Pengalaman hari pertama menjadi pengawas Ujian Nasional tingkat SMP/MTs begitu menggoda selanjutnya terserah anda ( korban iklan πŸ™‚ ) . Tak ada yang baru dalam pelaksanaan UN tahun ini, ketakutan sebagian guru tentang kesalahan pengisian data pribadi siswa dalam Lembar Jawaban Ujian Nasional jadi kenyataan,  ada saja beberapa siswa yang masih salah dalam pengisian Lembar jawaban komputer tersebut.

Pentingnya adaptasi sejak awal siswa menggunakan lembar jawaban seperti bentuk lembar jawaban Ujian Nasional, seperti yang dilakukan di sekolah kami, sejak awal dalam ujian semester kelas VII sudah menerapkan lembar jawaban yang berbentuk mirip seperti lembar jawaban Ujian Nasional (lihat postingan saya Lembar Jawaban Komputer sederhana dengan Microsoft Excel klik disini).

Hari pertama Ujian Nasional yang saya awasi tenang-tenang saja, aman, tertib dan terkendali. Namun isu kebocoran soal yang didapat melalui SMS tiap tahun selalu ada saja, entah benar atau tidak  saya tidak berani untuk berkomentar. Jika benar ada bocoran soal,harus di usut tuntas berasal dari mana ? dan siapa pembocornya. Sekolah/madrasah saya nilai justru sebagai korbannya. Karena menurut isu beberapa tahun lalu, sms bocoran soal beredar entah dari mana asalnya, namun tahun ini sepertinya belum ada berita isu seperti tahun lalu.

namun terus terang saya termasuk yang menentang pelaksanaan UN, ada idiom selama ini diantara para guru yang sebenarnya sangat salah kaprah, yaitu bahwa siswa harus dibantu supaya lulus,karena jika tidak dibantu dan tidak lulus maka sekolah/madrasah akan disebut sebagai sekolah yang gagal dalam mendidik siswanya. Paradigma seperti ini sebenarnya sangat menyesatkan, Pertama, Mata pelajaran yang di Ujikan hanya 4 mata pelajaran di UN bukan berarti jika Matematika saja tidak lulus lalu kita disebut gagal dalam mendidik siswa,terlalu naif .Karena ada lebih dari 15 matap pelajaran yang ada di SMP/MTs. Kedua, jikalau gagal juga apa salahnya untuk diperbaiki dimasa yang akan datang dan jadi PR bagi guru dan komunitas sekolah meningkatkan kinerjanya serta instansi yang terkait bisa meningkatkan sarana dan prasarana sekolah/madrasah untuk memberikan  pelayanan kepada siswa. Ketiga, ada idiom hanya sekolah/madrasah yang berhasil yang akan diberi program/proyek oleh instansi terkait,  hal ini padahal justru terbalik sekolah yang sedikit meluluskan siswanya yang segera harus dibantu. Logikanya justru terbalik lagi, sekolah/madrasah yang ada dipinggiran justru persentase kelulusannya lebih tinggi dari sekolah yang ada diperkotaan, (ini tambah aneh lagi !). Hingga pendidikan di Indonesia jadinya seperti benang kusut, dan saya malah tambah bingung,lalu postingannya jadi tambah ngawur. Oleh sebab itu saya sudahi saja postingan ini, sambil berharap dikemudian hari bisa menjadi yang lebih baik.

Iklan