Mas Ibad, begitu pak guru yang satu ini sering dipanggil oleh teman-temannya di kampung. Setelah menyelesaikan kuliah S1 tahun 1998 di sebuah lembaga pendidikan tinggi keguruan dan Ilmu pendidikan, mas Ibad mendapat gelar Sarjana Pendidikan. Hal ini diperoleh dari tulisan yang ada dalam  Ijazah sarjana mas Ibad yang menyatakan bahwa mas Ibad berhak mendapat gelar sarjana pendidikan dengan singkatan S.Pd. Oleh teman-teman satu kost mas Ibad,  istilah S.Pd sering dipelesetkan, mulai dari sarjana penuh derita, sarjana penggemar dangdut, sepeda, dan singkatan-singkatan lainnya yang menjurus ke arah merendahkan sang pemilik gelar itu. Namun mas Ibad tak gentar karena pasti yakin kelak sang pemilik gelar S.Pd takakan lagi dipandang sebelah mata oleh siapapun.

Mas Ibad berasal dari  kalangan keluarga yang cukup mampu secara ekonomis, ketika lulus SMA meyakini sesadar-sadarnya bahwa kemampuan otaknya yang biasa-biasa saja,hingga mas Ibad memilih kuliah di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Walau sebenarnya mas Ibad bercita-cita ingin menjadi diplomat, maka seharusnya mas Ibad masuk ke jurusan Hubungan Internasional. Namun apa daya, merasa rendah diri duluan, orang tua tidak terlalu yakin akan mampu membiayai kuliah hingga mas Ibad memilih menjadi guru.

Setelah memegang Ijazah sarjana pendidikannya, mas Ibad segera membuat surat lamaran yang ditujukan kepada sekolah-sekolah  swasta yang ada di kotanya. Alhasil, mas Ibad diterima di dua sekolah sekaligus yaitu SMP dan SMA. Sebagai seorang guru muda yang idealis, mas Ibad terkaget-kaget ketika di suruh mengajar yang bukan jurusannya waktu kuliah di FKIP yaitu IPS. Mas Ibad disuruh mengajar lima mata pelajaran yang berbeda sekaligus, yaitu geografi, sejarah, ekonomi, antropologi dan sosiologi. Mas Ibad meyakini telah masuk ke dalam salah satu lingkaran kerancuan terbesar pendidikan di Indonesia yaitu mengajar yang bukan jurusannya sewaktu kuliah.  Dalam beberapa kesempatan sering diuatarakan mas Ibad bahwa sekolah ternyata menyuburkan salah kamar dalam mengajar. Namun bisa jadi karena di Fakultas tempat mas Ibad kuliah dulu tidak ada jurusan tertentu, sehingga seenaknya saja pihak sekolah menyuruh mengajar yang tidak sesuai dengan disiplin ilmu waktu kuliah.

Jadilah mas Ibad, seorang guru sekaligus pembelajar lima mata pelajaran tersebut. Tak ingin memiliki materi yang dangkal terhadap materi pembelajaran yang diajarkannya, mas Ibad harus merelakan gaji pertamanya untuk membeli buku  pengantar lima disiplin ilmu yang diajarkan nya. Hingga mas Ibad berkata dalam hati “Keterlaluan jika saya mengajar ke lima disiplin ilmu itu,jika tak tahu sama sekali unsur-unsur dan jati diri lima disiplin ilmu itu”.

Pengalaman pertama jadi guru mas Ibad dimulai dengan mengajar selama 42 jam seminggu, dari pagi hingga sore di dua sekolah yaitu SMP dan SMA. Mengenai gajinya dengan status sebagai guru honor,mas Ibad cukup bersyukur. Di SMP mendapat jam mengajar sebanyak 24 jam per minggu dengan honornya sebesar Rp. 1.750,- /perjam  sedang di SMA menajar 18 jam perminggu  dengan  honor Rp. 2.500,- /per jam. Dalam hati mas Ibad, jadi teringat dengan olok-olokan teman kost tempo doeloe yang menyebut S.Pd dengan Sarjana Penuh Derita, akhirnya jadi kenyataan.Hingga simpulannya mas Ibad ingat petuah orang tua dulu, bahwa kata-kata bisa menjadi do’a.

Angin segar didapat mas Ibad di awal abad ke-21, tepatnya tahun 2000 ketika pemerintah melaksanakan program guru bantu. Mas Ibad ikut dalam program itu, walau harus melepaskan statusnya guru honor di SMA, karena program guru bantu hanya diperbolehkan mengajar  di satu sekolah. Setahun pertama jadi guru bantu mas Ibad mendapat bantuan pemerintah hanya sebesar Rp. 200.000,- Pada tahun 2000 itu mas Ibad mencoba ikut peruntungan menjadi PNS, namun akhirnya gagal alias tidak lulus ujian test masuk pegawai negeri sipil.

Tahun berikutnya mas Ibad ikut lagi dalam program guru kontrak di sekolah yang sama dengan bantuan pemerintah sebesar Rp. 400.000,- .untuk menambah penghasilannya pihak sekolahmengangkat mas Ibad menjadi staf Tata Usaha dengan tambahan penghasilan sebesar Rp.150.000,- .Disinilah mas Ibad pertama kali belajar menggunakan komputer yang kemudian akan merubah nasib mas Ibad. Tahun itu juga merupakan tahun sulit bagi mas Ibad, SMP swasta tempat mas Ibad mengajar mengalami kekurangan murid.Hal ini disebabkan munculnya sekolah-sekolah negeri di sekitar sekolah tempat mas Ibad mengajar. Sungguh saat itu pemerintah tak memperhatikan sebaran jumlah sekolah dalam suatu wilayah. Alhasil peminat yang ingin masuk ke sekolah tempat mas Ibad mengajar hanya ada 6 orang saja. Padahal mas Ibad sudah keliling kota menyebarkan selebaran ke sekolah-sekolah favorit dengan harapan,jika mereka tidak diterima di sekolah itu bisa masuk ke sekolah tempat mas Ibad mengajar.

Cerita satire ini bersambung…

Mas Ibad menjadi PNS

Iklan