Pengantar

Sebagai anak “kolong” (sebutan bagi anak POLRI dizaman dulu yang tinggal di asrama) tergugah juga membuat postingan tentang Susno Duadji. POLRI adalah korps kebanggan  ayahanda (alm) dan korps yang telah membasarkan saya hingga saat membuat postingan ini. Karena dari dalam perut hingga kuliah saya makan duit gaji orang tua saya sebagai anggota POLRI. Tak banyak yang ditinggalkan  ayahanda diakhir-akhir hidupnya, yang ada hanya cerita-cerita heroik beliau bertugas sebagai anggota Mobrig (sekarang Brimob) memadamkan gerakan separatis antara tahun 1950-an sampai 1960-an. Mencuatnya berita tentang Komisaris Jendral Drs. Susno Duadji mulai dari pembongkaran maklar kasus  pajak hingga kasus arwana yang justru membuat Susno Duadji menjadi tersangka,  mengingatkan kepada ayahanda, Menurut ayahanda salah satu kebanggaan anggota POLRI itu adalah ketika mendapatkan Penghargaan berupa tanda jasa (saya lupa namanya) Kesetiaan 36 tahun tanpa cacat, ini adalah puncak penghargaan bagi anggota POLRI. Jika sampai menjadi tersangka, itu merupakan salah satu aib yang besar. Jangankan menjadi tersangka, bila ada salah satu anggota keluarga yang berbuat tindak kriminal sudah membuat malu. Pada awalnya Susno, sebenarnya ingin me-reform dalam tubuh institusi POLRI namun ternyata justru menjerat Susno Duadji dalam jeratan hukum, kita tunggu saja bagaimana kelanjutannya.

Terlepas dari hujatan tentang anggota POLRI, tidak semua anggota POLRI melakukan yang tidak semestinya ia lakukan.   Yang kasian memang anggota POLRI dilapisan bawah yang harus berdarah-darah, –bahkan nyawa– yang mempertahankan idealisme sebagai polisi yang jujur dibanding dengan polisi yang berprilaku koruptif. Menurut cerita ayahanda sogokan, kutipan tidak resmi dan istilah sekarang yg disebut gratifikasi itu pasti selalu ada. Bahkan menurut beliau yang tidak bisa di urus dipolisi itu hanya masalah pembunuhan. Namun -sekali lagi- tidak semua polsek, polres, polda bahkan mabes melakukan hal yang tercela itu. Cerita Good Police dan Bad Police itu hampir selalu ada di semua negara di dunia ini. Termasuk jenis apakah ayahanda ? Hanya Allah yang tahu, biar beliau yg akan mempertanggung jawaban di hadapan Allah SWT, yang jelas beliau terakhir dengan pangkat Kapten hanya meninggalkan kami anak-anak beliau sebuah rumah sederhana terbuat dari kayu dan sebuah sepeda motor  (saya jual, laku Rp. 1.800.00,- 🙂 ). Selamat jalan ayahanda..

Berikut Kumpulan Berita tentang Komisaris Jendral Susno Duadji seputar Penetapan beliau menjadi tersangka oleh POLRI

Dijadikan Tersangka, Susno Duadji Ditahan?

JAKARTA (Pos Kota) – Setelah menjalani pemeriksaan selama 7 jam, dan dihujani 34 pertanyaan, Komjen Pol Drs. Susno Duadji akhirnya dinyatakan sebagai tersangka dan ditahan.

Susno Duadji datang ke Bareskrim Mabes Polri pukul 10:00, menjalani pemeriksaan yang didampingi oleh tim kuasa hukum, antara lain Mohamad Assegaf, Henry Yosodiningrat, Jusuf Ari Amir.

Henry Yosodiningrat menyatakan, tak ada barang bukti dalam penetapan tersangka, dan pihaknya akan melakukan pra peradilan.

“Pertanyaan penyidik seperti menjebak, ” protes Muhamad Assegaf kepada wartawan, Dinyatakan, status tersangka yang diberikan kepada Susno Duadji terkait dengan kasus sangketa PT Arwana di Pekanbaru, Riau, dan dia ditahan karena dikhawatirkan menghilangkan barang bukti.

Menurut keterangan, Komjen Susno Duadji tidak makan siang karena selama pemeriksaan dia menjalani puasa.

