Postingan ini terinspirasi ketika membaca website yang berisi tentang sejarah dan pembelajarannya di Amerika Serikat. Situs yang beralamat www.hnn.us ini, banyak menganalisa tentang perkembangan pembelajaran sejarah, terutama di Amerika Serikat. Ada beberapa tulisan yang bisa di korelasikan di Indonesia,seperti judul postingan ini, merupakan saduran tulisan di web tersebut dengan judul Does History Make Students Better Citizens? (And How Do We Measure that?) yang ditulis oleh Richard Rothstein, seorang peneliti di the Economic Policy Institute, Journal of American History, Maret 2004. Sedikit bantuan dengan menggunakan fasilitas translate dari google http://translate.google.co.id hingga tulisan di web aslinya bisa kita nikmati dengan bahasa Indonesia. Berikut kilasan sederhana versi saya tentang tulisan Richard Rothstein :

Pada poin pertama Rothstein, nampaknya ‘menyalahkan’ pendidik (guru) tidak berhasil menjelaskan sejarah dan kurikulum-nya untuk membuat peserta didik menjadi warga negara yang baik, dalam bahasa Inggris dia tulis dengan ‘Yet educators have never successfully explained how the content of history or civics curricula promotes the stated goal of good citizenship’. Bahkan menurutnya, guru tak punya ekspektasi atau harapan yang realistis untuk apa peserta didik belajar sejarah. Apalagi untuk menjelaskan arti peristiwa sejarah serta dampak positif bagi peserta didik.Yang dijelaskan Rothstein, sebenarnya menunjukkan kompetensi guru sepertinya beragam. Tidak saja di Indonesia, ternyata kompetensi pendidik di Amerika Serikat di ragukan oleh Rothstein. Apalagi di Indonesia, guru salah kamar mengajar, menjadi biang kerok rendahnya kompetensi guru selain faktor-faktor lain. Untuk yang ini monggo silahkan para ahli-nya saja yang membahas.

Lebih Lanjut Rothstein kembali ‘menyalahkan’ guru, menurutnya pendidik tidak mampu menjelaskan secara ‘luas’ dan ‘mendalam’ diperparah lagi dengan adanya distorsi ‘ideologi’ dan ‘politik’ dalam sejarah. Artinya, selain ketidakmampuan guru menjelaskan materi secara luas dan mendalam yang disebabkan oleh waktu pembelajaran, kompetensi pendidik namun juga ada hal-hal yang sepertinya ditutup-tutupi. Hal ini biasanya berdasarkan idiom ‘sejarah ditulis oleh yang berkuasa’, sehingga sejarah sangat sarat dengan kepentingan. Hingga menurut Rothstein,konflik ini tidak bisa diselesaikan oleh pendidik saja.

Meskipun tidak begitu jelas hubungan antara pembelajaran sejarah mengarah kepada warga negara yang lebih baik, penilaian yang baik adalah salah satu cara untuk mengukur tingkat keberhasilan pembelajaran sejarah mengarah kepada pembentukan warga negara yang baik. Karena menurut Rothstein, warga negara yang baik bukan pada karakteristik objektik peserta didik,tetapi lebih kepada atribut peserta didik sebagai warga negara yang baik.

Akhirnya menurut Rothstein, harus ada kesepakatan antara pendidik untukmengukur bagaimana peserta didik menjadi warga negara yang baik yang dipengaruhi oleh sejarah. Justru sebaliknya, kita memilih untuk melakukan evaluasi penilaian jangka pendek yang mungkin hasilnya lebih sedikit dari tujuan yang kita inginkan.

Ternyata benang kusut dunia pendidikan tak dialami oleh Indonesia saja..

Heehehehehehehehehehehe, belajar meresensi.. mohon kritikannya neehh..

Iklan