Sore Sabtu (24/7) sambil minum teh hangat dan sepotong kue di sela rehat Diklat Mata Pelajaran TIK di Balai Diklat Keagamaan Kementerian Agama Banjarbaru Kalimantan Selatan, saya terlibat pembicaraan santai dengan seorang guru madrasah tsanawiyah dari propinsi Kalimantan Timur. Menurut cerita,  madrasah tsanawiyah tempat mengajar beliau terrmasuk kategori madrasah “model”. Istilah model secara etimologis menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Online adalah pola (contoh, acuan, ragam, dsb) dari sesuatu yg akan dibuat atau dihasilkan: orang yg dipakai sbg contoh untuk dilukis (difoto): orang yg (pekerjaannya) memperagakan contoh pakaian yg akan dipasarkan:  barang tiruan yg kecil dng bentuk (rupa) persis spt yg ditiru: pola utama. Jadi,jika digabung dengan madrasah maka artinya sekolah yang menjadi pola, contoh,acuan, ragam dari sesuatu yang akan dibuat atau dihasilkan.

Agak susah memang, menurut saya jika menjadikan madrasah model sebagai “model” pengembangan  madrasah-madrasah reguler (sebutan madrasah non-model 🙂  ).  Karena jika merujuk cerita guru teman Diklat saya yg berasal dari Kalimantan Timur itu, fasilitas yang mereka miliki termasuk cukup wah ! Misalnya ada 30 komputer lebih dalam laboratorium kumputer mereka lengkap dengan fasilitas komputer, gedung bertingkat, memiliki kelas bilingual dan se-abrek fasilitas wah lainnya. Jelas madrasah non-model tidak bisa menjadikan madrasah model sebagai model pengembangan madrasah non model.

Belum lagi jika madrasah yang berada di daerah-daerah terpencil jauh dari pusat kota. Terkesan seolah tak bisa sedikitpun bisa ikut mempola, mencontoh, mengacu pada madrasah model. Infrastruktur daerah juga tak menunjang, di madrasah saya saja, baru tahun ini memiliki air PDAM dan tak ada sambung telpon kabel untuk internet, padahal jaraknya hanya belasan kilometer dari pusat ibu kota propinsi Kalimantan Selatan Banjarmasin.

Namun ada beberapa hal yang patut ditiru berdasarkan cerita teman Diklat saya, bahwa kepedulian orang tua/wali peserta didik dan komite madrasah ternyata cukup tinggi, semangat madrasah memajukan mutu pendidik cukup bisa dijadikan contoh, seperti guru di beri pelatihan secara berkala, ada program 1 laptop 1 guru dari sekolah dengan biaya separo di tanggung madrasah dan separonya oleh guru (khusus yg sdh di sertifikasi), pendidikan dan pelatihan guru dalam berbahasa Inggris dan Arab dan tentunya manajemen terbuka dari pimpinan madrasah. Teman diklat saya menutup dengan kata-kata “Entah dananya dapat dari mana”. Hehehehe, yang beginian nih yang oke !

Istilah model,seperti yang dimaksud oleh pemerintah terkhusus oleh Kementerian Agama, saya tidak banyak mengetahui secara detail tentang maksud dan tujuannya. Namun, jika diartikan sebagai madrasah tertentu dengan fasilitas serba wah  seperti yang dilakukan oleh Diknas dengan Sekolah Standar nasional dan RSBI-nya, hemat saya, hal ini kembali lagi melestarikan  ketidak merataan pembangunan pendidikan di Indonesia. Jika saya harus pontang-panting mencarikan anak didik saya komputer untuk belajar komputer sedang madrasah/sekolah lain begitu gampangnya diberi komputer, tetap saja artinya tidak adil.

Bagaimana menurut anda ?

Semoga Bermanfaat..

Iklan