Dari pihak Mabes Polri, Edward Aritonang menyatakan status Susno yang sebelumnya saksi ditingkatkan sebagai ditangkap. Meski belum pasti ditahan, namun Susno tidak boleh pulang. “Dalam 24 jam ke depan kita akan memutuskan apakah ditahan atau tidak, ” kata Edward Aritonang

Sumber Berita : http://www.poskota.co.id/berita-terkini/2010/05/10/dijadikan-tersangka-susno-duadji-ditahan

Keluarga Susno Datangi Bareskrim, Bawa Ikan Mas

JAKARTA–MI: Istri, dua anak, dan kerabat mantan Kepala Badan Reserse Kriminal Polri, Komjen Susno Duadji, menjenguk jenderal bintang tiga itu di Bareskrim Polri. Mereka datang dengan membawa makanan kesukaan Susno, ikan mas.

“Membawa perlengkapan pribadi, ikan mas,” ujar salah satu kerabat Susno saat mendampingi istri mantan Kapolda Jawa Barat, Herawati, itu kepada wartawan, Senin (10/5).

Selain itu, istri dan keluarga Susno membawakan sajadah, tasbih, dan pakaian. “Bawakan sajadah sama tasbih,” kata dia.

Mereka datang menggunakan Honda C-RV silver bernomor polisi D 34 S. Herawati datang menggunakan baju merah dengan selendang krem keemasan. Herawati datang bersama dua anaknya, Diliana Erma Ningtyas dan Indira Tantri, serta tiga kerabatnya yang lain pukul 20.34. (*/OL-7)

Sumber Berita : http://www.mediaindonesia.com/read/2010/05/10/141989/16/1/Keluarga-Susno-Datangi-Bareskrim-Bawa-Ikan-Mas

Sajadah dan Tasbih dari Sang Istri
JAKARTA, KOMPAS.com — Istri Komjen Susno Duadji, Herawati, mendatangi Mabes Polri untuk menemui suaminya setelah ditetapkan sebagai tersangka terkait kasus penangkaran arwana di Riau. Herawati datang dengan didampingi lima anggota keluarganya.

“Saya ingin ketemu Bapak. Bawain sajadah sama tasbih,” ucap Herawati ketika tiba di depan Gedung Bareskrim Mabes Polri, Senin (10/5/2010) sekitar pukul 20.30.

Herawati datang ditemani kedua anaknya, yaitu Yuni dan Indira. Ikut juga Husni Maderi, kakak sepupu Susno yang juga pengacara Susno. Namun, tidak diketahui siapa kerabat yang hadir lainnya.

Herawati tidak bersedia berkomentar banyak kepada wartawan yang menunggu. Mengenai proses hukum yang diterima suaminya, dia mengatakan, “Ditahan itu tidak berarti bersalah,” katanya.

Kuasa hukum Susno, M Assegaf, mengatakan, kliennya langsung makan bersama keluarga dengan makanan yang dibawa. “Sekarang lagi makan bareng,” kata dia.

Seperti diberitakan, Susno ditetapkan sebagai tersangka oleh tim independen setelah menjalani pemeriksaan sebagai saksi. Mantan Kabareskrim itu datang bersama tim kuasa hukum sekitar pukul 10.00. Selama pemeriksaan hingga pukul 17.00, Susno ditanyakan 34 pertanyaan oleh penyidik.

Menurut Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Edward Aritonang, penyidik baru mengeluarkan surat perintah penangkapan dan belum mengeluarkan surat perintah penahanan. Polri akan memberikan kepastian penahanan maksimal setelah diperiksa dalam waktu 1 x 24 jam.

Sumber Berita : http://lipsus.kompas.com/topikpilihan/read/2010/05/10/21090778/Sajadah.dan.Tasbih.dari.Sang.Istri

Susno Ditangkap, Langgengkan Praktek Busuk

JAKARTA, KOMPAS.com — Penetapan tersangka disusul penahanan terhadap mantan Kabareskrim Komjen Susno Duadji dianggap akan melanggengkan praktik busuk yang bersarang di institusi kepolisian ataupun institusi lainnya.

Wakil Ketua Komisi III DPR Fachri Hamzah mengatakan, apa yang dipertontonkan Polri membuat mereka yang berniat mengungkap kebobrokan akan berpikir dua kali untuk melakukannya.

“Kalau jenderal bintang tiga saja ditahan, bagaimana orang biasa? Masyarakat pasti kecewa. Saya tidak melihat apa yang dilakukan Susno salah. Ada kebobrokan, kemudian dibongkar, salahnya apa?” gerutu politisi itu di Gedung DPR, Jakarta, Senin (10/5/2010).

