Guru Oemar Bakrie

Secara umum tugas pokok guru adalah menyusun program pengajaran, menyajikan program pengajaran, evaluasi hasil belajar, analisis hasil evaluasi belajar, serta menyusun program perbaikan dan pengajaran terhadap peserta didik yang menjadi tanggung jawabnya. Dengan tugas itu, maka guru mempunyai tanggung jawab untuk menyelesaikan tugas sebagai tenaga pengajar atau pembimbing yang dibebankan kepadanya sesuai dengan tujuan pendidikan. Dengan tanggung jawabnya itu guru mempunyai wewenang untuk memilih dan menentukan motede kerja untuk mencapai hasil pendidikan yang optimal dalam melaksanakan tugas pekerjaannya dengan sebaik-baiknya sesuai dengan kode etik guru.

Dalam dunia pendidikan, keberadaan tugas, tanggung jawab dan wewenang guru merupakan salah satu faktor yang ‎sangat signifikan karena guru merupakan kunci keberhasilan pendidikan dimana inti dari kegiatan ‎pendidikan tersebut adalah belajar mengajar yang memerlukan peran dari guru di dalamnya. Guru ‎lebih sering diposisikan sebagai pihak yang paling bertanggung jawab terhadap anak dalam ‎proses pendidikan secara global, sesudah orang tua dari anak didik.  Oleh karena itu, hampir ‎semua perilaku guru akan menjadi panutan bagi anak didiknya.  Posisi ini tentunya menempatkan ‎guru sebagai sebuah profesi yang sangat strategis dalam pembentukan dan pemberdayaan ‎penerus bangsa serta memiliki peran dan fungsi yang tetap signifikan di masa yang akan datang.

Keberhasilan pendidikan sebenarnya tidak saja didominasi oleh peran guru untuk memberikan sumbangan terbesar terhadap prestasi belajar ‎siswa, tapi faktor lain seperti manajemen sekolah, kurikulum, waktu ‎belajar, sarana fisik dan lain-lainlain. jika ingin menyukseskan bidang pendidikan, faktor guru mesti menjadi salah satu perhatian ‎serius, namun justru hal itulah yang kelihatannya menjadi kendala utama kita bahwa mutu guru di ‎negeri ini secara umum masih rendah. Kita tidak bisa menghindari bahwa banyak guru di ‎Indonesia tidak memiliki kualitas sesuai standarisasi pendidikan nasional.

Rendahnya mutu guru dapat terlihat dari berbagai indikator ‎yang ditunjukkan oleh para guru kita yaitu (i) lemahnya penguasaan bahan yang diajarkan, (ii) ‎ketidaksesuaian antara bidang studi yang dipelajari guru dan yang diajarkan, (iii) kurang efektifnya ‎cara pengajaran, (iv) kurangnya wibawa guru di hadapan murid, (v)  lemahnya motivasi dan ‎dedikasi untuk menjadi pendidik yang sungguh-sungguh, karena diyakini banyak guru yang ‎menjadi guru karena bukan karena betul-betul menjadi guru, (vi) kurangnya kematangan ‎emosional, kemandirian berpikir, dan keteguhan sikap sehingga dari kepribadian mereka ‎sebenarnya tidak siap sebagai pendidik; akibatnya hubungan guru dan murid masih hanya ‎berfungsi sebagai pengajar dan belum sebagai pendidik, dan (vii) relatif rendahnya tingkat ‎intelektual para calon guru yang masuk Lembaga Pengadaan Tenaga Kependidikan.

Profesionalisme

Untuk meningkatkan keberhasilan pendidikan yang tidak lain adalah meningkatkan mutu ‎pendidikan secara keseluruhan, langkah utama yang mau tidak mau harus dilakukan adalah ‎meningkatkan mutu guru yang diartikan sebagai upaya mewujudkan profesionalisme ‎guru.  Memang betul bahwa pemerintah telah menyadari pentingnya profesionalisme guru dan ‎telah ada upaya untuk meningkatkannya yang antara lain ditunjukkan dengan adanya undang-‎undang guru dan dosen dan adanya kebijakan pemerintah melalui sertifikasi guru.

Namun sertifikasi guru, dikhawatirkan terkontaminasi dengan pemahaman melulu untuk peningkatan ‎kesejahteraan guru. Banyak guru berlomba-lomba ikut seminar, workshop, pelatihan secara sukarela  dengan biaya sendiri, demi mendapatkan sertifikat. Padahal, diyakini sertifikasi guru ditujukan untuk menunjukkan jati diri guru ‎profesional. Pertanyaannya, setelah program sertifikasi guru profesional dan dapat uangnya, berapa persentase ‎peningkatan jumlah guru yang berupaya meningkatkan kompetensi profesionalitasnya? Guru bahasa Inggris yang fasih berbahasa Inggris. Guru matematika yang mampu memberikan ‎ragam pembelajaran yang kreatif dan inovatif. Guru sains dan teknologi yang mau dan mampu ‎mengikuti perkembangan iptek melalui dunia digital. Guru bahasa Indonesia yang fasih menggunakan bahasa Indonesia dalam mengajar dan  mampu ‎memahami serta menerapkan ragam seni sastra dalam khasanah pembelajarannya, dan seterusnya.‎‎

