yang memfokuskan diri dalam mempelajari hal tersebut.

Tantangan utama yang dihadapi oleh guru mata pelajaran IPS ditingkat pendidikan dasar, terutama di tingkat SMP/MTs adalah kemampuan untuk memadukan semua kajian ilmu yang ada dalam IPS. Secara umum materi pembelajaran IPS pada tingkat satuan SMP/MTs meliputi Sejarah, Ekonomi, Geografi, Antropologi, dan Sosiologi. Jika dalam kurikulum 2004 dan KBK, mata pelajaran IPS masih dipisah dalam penyajian pembelajarannya kepada siswa, namun sejak KTSP diterapkan pembelajaran IPS disajikan oleh hanya satu orang guru tanpa memperdulikan asal jurusan guru yang bersangkutan. Artinya jika gurunya kuliah jurusan pendidikan sejarah, maka siap-siap juga untuk mengajar materi IPS yang lain,seperti ekonomi, geografi, antropologi dan sosiologi.

Namun lebih daripada itu, bukan saja guru harus menambah wawasan ilmu pengetahuan yang tidak didapatnya waktu kuliah. Guru juga harus mempunyai kemampuan mengembangkan materi pembelajaran secara terpadu, maksudnya setiap pembelajaran yang diberikan harus ada kandungan semua ilmu pengetahuan yang ada dalam IPS. Misalnya, jika membahas sebuah materi, maka dalam materi tersebut ada materi sejarah-nya, ekonomi-nya, sosiologi-nya dan Geografi-nya. Menurut Dr. Porda dari FKIP Unlam, minimal ada 3 materi IPS yang dipadukan dalam satu materi pelajaran.

Sungguh, guru IPS pada tingkat satuan pendidikan SMP/MTs harus melakukan usaha secara sadar untuk mengembangkan kompetensinya. Satu kajian ilmu seperti sejarah saja, memiliki kajian ilmu yang sangat luas apalagi jika harus menguasai materi lain. Menurut saya, bahkan juga mungkin menurut anda, guru dalam memberi pelajaran, materi pembelajaran-nya tidak bisa hanya mengandalkan buku teks/paket apalagi hanya sekedar LKS saja. Sebagai seorang guru dengan latar belakang pendidikan sejarah, saya agak sulit ketika mendapat pertanyaan kritis dari siswa, misalnya pertanyaan kenapa terjadi gempa bumi (geografi), kenapa setiap permintaan banyak maka harga akan naik (ekonomi). Jika tidak banyak referensi dan bahan bacaan, tidak akan banyak materi secara mendalam yang bisa didapat oleh siswa.

Tantangan akan semakin berat, jika terjadi miss macth atau salah kamar. Artinya guru mengajar bukan jurusan pada waktu guru-nya kuliah. Hal ini dialami oleh semua mata pelajaran tidak saja mata pelajaran IPS, yang paling banyak terdapat di madrasah di bawah lingkungan Kementrian Agama. Namun sudah mulai diperbaiki oleh Kementrian Agama dengan program missmacth yaitu dengan mengadakan pendidikan bagi guru yang salah kamar di beberapa universitas terkemuka di Indonesia.

Demikian yang bisa saya sharing dan tulis seadanya (maklum boleh dibilang saya masih belajar dalam hal yang beginian), mudahan bermanfaat. Tantangannya akan berlanjut tentang Tantangan Guru IPS dalam menyajikan pembelajaran, jadi stay tune dan jangan kemana-mana setelah pesan berikut ini.:) πŸ™‚

Iklan