Sekapur Sirih

Wajar saja UN menuai kontroversi dan banyak digugat oleh pengamat dan ahli pendidikan. Cerita-cerita mulai dari ingin bunuh diri, siswa dan orang tua mengamuk di sekolah sampai proses ujiannya yang ditengarai masih ada kecurangan. Seseorang mengaku kepada saya, dan –maaf ini bukan murid saya–, bahwa sehari sebelum ujian mereka sudah dapat bocoran soal dari SMS .. menurut yang bercerita kepada saya, malah ada dua jenis kunci yang pertama jika memakai kunci yang satu nilainya 9,00 sedang kunci yang satunya 8,00. Hahahaha.. tantangan nih.. Mafioso Pendidikan harus di bongkar. Isu kebocoran soal tiap tahun selalu ada saja, namun tak ada satupun yang diproses oleh hukum. Jika ingin kenapa tidak melacak SMS-SMS itu, padahal kegiatan pencurangan itu termasuk kegiatan subversif (mengancam negara) karena membocorkan rahasia negara. Susahnya membongkar kegiatan mafia dalam pendidikan ini, padahal sudah berlangsung bertahun-tahun (malah sejak saya SMA tahun 1989-1992).Atau mungkin, nggak mau  susah kalee..


Berikut kumpulan cerita-cerita seputar pengumuman kelulusan UN 2010 tinfkat SMP/MTs

Anak tidak Lulus UN, Bapak Pecahkan Kaca Sekolah

SOLO–MI: Tuyono, warga Randubang, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, Jumat (7/5), marah dan memecahkan kaca ruang kelas Sekolah Menengah Pertama (SMP) Pancasila 1, karena kecewa putrinya tidak luluis ujian nasional.

Peristiwa terjadi sesaat setelah pengumuman hasil ujian nasional (UN) yang dibagikan sekolah melalui aplop tertutup itu dibuka oleh para orang tua.

Amuk sesaat Tuyono membuat putrinya, Sri Andriyanti, yang tidak lulus UN makin malu dan shock di ruang panitia UN. Gadis itu bahkan tidak berani pulang.

Informasi yang diperoleh menyebutkan, sebelum memukul kaca kelas, Tuyono menerima aplop pengumuman hasil UN. Tetapi, seketika wajahnya berubah setelah membuka amplop dan ternyata putrinya dinyatakan tidak lulus.

Saat berjalan keluar sekolah, Tuyono tiba-tiba menghampiri jendela kaca ruangan panitia UN, dan tangan langsung menghantam kaca hingga hancur berkeping-keping. Bunyi pecahan kaca membuat orang yang berada di dalam ruang itu panik dan menjerit-jerit. Ternyata salah seorang yang menjerit karena shock itu adalah Sri.

Sementara itu Tuyono terus melenggang keluar halaman sekolah dengan tangan luka akibat tergores pecahan kaca. Ia berusaha menghentikan pendarahan di tanganya dengan melepas baju dan menggunakannya sebagai pembalut.

Sementara, Sri yang ketakutan melihat kemarahan ayahnya yang merusak sekolah, berusaha ditenangkan sejumlah guru dan temannya. Siswi yang tidak beruntung dalam UN 2010 ini mengaku takut pulang, sehingga kemudian diantar oleh guru dan polisi yang sengaja dipanggil untuk menenangkannya selama perjalanan hingga tiba di rumah.

Selain Sri, sebenarnya ada 36 siswa lain yang juga mengalami nasib sama, tidak lulus UN. Di SMP Pancasila I Wonogiri ada 46 peserta UN, sedangkan yang lulus hanya sembilan orang. Mereka yang tidak lulus bisa mengikuti ujian ulang pada 17- 20 Mei mendatang. (WJ/OL-01)

Sumber Berita : www.mediaindonesia.com

Prestasi UN Bagus, Fitriyan Ditelepon Presiden

KEBUMEN–MI: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menelepon Fitriyan Dwi Rahayu, siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 Karanganyar, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah (Jateng), secara khusus karena siswa itu berprestasi.