Rendahnya kesejahteraan guru, yakin atau tidak yakin adalah salah satu pembuat rendahnya mutu dan profesionalisme guru. Pernah mendengar lirik lagu seperti ini. “Omar Bakri, Omar Bakri, Pegawai Negeri, Empat puluh tahun mengabdi Jadi Guru, jujur berbakti Memang makan hati”. Itu penggalan syair lagu Iwan Fals tentang cerita satir seorang guru yang jujur mengabdi sebagai ‎pegawai negeri yang banyak menghasilkan tokoh sekelas Habibie tetapi kondisi mereka sungguh-‎sungguh sangat tidak sepadan dengan pengabdiannya. Sebentuk apresiasi diberikan hanya lewat ‎julukan “Guru, Pahlawan tanpa tanda jasa”. Lebih dari itu, tidak ada. Sebagian besar guru, terutama ‎di pedesaan, hidup sangat tidak layak. Sebagian lainnya, guru-guru kita “nyambi” dengan berbagai jenis pekerjaan tambahan seperti ‎bertani, tukang ojek bahkan pemulung. Mereka tidak mampu sekedar membeli buku untuk ‎meningkatkan kualitas keilmuan mereka. Kalau tidak nyambi, guru-guru kita bahkan tidak bisa hidup ‎selama tiga puluh hari dalam sebulan.

Angin segar memang mulai meniup dunia pendidikan kita ketika Amanat konstitusi yang memerintahkan alokasi APBN sebesar 20 persen untuk penyelenggaraan ‎pendidikan telah dicanangkan oleh pemerintah untuk tahun anggaran 2009. Alokasi anggaran pendidikan pada APBN ‎‎2009 akan mencapai 200-an triliun, meningkat 100 persen dibandingkan alokasi sebelumnya. ‎ Yang segera harus dipersiapkan secara cepat dan tepat ialah mendisain peruntukan anggaran ‎pendidikan sebesar lebih dari Rp 200 trilun itu. Peruntukannya haruslah optimal. Yang paling ‎mendesak ialah memberikan gaji dan tunjangan yang lebih layak terhadap guru sebagai perangkat ‎lunak penyelenggaraan pendidikan. Selain hal itu akan berkontribusi bagi peningkatan kesejahteraan ‎rakyat secara nasional, perbaikan gaji dan tunjangan guru diharapkan akan memperbaiki kualitas ‎proses pendidikan itu sendiri. Esensinya ialah, guru harus mampu membiayai hidupnya tiga puluh ‎hari dalam sebulan dengan jumlah anggota keluarga lima orang. Tanpa harus nyambi. Mereka juga ‎harus memiliki asuransi kesehatan yang layak. Mampu membeli buku paling tidak satu buku dalam ‎sebulan, mampu langganan koran, biaya koneksi internet serta memiliki kesempatan mengikuti kursus-kursus singkat dan aktifitas peningkatan ‎pembelajaran lainnya, baik yang pemerkayaan kelimuan dasar maupun peningkatan perspektif ‎know-how lainnya.‎  Sehingga para guru nantinya dalam mendidik dan ‎mengajar siswa untuk selalu menggunakan knowing, understanding, dan wisdom serta selalu ‎menggunakan nalar, naluri, dan nurani secara bersamaan.

Di penutup ini,  para guru dan saya sendiri, mungkin perlu menyimak kata bijak yang berbunyi. “belajar dari guru yang berhenti belajar sama dengan minum dari ‎sumber air kotor, sedangkan belajar dari guru yang terus belajar seperti minum dari sumber air ‎jernih yang menyegarkan”, atau petuah lain yang berbunyi “guru yang pandai, pada suatu ketika ‎akan menjadi lebih bodoh dari muridnya, sedangkan guru yang bodoh, kapan pun juga di dalam ‎perjalanan hidupnya akan tetap saja lebih pandai dari muridnya”.  Kita juga perlu mengingat ‎pepatah lama yang sampai sekarang masih relevan walaupun sering diplesetkan orang, yaitu “guru ‎kencing berdiri, murid kencing berlari”.   Jadikan hal tersebut sebagai dasar untuk menjadi guru yang lebih baik dan pemerintah lebih memperhatikan pendidikan dan guru.

* Dari Beberapa Sumber Online yang saya lupa nama dan alamat webnya, mohon maaf jika copy paste ini tanpa seizin penulisnya, karena ringkasan tulisan di atas saya buat beberapa tahun yang lalu.

Social Bookmarks
Yunizar in MyyearbookYunizar in My SpaceYunizar in TwitterYunizar in LinkedinYunizar in VoxYunizar in multiplyYunizar in Hi5Yunizar in FBYunizar in JaikuYunizar in Yahoo MemeYunizar in TumblrYunizar in TwitterYunizar in LinkedinYunizar in LinkedinYunizar in LinkedinYunizar in LinkedinYunizar in TwitterYunizar in TwitterYunizar in Twitter

Iklan