Di mailing list Ahli Keuangan Indonesia, ada sebuah email yang berisi cerita tentang bagaimana seorang ayah dari Indonesia menyekolahkan anaknya di Amerika Serikat. Ketika anaknya disuruh membuat tugas karangan dalam bahasa Inggris, sang ayah khawatir sekali dengan kemampuan verbal sang anak. Tugas sang anak diperiksa dan oleh sang ayah tugas itu diperbaiki, namun sang ayah akhirnya menyerah. Rupanya yang dikumpul oleh sang anak adalah tugas yang pertama dibuat oleh anaknya, namun setelah tugasnya dikumpulkan sang ayah sangat kaget ternyata tugas karangan sang anak dalam bahasa Inggris itu mendapat nilai E (Excellence) alias sangat bagus. Sang ayah protes, sebegitukah kualitas pendidikan di negeri Paman Sam itu ? Karangan yang dianggap jelek oleh sang ayah justru dihargai dengan nilai yang baik.

Sang Ayah di beri pengertian oleh sang guru bahwa filosofi pendidikan mereka bukanlah menghukum (Punishment), melainkan untuk merangsang orang agar maju (Encouragement). Sang Guru dari Amerika itu menjelaskna lebih lanjut bahwa Setiap anak berbeda-beda. Namun untuk  anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat.

Berbanding dengan cerita di atas, ada cerita yang dialami oleh salah seorang keluarga saya, yang baru masuk sekolah dasar (SD). Sang ayah mengeluhkan bahwa anak nya tidak mau sekolah lagi, padahal baru masuk sekolah baru sekitar satu bulan . Setelah saya tanya apa penyebabnya, ternyata setiap hari anaknya di suruh maju ke depan kelas,  sambil berdiri dengan satu kaki karena tidak bisa membaca. Saya langsung berang, tidak bisa seperti itu ! Masa harus memaksakan anak yang baru masuk sekolah satu bulan harus bisa membaca dan menghukumnya seperti itu. Apalagi anak saudara saya itu dari golongan yang tidak mampu, sehingga tak sanggup menyekolahkan anaknya pada tingkat TK (Taman kanak-Kanak). Sebenarnya sudah tidak musim lagi guru mengajar dengan sistem itu.

Namun jika kita menarik ke belakang, dunia pendidikan kita penuh dengan ancaman hukuman atau tekanan (dengan bahasa halus). Saya termasuk yang kena tekan 🙂 ketika menyelesaikan kuliah S1 tidak dengan ujian skripsi, yaitu dengan menggunakan  ujian komprehensif, selain tak punya kemampuan yang baik dalam menulis juga mendengar berita susahnya mengajukan skripsi, bahkan seorang teman (baru cerita ketika ketemu di Diklat) mengajukan proposal saja sudah ditolak berkali-kali apalagi ketika sudah masuk pada materi. Bahkan penolakan proposal  dengan alasan yang tidak rasional “Nanti saja, saya lagi sibuk”.. “Judul Skripsi kamu sudah puluhan yang membuat”..

Jika kebelakang lagi, ketika saya masih di Sekolah Dasar, ada trauma sampai sekarang .. saya pernah di jemur dan di pukul oleh penggaris gara-gara tidak ikut dalam kegiatan pramuka. Sehingga dari dulu sampai sekarang saya tak pernah suka dengan kegiatan Pramuka,  bahkan di waktu SMP pernah berkelahi gara-gara mengejek barisan Pramuka “Pramuka nggak ada gajinya” Hehehehehehe… (sorry, pak guru bandel juga waktu dulu 🙂  ).

So, dari penggalan cerita di atas, bagaimana menurut anda ? Apakah perlu kita masih menghukum anak didik kita dengan hukuman yang tidak masuk akal ? Seperti berdiri dengan satu kaki ? Atau dengan kata-kata melecehkan seolah-olah guru/dosen yang paling hebat saja, hingga mematikan daya kreatifitas peserta didik ? Atau penilaian yang paling bijaksana, mengukur atau menilai dengan seharusnya kita ukur seperti kognitif, afektif dan psikomotor saja. Satu lagi catatan pendidikan Indonesia.

Wassalam, Sya’ban Menjelang Ramadhan.

Iklan