Warga Desa Jatiluhur, Kecamatan Karanganyar itu adalah salah satu siswa dari lima siswa yang memiliki nilai tertinggi ujian nasional (UN) dengan rata-rata 9,95.

Dalam telepon kepada Fitriyan dan Kepala SMPN 1 Karanganyar, presiden menyatakan kebangaannya. “Saya bangga terhadap Riyan yang telah mendapatkan medali emas. Riyan adalah satu siswa dari Jateng. Yang lainnya adalah tiga siswa dari Bali dan satu lagi dari Jatim (Jawa Timur),” kata Presiden yang menelepon dari kediaman di Puri Cikeas, Gunung Putri, Bogor, Jawa Barat, didampingi Ibu Ani Yudhoyono dan sejumlah menteri, Sabtu (8/5).

Presiden juga bertanya kepada Kepala SMPN 1 Karanganyar Suparmin mengenai metode pengajaran di sekolah tersebut. Presiden menyambut baik mengenai metode yang diterapkan oleh sekolah setempat. “Baik, cara belajar yang diterapkan oleh SMP Negeri 1 Karanganyar sudah baik, apalagi ada tambahan pelajaran,” kata Presiden.

Presiden berjanji akan memberikan hadiah kepada sekolah karena telah melahirkan siswa berprestasi secara nasional. (LD/OL-1)

Sumber Berita : www.mediaindonesia.com

Hasil UN Jeblok, Bupati Sragen dan Wali Kota Pekalongan Terpukul

SEMARANG–MI: Anggaran besar di bidang pendidikan belum menjamin keberhasilan peningkatan mutu sekolah. Buktinya, hasil ujian nasional (UN) jeblok. Ini menjadi pukulan bagi para kepala daerah.

Keterangan yang dihimpun Media Indonesia, Sabtu (8/5), akibat hasil ujian nasional (UN) tingkat SLTA dan yang baru saja diumumkan tingkat SMP jeblok, para kepala daerah mengaku terpukul. Padahal anggaran pendidikan telah meningat hingga di atas 20 persen. Artinya, anggaran besar belum menjamin keberhasilan bidang pendididkan.

“Saya syok setelah mengetahui hasil pengumuman UN tingkat SMP ini. Dari 14.200 peserta UN di daerah saya, 500 siswa tak lulus,” kata Bupati Sragen Untung Wiyono.

Meskipun persentase kelulusan paling berhasil di Jateng, demikian Untung, namun dibanding tahun lalu, ini adalah hasil paling jeblok. Soalnya, tahun lalu hanya delapan siswa tak lulus UN. Padahal, dari segi anggaran pendidikan lebih besar di atas 20 persen.

Tanpa menyebutkan nilainya, Untung Wiyono mengatakan anggaran yang besar tersebut banyak digunakan untuk peningkatan fasilitas sekolah dan program pendidikan. Karenanya, di Sragen saat ini tak ada anak usia sekolah yang tak terjaring. Semua diberikan pendidikan secara gratis.

Wali Kota Pekalongan Basyir Achmad mengatakan meskipun angka kelulusan cukup tinggi hingga di atas 95 persen dari 12.000 peserta, namun banyaknya siswa tak lulus ujian cukup menjadi pukulan bagi para kepala daerah. Apalagi, Pemkot Pekalongan menganggarkan hingga 36 persen atau di atas Rp85 miliar untuk pendidikan.

“Kami telah berjuang habis-habisan, bahkan memberi anggaran besar. Tapi hasilnya masih buruk, sehingga kita malu pada rakyat,” kata Basyir.

