Korea adalah sebuah semenanjung di Asia Timur, yang memanjang sekitar 1.100 kilometer ke arah selatan daratan Asia kontinental hingga Samudra Pasifik dan dikelilingi Laut Jepang (di Korea dikenal dengan nama “Laut Timur”) di timur, Laut China Timur di selatan, dan Laut Kuning di barat. Semenanjung Korea saat ini terbagi menjadi dua negara: Korea Selatan dan Korea Utara. Sebelum perpecahan yang membentuk kedua negara tersebut setelah berakhirnya Perang Dunia II, Korea adalah sebuah entitas politik tunggal selama berabad-abad lamanya yang wilayahnya mencakup wilayah kira-kira di sekitar Semenanjung Korea.

Perbatasan Semenanjung Korea di utara umumnya dianggap sebagai perbatasan politik antara Korea Utara dan Republik Rakyat Cina (1.416 km) dan Rusia (19 km). Perbatasan ini terbentuk secara alami melalui Sungai Yalu (Amnok) dan Sungai Tumen. Menggunakan definisi ini, Semenanjung Korea mempunyai wilayah seluas 220.000 km². Sebanyak 70 persen wilayah Semenanjung Korea adalah pegunungan dan tanah yang bisa diusahakan untuk lahan pertanian lebih kecil. Jajaran pegunungan berbaris di wilayah sebelah utara dan timur, dengan puncak tertinggi adalah Gunung Baekdu (2.744 m) di wilayah perbatasan dengan Republik Rakyat Cina. Panjang garis pantai semenanjung Korea adalah 8.460 kilometer, dimana bentukan yang tidak rata dan mempunyai banyak teluk ditemukan di sebelah selatan semenanjung. Pulau-pulau kecil berjumlah 3.579 dimana sebagian besar juga terdapat di wilayah selatan dan barat semenanjung.

Dampak dari penjajahan Jepang yang berakhir dengan kekalahan Jepang pada Perang Dunia II tahun 1945 adalah Korea dibagi pada paralel utara ke-38 mengikuti persetujuan dengan PBB. Wilayah utara diatur oleh Uni Soviet, dan bagian selatan oleh Amerika Serikat. Sejarah Korea Utara secara resmi dimulai dengan pembentukan Republik Rakyat demokratik pada 1948.

Pada Agustus 1945, Tentara Soviet membentuk Otoritas Sipil Soviet untuk memerintah negara ini hingga sebuah rezim domestik, yang bersahabat dengan Uni Soviet, dapat dibentuk. Setelah mundurnya tentara Soviet pada 1948, agenda utama pada tahun berikutnya adalah penyatuan Korea dari kedua belah pihak, namun konsolidasi rezim Syngman Rhee di Selatan dengan dukungan militer Amerika dan penekanan pemberontakan pada Oktober 1948 mengakhiri harapan bahwa negara ini dapat disatukan kembali menurut cara revolusi Komunis. Pada 1949, rezim Utara mempertimbangkan untuk melakukan intervensi militer ke Korea Selatan, tetapi gagal mendapat dukungan dari Uni Soviet.

Penarikan kekuatan militer Amerika Serikat dari Selatan pada Juni memperlemah Rezim Selatan dan membuat Kim Il-sung mempertimbangkan kembali rencana invasi ke Selatan. Gagasan itu sendiri awalnya ditolak oleh Joseph Stalin, tetapi dengan perkembangan persenjataan nuklir Soviet, kemenangan Mao Zedong di Cina, dan pertanda dari bangsa Cina bahwa mereka dapat mengirimkan serdadu dan sokongan lainnya ke Korea Utara, Stalin menyetujui penyerangan yang menjadi cikal bakal Perang Korea.

