Sumber Gambar : http://www.waspada.co.id

Dalam sejarah nya, Malaysia konon pernah dikuasai oleh dua kerajaan besar di Nusantara yaitu Sriwijaya dan Majapahit. Bahkan pernah juga diserang oleh kerajaan Islam pertama di pulau Jawa yaitu Demak tahun 1511, ketika itu Semenanjung Malaysia khususnya Malaka dikuasai oleh Portugis.

Semasa penjajahan bangsa Eropa terhadap Asia, Malaysia dijajah oleh Inggris sedang Indonesia dijajah oleh Belanda. Dengan paham liberalisme-nya Inggris berhasil membuat beberapa negara negara jajahan-nya justru dikemudian hari menjadi negara yang besar, sebut saja seperti Amerika Serikat, Australia, dan Malaysia tentunya.

Pasca penjajahan bangsa Eropa, walau agak lambat namun pasti Malaysia berhasil membangun ekonomi negara agak lebih maju dibanding Indonesia. Hal ini dimaknai dengan pendapatan perkapita manusia di Malaysia konon lebih tinggi dibanding pendapatan perkapita rakyat Indonesia. Tingginya pengharapan hidup yang lebih baik di Malaysia, menyebabkan banyaknya orang Indonesia yang merantau ke Malaysia, hingga ratusan ribu rakyat Indonesia menjadi tenaga kerja dan mencoba peruntungannya di negeri jiran tersebut. Di satu sisi, secara psikologis muncul kecemburuan terhadap negeri tetangga itu, jika saja kecemburuan itu menjadi suatu semangat untuk menyamai negara tetangga sebenarnya nggak akan bermasalah. terlebih Indonesia ketika Indonesia terjerumus dalam krisis ekonomi tahun 1998 dan berbagai krisis yang berkepanjangan membuat Indonesia seolah semakin ketinggalan dengan Malaysia.

Puncak paling surut hubungan Indonesia Malaysia sebenarnya sudah terjadi ketika Presiden Soekarno menyatakan secara terbuka konfontasi dengan Malaysia tahun 1960-an. Yang terkenal dengan istilah ganyang Malaysia, isu sentral yang dipakai oleh Soekarno adalah bahwa Malaysia sebagai neo-kolonialisme baru di kawasan Asia Tenggara. Sikap Tegas dan berani semakin menjadi ketika ‘pertama kali di dunia’ bahwa ada negara yang menyatakan keluar dari keanggotaan PBB. Dalam buku-buku sejarah orde baru, tindakan Soekarno sering disebut sebagai tindakan konyol yg mengakibatkan Indonesia dikucilkan dalam hubungan internasional. Namun bagi saya, itu adalah ketegasan antara ucapan dan tindakan, yang sepertinya sekarang susah di jumpai di indonesia.

Secara kultural kedua negara termasuk negara serumpun kaya dengan budaya. Kekinian  hal itu ternyata menjadi gesekan antara kedua negara. Saling klaim siapa yang memiliki budaya tersebut. Sebenarnya orang Malaysia tak selalu salah, misalnya kesenian Reog. Di Malaysia juga ada orang Jawa, lalu mereka membawa budayanya. Apakah salah mereka memakai atau mempermainkan budaya yang mereka bawa dari pulau Jawa itu, tentu tak salah. Orang Cina saja tak pernah protes, orang Cina di Indonesia mempertontonkan Barongsai.

Salahnya Malaysia, tak pernah menyebutkan asala budaya mereka berasal dari Indonesia atau menyatakan bahwa hal itu sama dengan yang dilakukan oleh orang Indonesia. Apa susahnya misalnya, menyebutkan kalau Reog asal Indonesia yang dikembangkan di Malaysia, atau Batik ini merupakan perkembangan dari Batik Solo atau batik Jogja. Karena mereka lupa saja bos, bahwa budaya yang mereka mainkan atau pergunakan itu di Indonesia juga ada.

Yang terakhir menjadi sorotan adalah mengenai batas negara. Mengenai hal ini, konon tak pernah selesai hingga sekarang. perlu kearifan kedua belah negara sebab batas negara berhubungan dengan masalah kedaulatan. Sedang kedaulatan erat sekali dengan masalah bela negara manifestasi dari sikap nasionalisme. Di sebagian hati rakyat Indonesia tertanam kuat rasa nasionalisme yang tinggi, yang bisa meledak-ledak cara mencintai negara ini. Walau Rasa cinta terhadap tanah air bagaikan air dengan minyak yang tidak bisa bercampur jika dibandingkan dengan prilaku elit yang terpernah berhenti menggrogotinya dari dalam dengan perilaku korup.

Perang, pakah akan menjadi solusi jawabnya tidak. Tak perlu perang, yang  perlu hanyalah ketegasan. Jika merasa tak suka, nyatakan ketidak sukaan anda apa susahnya ? Pernyataan ketidak sukaan itu bisa jadi dengan tingkah laku, pertama ditegur, kalo nggak mempan dengan tingkah laku, jangan ditegur sapa, kalo nggak mempan juga baru di tampar, kalo melawan baru kita serbu …

hehehehehehe

Iklan