Besarnya anggaran yang diturunkan, demikian Basyir, pada tahun lalu banyak digunakan untuk biaya pegawai, meningkatkan fasilitas sekolah, dan mengentaskan wajib belajar. Maklum, Pekalongan telah memberikan sekolah gratis hingga bangku SLTA.

Ditanya tentang UN ke depan, baik Untung Wiyono maupun Basyir Achmad mengatakan bahwa tetap baik dilanjutkan untuk menguji kemampuan hasil lulusan. Namun, pelaksanaannya tidak lagi sentralisasi, tetapi lebih pada rayonisasi, seperti tingkat provinsi atau kabupaten/kota. (AS/OL-04)

Sumber berita : www.mediaindonesia.com

Mendiknas : Tingkat Kelulusan UN SMP 90,27 Persen

Tingkat kelulusan Ujian Nasional (UN) SMP/MTs/SMPT 2010 turun 4,78 persen dibanding tahun 2009 presentasinya mencapai 95,05 persen, sementara tahun ini turun menjadi 90,27 persen atau ada sekitar 350.798 siswa yang dinyatakan harus mengulang UN pada 17-20 Mei mendatang. “Penurunan hasil kelulusan UN SMP yang cukup signifikan tahun ini karena beberapa faktor, di antaranya pengawasan yang lebih ketat dan tingginya tingkat kejujuran di masing-masing daerah,” kata Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh dalam jumpa pers hasil Ujian Nasional (UN) tingkat SMP/SMP Terbuka dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) SMP/SMPT/MTs di Jakarta, Kamis (6/5).

Lebih lanjut Nuh mengatakan, bila dilihat dari jumlah sekolah yang tahun ini dinyatakan memiliki hasil kelulusan nol persen terdapat 561 sekolah di seluruh Indonesia dengan jumlah siswa mengulang sebanyak 9.283 siswa (0,26 persen) dari total peserta 3.605.163 siswa. “Sekolah yang terbanyak angka ketidaklulusannya, antara lain di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sebesar 39,87 persen dan Propinsi Gorontalo sebesar 38,80 persen sedangkan angka ketidaklulusan terendah di Propinsi Bali yakni 1,4 persen,” kata Mendiknas.

Namun, ia meminta agar pihak sekolah, guru, orang tua dan Siswa tidak terlalu panik menghadapi ketidaklulusan di UN utama, karena masih ada ada UN ulangan. “Kita masih tunggu hasil yang sesunguhnya paling lama sebulan setelah UN ulangan selesai. Pada 20 Juni baru ada hasil yang pasti. Kalau kita semua tenang, hasilnya saya yakin lebih baik karena siswa yang mengulang bisa lulus,” katanya

Dari 350.798 siswa yang harus mengulang ada 12,19 persen yang harus mengulang 4 mata pelajaran yang diujikan. Adapun mata pelajaran yang diujikan yakni Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika dan IPA. Sementara 21,19 persen yang mengulang satu mata pelajaran.

Di sisi sekolah, mendiknas menyebutkan, ada 516 sekolah yang memiliki tingkat kelulusan nol persen atau seluruh siswanya tidak lulus UN utama. Sementara yang lulus 100 persen atau semua siswanya lulus ada 17.852 sekolah atau 41 persen dari 43.666 SMP yang ikut UN utama.

Mendiknas mengatakan, dominasi ketidaklulusan masih dipegang beberapa provinsi seperti Nusa Tenggara Timur (NTT) sebesar 39,87 persen, Gorontalo 38,80 persen, Babel 34,69 persen, Kalimantan Timur 29,44 persen, DKI 28,97 persen, Kalimantan Barat 27,49 persen, Bengkulu 24,03 persen, DIY 21,98 persen, Sulawesi Tenggara 20,30 persen, Kepulauan Riau 18,79 persen, Kalimantan Tengah 17,22 persen dan Maluku Utara 15,16 persen. Sementara yang paling rendah tingkat ketidaklulusannya adalah Bali 1,40 persen, Sumatera Selatan 1,49 persen, Jawa Barat 2,41 persen , Sulut 2,62, Sumatera Utara 2,83 dan Banten 3,57 persen.

