Sejak beberapa tahun yang lalu, penerimaan siswa baru menggunakan sistem online. Entah bagaimana caranya yang penting PSB Online, biasanya dikelola oleh Dinas Pendidikan Kota/Kabupaten setempat. Hal ini merupakan langkah maju dalam pendidikan kita, sehingga penerimaan siswa baru bisa lebih transparan. Apakah sistem online ini bisa mengatasi perataan sebaran peserta didik dalam sebuah kota/kabupaten perlu dikaji lebih lanjut. Biasanya peserta didik akan menumpuk mendaftar di sekolah favorit yang ada dalam sebuah kota/kabupaten. Ditambah dengan sangat jeleknya pemerataan pembangunan sekolah di negeri ini, pendaftar akan berjubel di sekolah yang dianggap “favorit”. Istilah favorit sebenarnya tak jelas antara sekolah dengan bermutu tinggi, ekskul yang mentereng, bangunan yang megah atau sekolah dengan biaya tinggi bagi anak papi mami (sebutan untuk anak yang manja). Di masa saya dulu SMA adalah istilah yang membedakan jenis sekolah, jika di SMA Negeri 2 itu kumpulan anak pejabat sedang di SMA 1 tempat sekolahnya anak pengusaha, bagaimanapun nilainya yang penting anak pejabat dan anak orang kaya bisa masuk ke sekolah tersebut. Tapi itu cerita dulu, sekarang mungkin tidak ada lagi seperti itu 🙂 kan sudah online siapa saja bisa mendaftar di sekolah manapun yang peserta didik mau dan suka.

Perkembangan PSB online seharusnya diikuti juga dengan kemampuan gurunya untuk online juga. Karena internet sekarang sudah bisa di bilang dengan gudang ilmu. Apalagi sekarang koneksi internet cukup murah yang ditawarkan oleh beberapa provider penyedia jasa internet. Di jagad maya ini sudah banyak bermunculan web/blog yang dbuat oleh guru, bahkan diantaranya sudah cukup terkenal di kalangan blogger. Isi web/blog para guru beragam, tergantung minat dan bidang yang dikuasainya.

Namun ada yang lebih penting, yaitu kemampuan guru untuk menggunakan peralatan teknologi informasi dan komunikasi seperti komputer. Sebab ini modal dasar  sebelum bisa online dan koneksi ke internet. saya belum tahu pasti berapa guru yang masih belum bisa menggunakan komputer, menurut perkiraan saya yang masih belum melek  perangkat IT dikalangan guru masih cukup banyak. Isu tentang program satu guru satu laptop,merupakan angin segar bagi dunia pendidikan kita, walau entah kapan hal ini bisa terealisasi.

Mudahan Bermanfaat

Iklan