Dalam dua hari terakhirnya ini, headline surat kabar lokal di Kalimantan Selatan “Banjarmasin Post” memberitakan tentang adanya ‘iuran’ para guru honor yang sudah bersertifikat di Banjarmasin sebesar Rp. 500.000,- untuk biaya konstribusi agar SK Inpassing atau Surat Keputusan Penyetaraan melalui ‘jalan tol’. Maksud jalan tol, artinya supaya bisa cepat keluar SK-nya. Uang ‘iuran’ itu dikumpulkan  melalui Ikatan Guru Bersertifikasi Kota Banjarmasin (IGBKB).

Setelah berita ini muncul ternyata mendapat reaksi mulai dari pejabat Kementerian Pendidikan Nasional hingga Walikota Banjarmasin. Seperti biasa, berita-berita yang belum jelas kebenarannya ini, di sanggah dan diakui oleh beberapa pihak. Yang benar hanya bahwa menurut Ketua IGBKB, Rahimi, memang benar bahwa para guru honor memberi konstribusi dan entah untuk apa uangnya.

Apapun alasannya, saya sangat sedih melihat hal ini. Saya sangat mengerti dan memahami sekali keberadaan guru honor. Uang sebesar Rp. 500.000,- itu bisa jadi honor mereka 2 bulan.  Para pembaca blog ini yang budiman, salah atau benar pasti kita menganggap ini sebagai sebuah yang berbau ‘sogokan’ atau gratifikasi. Walau dengan apapun namanya. entah disebut dengan nama ‘tanda terima kasih’, ‘tanda syukur’ atau apa saja namanya. Semua pegawai negeri sipil di Indonesia ini kan sudah mempunyai tugas masing-masing dan sudah digaji pula.

Sungguh, karena saya juga berasal dari guru honor, saya miris sekali mendengar dan membaca hal ini. Apakah semua orang di negeri ini mencemburui tunjangan profesi guru itu ? Apakah sebagian orang tidak suka dengan TPG ? Atau memang sikap prilaku korup dan bisa jadi sikap tak sabar para guru, sungguh saya tergugah sekali. Ketika Tunjangan itu masuk ke rekening para guru, hampir semua pula mencemooh nya dengan sebutan ‘tidak layak’ , ‘tidak sepadan dengan pekerjaan’ dan lain sebagainya.

Bos, sungguh .. tak enak saya membacanya .. Hidup Guru Indonesia

Iklan