Terkait tindakan yang akan dilakukan terhadap sekolah-sekolah yang memiliki angka kelulusan rendah, Mohammad Nuh mengatakan, pemerintah akan melakukan intervensi kebijakan terhadap sekolah yang angka kelulusannya nol persen ini. “Kami akan meneliti kekurangan dari masing-masing sekolah. Intervensi diberikan sesuai kebutuhan. Kami belum tahu apa kekurangan masing-masing sekolah, apakah kesulitan mendapat guru bermutu, buku atau fasilitas pendidikan lainnya. Setelah jelas, baru kita lakukan intervensi kebijakan sesuai dengan kebutuhan,” ujarnya. (Ant)

Sumber Berita : www.tvone.co.id

Mendiknas Jamin Lulusan Paket C diterima disemua Instansi

Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) telah menyampaikan surat edaran kepada semua instansi, bahwa Paket C merupakan pendidikan yang berkompetensi dan statusnya sama dengan pendidikan formal, kata Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Maluku, Salim Kairoty.

“UU No. 20 tahun 203 tentang Sistem Pendidikan Nasional mengamanatkan, bahwa pendidikan formal dan nonformal merupakan sistem pendidikan nasional sehingga keduanya harus dipandang sejajar,” katanya di Ambon, Rabu (5/5).

Dia mengatakan, sebagian instansi yang tidak menerima lulusan Paket C mungkin beranggapan pendidikan nonformal tidak berkompetensi. Padahal baik pendidikan formal atau nonformal, keduanya dikendalikan oleh mutu. “Sistem pendidikannya sama dan ujian juga menggunakan pola komputerisasi, hanya saja waktu belajar nonformal lebih singkat,” jelasnya.

Dikatakan, setiap orang berhak untuk mendapatkan pendidikan. Tetapi dalam implementasinya jalur yang ditempuh berbeda, melalui formal dan nonformal. Sehingga para lulusan pendidikan nonformal, juga berhak diterima di semua Perguruan Tinggi atau bekerja di instansi-instansi pemerintah . “Saya sudah menyurati instansi-instansi pemerintah di daerah ini terkait jalur pendidikan non formal Paket C, karena lulusannya harus mendapat kesempatan yang sama dalam memperoleh pekerjaan,” kata Salim Kairoty.

Pusat Belajar Masyarakat

Sementara itu, salah satu lembaga pendidikan nonformal, yakni Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Makmur Jaya, Desa Taman Makmur, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon, merencanakan metode pembelajaran melalui internet kepada peserta didiknya untuk meningkatkan mutu pendidikan.

Metode tersebut akan diterapkan pada tahun ajaran baru 2010 kepada peserta didik yang merupakan anak putus sekolah dalam kelompok belajar Paket B dan C dan saat ini program pembelajarannya sedang disiapkan. “Kami mendesain model pembelajaran kepada peserta didik menggunakan fasilitas internet agar mereka dapat mengikuti perkembangan teknologi,” kata Jati, Pengelola PKBM Makmur Jaya, beberapa waktu lalu.

Makmur Jaya merupakan PKBM terbaik di Kota Ambon karena memiliki sarana pembelajaran yang lengkap, antara lain ruang belajar untuk Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Paket A, B Dan C, perpustakaan dan fasilitas komputer. Selain itu, ada pula kegiatan kursus menjahit, elektro, komputer, pertukangan kayu, kreasi bunga dan usaha mandiri Koperasi Serba Usaha serta Taman Bacaan Masyarakat. (ant)

Sumber Berita : www.tvone.co.id

Juara UN SMP Ini Putri Bakul Nasi Lawar

DENPASAR, KOMPAS.com Kesulitan ekonomi bukan alasan untuk tidak berprestasi. Semangat itu pula yang jadi pemacu perjuangan Ni Kadek Indra Puspayanti, siswi SMP Negeri 1 Abiansemal, Kabupaten Badung, Bali, yang menjadi lulusan terbaik dalam Ujian Nasional SMP 2010 ini.