Perang Korea adalah perang antara Korea Utara dan Korea Selatan yang dimulai pada 25 Juni 1950. Perang ini sempat berhenti sementara dengan gencatan senjata yang ditandatangani pada 27 Juli 1953. Konflik diakibatkan oleh pembagian Korea dan upaya kedua Korea untuk menyatukan kembali Korea dibawah pemerintahan mereka masing-masing. Perang ini menewaskan lebih dari 2 juta penduduk dan prajurit dari kedua belah pihak. Periode sebelum perang ditandai dengan konflik perbatasan pada paralel utara ke-38 dan upaya negosiasi pemilihan umum bagi keutuhan Korea. Negosiasi berakhir ketika Tentara Rakyat Korea menyerbu Korea Selatan pada 25 Juni 1950. Di bawah restu PBB, Amerika Serikat dan sekutunya mendukung Korea Selatan. Setelah serangan balasan Korea Selatan, tentara Cina mendukung Korea Utara, dan pada akhirnya mengarah kepada gencatan senjata yang hampir memulihkan kembali perbatasan awal antara Korea Utara dan Korea Selatan.

Sejak gencatan senjata tahun 1953, hubungan antara pemerintah Korea Utara dengan Korea Selatan, Uni Eropa, Kanada, Amerika Serikat, dan Jepang tetap tegang. Pertempuran dihentikan dengan gencatan senjata, tetapi kedua Korea secara teknis masih berada dalam keadaan perang. Baik Korea Utara maupun Selatan menandatangani Deklarasi Gabungan Utara-Selatan 15 Juni pada tahun 2000, ketika kedua pihak berjanji untuk mengupayakan penyatuan kembali dengan cara damai. Selain itu pada 4 Oktober 2007, para pemimpin dari Utara dan Selatan bergandengan tangan untuk mengadakan rapat puncak yang membicarakan pernyataan penghentian perang secara resmi dan mengukuhkan kembali prinsip non-agresi.

Korea Utara dan Selatan tidak pernah menandatangani perjanjian perdamaian dan dengan demikian secara resmi masih dalam status perang; hanya sebuah gencatan senjata yang diumumkan.[26] Upaya perdamaian disela oleh beberapa pertempuran kecil dan upaya pembunuhan. Korea Utara gagal di dalam beberapa upaya pembunuhan terhadap pemimpin Korea Selatan, dengan yang paling dikenal pada 1968, 1974, dan Pengeboman Rangoon pada 1983. Terowongan seringkali ditemukan di bawah Zona Demiliterisasi, dan perang hampir meletus akibat Insiden Pembunuhan Kapak di Panmunjeom pada 1976.[27] Pada 1973, hubungan tingkat tinggi yang sangat rahasia mulai dilakukan melalui kantor-kantor Palang Merah, tetapi berakhir setelah insiden Panmunjeom dengan sedikit kemajuan.[28]

Pada akhir tahun 1990-an, ketika Korsel mengalami transisi menjadi demokratis, keberhasilan Nordpolitik dan dengan diambil alihnya kekuasaan di utara oleh putra Kim Il-sung, Kim Jong-il, maka kedua negara untuk pertama kalinya mulai berhubungan secara terbuka, dengan Korsel yang menyatakan Kebijakan Sinar Matahari.[29][30]

Pada 2002, Presiden Amerika Serikat George W. Bush menjuluki Korea Utara sebagai bagian dari “poros setan” dan “outpost of tyranny”. Hubungan tingkat tinggi yang pernah dilakukan pemerintah Korea Utara dengan Amerika Serikat adalah kunjungan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Madeleine Albright ke Pyongyang pada tahun 2000,[31] meskipun kedua negara tidak menjalin hubungan diplomatik yang resmi.[6] Pada tahun 2006, hampir 37.000 serdadu Amerika masih berada di Korea Selatan, meski sejak Juni 2009 jumlah ini berkurang menjadi sekitar 30.000 saja.[32][33] Kim Jong-il secara pribadi menerima kehadiran tentara Amerika Serikat di Semenanjung Korea.[34] Bagaimanapun, secara umum, Korea Utara sangat menuntut penarikan serdadu Amerika dari Korea.[34]