Fachri melanjutkan, “Kalau kayak begini, nasib whistle blower jadi tidak jelas.” Ia menilai, tindakan Polri semakin membuat jengah dan tak bisa dimengerti. “Saya kira, kita sudah sampai taraf capek melihat kelakuan polisi. Enggak bisa dimengerti jenderal bintang tiga, berjasa membongkar kasus, malah ditahan,” ujar anggota Fraksi PKS ini.

Dengan keras ia mengatakan, Komisi III yang merupakan mitra kerja Polri tak akan tinggal diam. Dalam waktu dekat, Kapolri Jenderal (Pol) Bambang Hendarso Danuri akan dipanggil untuk menjelaskan penahanan terhadap Susno.

Polri diminta menghentikan sandiwaranya. “Sandiwara ini harus kita hentikan. Istilahnya, enough is enough. Jangan diteruskan. Kita tidak mau rivalitas para jenderal jadi persoalan institusional. Jangan masalah pribadi jadi diperbesar,” ujarnya.

Sumber Berita : http://lipsus.kompas.com/topikpilihan/read/2010/05/10/18321959/Susno.Ditahan..Langgengkan.Praktik.Busuk

Kasus Arwana

Polri: Susno Ditangkap, Belum Ditahan

JAKARTA, KOMPAS.com — Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Edward Aritonang membenarkan bahwa penyidik tim independen telah menetapkan Komjen Susno Duadji sebagai tersangka terkait kasus penangkaran arwana di Riau. Namun, kepada Susno, penyidik baru mengeluarkan surat perintah penangkapan dan belum mengeluarkan surat perintah penahanan.
Kita punya waktu 1 x 24 jam untuk memeriksa sampai nanti diputuskan perlu tidaknya dilakukan penahanan. Penyidik terus melakukan pendalaman, kroscek terhadap alat bukti yang sudah ditemukan.

“Kita punya waktu 1 x 24 jam untuk memeriksa sampai nanti diputuskan perlu tidaknya dilakukan penahanan. Penyidik terus melakukan pendalaman, kroscek terhadap alat bukti yang sudah ditemukan,” ucap Edward di Mabes Polri, Senin (10/5/2010).

Edward menjelaskan, pemeriksaan Susno berakhir sekitar pukul 17.00. Setelah itu, penyidik mengevaluasi keterangan saksi-saksi yang telah diperiksa sebelumnya serta hasil pemeriksaan terhadap Susno. Kemudian penyidik berkeyakinan untuk meningkatkan status Susno menjadi tersangka.

Menurut Edward, penanganan perkara arwana berawal dari keterangan Susno saat rapat dengar pendapat dengan Komisi III DPR. Saat itu, Susno mengatakan, ada kasus mafia hukum yang lebih besar dari kasus Gayus, yaitu kasus arwana. “Mr X ada di dalamnya. Kemudian diketahui Mr X itu (Sjahril),” jelasnya.

Dia menambahkan, “Penyidik melakukan pemeriksaan karena dugaan penanganan kasus arwana juga tim yang menangani kasus Gayus. Kita menemukan ada indikasi perbuatan mafia hukum dari kasus sebelumnya,” tambah Edward.

Sumber Berita :http://lipsus.kompas.com/topikpilihan/read/2010/05/10/1843586/Polri.Susno.Ditangkap..Belum.Ditahan

Kapolri Bantah Susno Diperlakukan Tidak Adil

Liputan6.com, Samarinda: Kepala Polri Jenderal Polisi Bambang Hendarso Danuri menyatakan, penahanan mantan Kepala Reserse Kriminal (Kabareskrim) Polri Komisaris Jenderal Susno Duadji menjadi otoritas penyidik. Hal itu diungkapkan Kapolri saat ditanya wartawan di Samarinda, Kalimanan Timur, terkait dengan pemeriksaan Susno Duadji di Markas Besar Polri, Jakarta Selatan, Senin (10/5) [baca: Susno Ditangkap].

“Jika dia hadir saya rasa tidak ada masalah, tetapi jika tidak memenuhi panggilan itu tentunya ada perintah untuk membawa,” ungkap Bambang Hendarso, seperti dikutip Antara. Kapolri juga membantah jika Susno Duadji diperlakukan tidak adil selama menjalani pemeriksaan. “Tidak mungkin diperlakukan tidak adil sebab biar bagaimana pun dia itu tetap anggota Polri,” ujar Bambang Hendarso [baca: Keluarga Susno Merasa Diperlakukan Tidak Adil].