Tinggal di sebuah desa terpencil, Banjar Tengah Blahkiuh, Abiansemal, Badung, kedua orangtua Kadek sehari-harinya hanyalah pedagang nasi lawar atau nasi campur khas Bali. Namun, hal itu tak menyurutkan semangat Kadek untuk belajar giat guna meraih hasil terbaik di UN SMP.

“Persiapan saya menghadapi ujian sudah sejak semester dua atau enam bulan lalu. Selain latihan soal ujian tahun lalu, guru-guru juga banyak yang membimbing,” ujar putri pasangan I Nyoman Sukerta dan Ni Putu Jagriani ini kepada Presiden SBY saat telewicara, Sabtu (8/5/2010) siang.

Usahanya tak sia-sia. Setelah mendengar hasil kelulusan UN SMP, Kadek dinobatkan sebagai siswa lulusan terbaik bersama Ni Made Yuli Lestari, siswa SMP Negeri 1 Gianyar, dengan nilai 39,80.

Anak kedua dari tiga bersaudara ini berencana meneruskan sekolah ke SMA Negeri 1 Kuta Utara. Saat ditanya cita-citanya, ia mengaku ingin jadi polisi, bukan presiden, dokter, atau profesor. “Mau jadi polisi, soalnya bisa memberantas kejahatan,” ujarnya polos.

Meski tidak mendapat penghargaan khusus atas prestasinya ini, Kadek mengaku cukup senang sudah bisa berbicara dengan Presiden SBY kendati hanya melalui telewicara menggunakan telepon.

Sumber berita : www.kompas.com

Siswi SMP Ungguli Bahasa Inggris SBY

KEBUMEN, KOMPAS.com – Fitriyan Dwi Rahayu (14), siswi SMP Negeri 1 Karanganyar, Kabupaten Kebumen, menjadi satu dari lima siswa dengan nilai ujian nasional tertinggi secara nasional.
Bahasa Inggris 9,8 itu lebih baik dibandingkan Bahasa Inggrisnya Pak SBY.

Fitriyan seperti anak desa kebanyakan dari kampung Jatiluhur, Kecamatan Karanganyar, Kebumen yang jauh dari keramaian kota dan fasilitas pendidikan mewah. Melalui telepon pada Sabtu (8/5/2010), Fitriyan memperoleh ucapan selamat dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang sedang di kediamannya, Puri Cikeas, Bogor.

Dengan didampingi orangtua dan guru, Fitriyan memberitahukan kepada Presiden bahwa nilai rata-rata UN-nya mencapai 9,95, dengan rincian nilai 10 untuk Matematika, IPA, dan Bahasa Indonesia, serta nilai 9,8 untuk Bahasa Inggris.

Presiden pun menyambut suka cita mengetahui tingginya nilai UN yang diperoleh Fitriyan. Bahkan menurut Presiden, kemampuan Bahasa Inggrisnya pun tak setinggi Fitriyan. “Bahasa Inggris 9,8 itu lebih baik dibandingkan Bahasa Inggrisnya Pak SBY,” ucap Presiden yang disambut tawa para guru SMA Negeri 1 Karanganyar.

Presiden mengatakan, secara nasional ada lima siswa SMP yang memperoleh nilai tertinggi untuk UN. Tiga siswa SMP dari Bali, satu siswa SMP dari Jawa Timur, dan satu siswa SMP dari Jawa Tengah yang diraih oleh Fitriyan. “Karena Bahasa Inggrisnya baik, mudah-mudahan Fitriyan dapat menjadi tokoh ataupun diplomat,” ucap Presiden.

Sumber Berita : www..kompas.com

Iklan