Sungguh, kesibukan pasca Idul Fitri 1431 Hijriah, cukup menyita waktu saya.. Termasuk membuat postingan di blog ini, seorang teman menganggap blog ini “sudah mati suri”, tapi saya menjawabnya tidak. Kerap kali, beberapa blogger ngetop di negeri ini sering dalam jangka waktu tertentu ‘menelantarkan’ blognya. Yang jelas, pasca lebaran di satker kami terjadi pergantian pimpinan atau kepala madrasah. Hal ini sesuatu yang biasa, bahkan sangat diperlukan untuk proses penyegaran dalam sebuah satuan kerja. Yang agak ‘memberatkan’ nantinya adalah proses penyesuaian dengan pimpinan yang baru, dan itu biasanya perlu waktu. Saya sangat yakin, setiap pimpinan dalam sebuah satuan satuan kerja pasti berbeda-beda dalam hal berbagai kebijakan.
Saya tak banyak pengetahuan dalam masalah kepeminpinan, bagaimana menjadi seorang pemimpin yang baik, agak susah bagi saya untuk ‘mengejawantahkan’ dalam sebuah kata-kata. Pemimpin yang bertanggung jawab, jujur, adil, bijaksana bagi saya standar biasa dalam kehidupan manusia. Artinya, tak perlu jadi pemimpin pun, seharusnya dan sebisanya sudah bersikap seperti itu. Kepemimpinan bagi saya bisa jadi sebuah seni cara untuk mengatur sebuah kelompok sehingga tercipta sebuah komunitas kelompok yang harmonis.
Bagi saya, yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga ABRI (-masa lalu, sekarang TNI-POLRI) membuat saya sangat patuh pada pimpinan dan orang tua. Yang tak bisa dan biasa dilakukan oleh banyak orang adalah proses kritik kepada pimpinan. Hal ini akan menjadi indah jika siapapun yang memimpin terbuka untuk menerima saran dan kritikan.
Ketakutan biasa yang terjadi dengan perubahan kepemimpinan adalah ketakutan jika sang pemimpin akan merubah tatanan yang berlaku dalam sebuah komunitas kelompok. Jika dalam sejarah sosial dikenal dengan istilah ‘mesianisme‘ dan ‘ratu adil‘ yang berisi pengharapan kepada seseorang yang akan membawa kepada kejayaan pada masa lalu kemasa sekarang, maka seorang peminpin yang baru dianggap merupakan antitesis-nya. Artinya, sang pemimpin baru dianggap akan merubah tatanan yang berlaku dalam sebuah komunitas.
Namun saya kira, semua ada proses pembelajarannya. Belajar untuk memahami sebuah komunitas, adaptasi, meng-akomodasi dengan semua tatanan, saya kira akan tercipta sebuah komunitas baru dengan pemimpin baru yang harmonis.. Insya Allah

Iklan