Ditanya apakah kemungkinan mantan Kabareskrim Polri itu dijadikan tersangka, Kapolri kembali menegaskan kewenangan itu berada di tangan penyidik. “Kita tidak bisa berandai-andai sebab prosesnya masih berjalan. Masalah hasil pemeriksaan itu otoritas penyidik,” kata Kapolri.

Tekait informasi keterlibatan dua jenderal Polri yang diduga terlibat mafia kehutanan dan adanya seorang jenderal yang memiliki rekening Rp 95 miliar, Bambang Hendarso mengaku masih menelusuri kebenaran informasi tersebut. “Terkait masalah rekening sudah kami klarifikasi. Kemudian, masalah LHA (Laporan Hasil Analisis) masih kami telusuri sebab LHA itu kepentingannya sangat rahasia sehingga tidak boleh keluar,” katanya.

“Karena sifatnya rahasia sehingga harus dicari dari mana LHA itu serta bagaimana bisa keluar dan betulkah nilanya Rp95miliar. Jadi, informasi itu tidak serta-merta harus dipercaya sebab masih harus ditelusuri apalagi jika memposisikan seseorang pada kondisi tertentu,” ujar Kapolri.

Adapun menurut pengacara Susno, Muhammad Assegaf. mantan Kabareskrim itu ditahan Mabes Polri, hari ini sekitar pukul 17.00 WIB setelah dijadikan tersangka dugaan suap kasus Arwana. Namun, Assegaf mengaku heran dengan penetapan Susno sebagai tersangka karena hari ini dia diperiksa sebagai saksi dan pemeriksaan dinyatakan selesai.

Menurut Assegaf, setelah menandatangani berita acara pemeriksaan sebagai saksi, maka Susno langsung disodori surat penangkapan sebagai tersangka dan ditahan. “Ini adalah jebakan, mengapa Pak Susno yang sangat kooperatif selama pemeriksaan dijadikan tersangka dan ditahan hari ini juga,” katanya [baca: Susno Disodori Surat Penangkapan].

Lebih jauh Assegaf mengatakan, hingga kini penyidik belum memberitahukan alasan penahanan Susno karena belum ada keterangan dari penyidik soal itu. Ia menjelaskan, seharusnya Susno tidak ditahan karena tidak mungkin melarikan diri, menghilangkan barang bukti, dan mengulangi perbuatan yang disangkakan.

“Alasan penahanan dicari-cari saja, intinya adalah Pak Susno telah dijebak untuk dijadikan tersangka setelah terlebih dulu diperiksa sebagai saksi kasus Arwana,” katanya.

Kasus Arwana terjadi saat Susno menjabat sebagai Kabareskrim Polri pada 2008 yang melibatkan pengusaha Indonesia dan pengusaha Singapura di Pekanbaru, Riau. Dalam hubungan bisnis ini dua pengusaha saling lapor ke polisi karena terjadi wanprestasi sehingga Bareskrim Mabes Polri menduga adanya penggelapan dalam kasus tersebut.

Padahal, pengadilan di Singapura telah memutus kasus itu secara perdata sehingga patut diduga ada permainan atau makelar kasus dan ada aliran dana pada petinggi Polri Penyidik Polri meminta keterangan Susno karena diduga mengetahui aliran dana ini. Susno pun menyebut Mr. X alias Sjahril Djohan sebagai makelar kasus kelas kakap [baca: Pusat Penangkaran Arwana Pakai Jasa Mr. X].

Perkembangan selanjutnya, terutama setelah berita acara pemeriksaan (BAP) Sjahril Djohan beredar luas di kalangan wartawan, Sjahril mengaku kepada penyidik, sudah sejak lama berteman dekat dengan Susno. Bahkan, Sjahril sering meminta pertolongan kepada Susno terkait sejumlah kasus dan begitu pula sebaliknya [baca: Sjahril Mengaku Dekat dengan Susno].

Dalam BAP yang sama, Sjahril bahkan mengklaim telah memberikan Rp 500 juta kepada Susno dari Haposan Hutagalung. Haposan Hutagalung merupakan pengacara PT Salmah Arwana Lestari yang juga pengacara tersangka makelar pajak, Gayus H. Tambunan. Beberapa hari silam, tersangka kasus suap dan makelar kasus, Sjahril Djohan dan pengacaranya, pun mendesak Susno bersikap ksatria memenuhi panggilan Mabes Polri

Sumber Berita : http://berita.liputan6.com/hukrim/201005/276358/Kapolri.Bantah.Susno.Diperlakukan.Tidak.Adil

Iklan