Pada 13 Juni 2009, kantor berita Amerika Serikat, Associated Press, melaporkan bahwa sebagai tanggapan bagi sanksi-sanksi baru dari PBB, Korea Utara menyatakan bahwa pihaknya akan melanjutkan program pengayaan uranium. Hal ini menandai bahwa untuk pertama kalinya, pemerintah Korea Utara mengakui di depan dunia bahwa pihaknya memang melakukan program pengayaan uranium. Pada 5 Agustus 2009, mantan presiden Amerika Serikat, Bill Clinton bertemu dengan Kim Jong-il untuk menjamin pembebasan dua orang wartawan Amerika Serikat, Laura Ling dan Euna Lee, yang ditangkap karena memasuki Korea Utara secara ilegal. Pada 28 Agustus 2010 mantan Presiden Amerika Serikat, Jimmy Carter, berhasil membawa pulang seorang guru dan aktivis Amerika Serikat, Aijalon Mahli Gomes, yang ditangkap karena memasuki Korea Utara secara ilegal.

Pulau Yeonpyeong – Rupanya ancaman Korea Utara yang akan kembali menyerang Korea Selatan bukan omong kosong semata, terbukti sejumlah tembakan artileri baru terdengar Jumat (26/11) ini di pulau Yeonpyeong, Korea Selatan.

Aksi tersebut dilakukan hanya berselang tiga hari setelah wilayah tersebut dibombardir oleh Korea Utara dan hanya beberapa jam saja setelah Pyongyang memperingatkan bahwa semenanjung itu di ambang perang apabila AS dan Korea Selatan tetap melaksanakan latihan militer gabungan di wilayah perairan Laut Kuning.

Tembakan artileri tersebut terjadi hanya beberapa saat setelah komandan tertinggi AS di Korea Selatan, Jenderal Walter Sharp, melakukan kunjungan di pulau Yeonpyeong untuk menunjukkan solidaritas Washington dengan Seoul, sekaligus melakukan survei kerusakan akibat hujan artileri Korea Utara Selasa (23/11) lalu yang menewaskan empat orang.

Seorang pejabat militer Korea Selatan mengatakan, beberapa tembakan artileri baru terdengar Jumat (26/11) di pulau Yeonpyeong, yang hanya berjarak 11 kilometer dari wilayah selatan Korea Utara. Ia menambahkan, bahwa, “beberapa suara ledakan datang dari arah Korea Utara.

Belum terdapat laporan mengenai kerusakan yang ditimbulkan.

Sejumlah saksi mata yang berada di pos pengamatan di sisi barat laut pulau Yeonpyeong mendengar sebanyak empat ledakan dan menyaksikan setidaknya satu kilatan cahaya di daratan Korea Utara.

Seorang pejabat militer Korea Selatan yang lain mengatakan, Korea Utara tampaknya telah melakukan latihan militer, dan telah menembakkan hingga 20 kali tembakan artileri berat. Namun para warga yang mendiami pulau Yeonpyeong sebelumnya telah mengungsi ke tempat penampungan. Laporan mengenai latihan Korea Utara tersebut belum bisa segera dikonfirmasi.

Hanya beberapa lusin penduduk saja yang tetap bertahan di pulau Yeonpyeong yang berpopulasi 1.300 orang, sedangkan sebagian besar warganya telah mengungsi pada jam dan hari setelah serangan Selasa lalu. Pihak pemerintah berwenang mendesak mereka yang masih bertahan untuk segera mengungsi.

Kantor berita Pyongyang, KCNA, mengatakan latihan akhir pekan ini yang melibatkan pasukan Korea Selatan dan kapal induk USS George Washington bertenaga nuklir milik AS di wilayah perairan Laut Kuning merupakan langkah nekat dan sembrono untuk menjadikan Korea Utara sebagai target.

“Situasi di semenanjung Korea semakin dekat ke arah perang terbuka,” ungkap Korea Central News Agency (KCNA). “Lewatlah sudah hari-hari ketika peringatan hanya lewat ucapan verbal saja.”

Para tentara dan warga Korea Utara “sekarang sangat marah” dan “telah siap sepenuhnya untuk memberikan hujan api yang mengerikan,” tambah KCNA. “Konfrontasi meningkat akan menyebabkan perang, dan orang yang suka bermain dengan api pasti akan binasa

Sumber tulisan :

http://id.wikipedia.org

http://http://www.wartanews.com/read/Internasional/f6616f88-5c50-4f55-b83f-1620a7a37451/Korut-Kembali-Serang-Korsel

 

Iklan