Loksado

Sebagai urang Banjar (sebutan untuk orang yang tinggal di Kalimantan Selatan), kalau di tanya berasal dari mana, saya selalu menjawabnya dengan “berasal dari Kandangan”. Kandangan adalah nama sebuah ibukota kabupaten Hulu Sungai Selatan Propinsi Kalimantan Selatan, sekitar 100 km dari kota Banjarmasin, ibukota propinsi Kalimantan Selatan.

Sebenarnya saya kelahiran Banjarmasin, tapi kedua orang tua saya asli berasal dari Kandangan. Walau sering menyebut diri dengan urang Kandangan, namun bisa dihitung dengan jari saya pulang ke Kandangan. Biasanya antara dua, jika ada acara perkawinan atau ada salah satu anggota keluarga yang meninggal dunia.

Terlebih ketika kedua orang tua saya, semua paman dan bibi saya meninggal dunia, praktis tidak hampir tidak pernah lagi berkunjung ke kampung halaman orang tua saya tersebut. Sebenarnya pengen sekali, sesekali berkunjung, namun selalu mempertimbangkan beberapa hal, mulai dari biaya sampai transportasi. Terakhir saya ke Kandangan bersama istri naik sepeda motor, isteri yang kebetulan juga urang Kandangan namun beda kecamatan yaitu Kecamatan Negara. Sedang saya urang Kandangan Kecamatan Padang Batung Desanya Ambarai. Yang dikunjungi tak lebih kubur para saudara mulai dari nenek, kakek, adik, kakak, paman dan bibi. Penuh keharuan memang ketika pulang ke kampung halaman.

Pesona kampung halaman memang tak pernah dilupakan, kemampuan pemerintah daerah setempat mengembangkan pariwisata menambah daya tarik wisata di Kabupatan Hulu Sungai Selatan. Pesona hutan hujan yang masih perawan seperti Loksado berhasil lestari dijaga oleh adat dan kebijakan pemerintah. Hutan lebat dan khasanah budaya  suku Dayak pedalaman gunung Meratus itu sebagai penambah daya tarik wisata. Jika beberapa tahun yang lewat susah-nya berebut jalan dengan truck pengakut batubara, sekarang sudah lancar karena truck besar dan kadang ugal-ugalan itu tidak boleh lagi lewat jalan negara.

Sayangnya saya tak punya transportasi yang memadai untuk bisa saya sesekali pulang ke kampung halaman orang tua, jika naik sepeda motor agak riskan untuk membawa si kecil Najwa ikut serta. Berkunjung dan memberi do’a dipusara para keluarga.

Demikian, renungan dan sebenarnya bentuk kerinduan saya.. 😦

Iklan