Masjid Al Ihsan Sanur Bali, sumber http://selatanonline.com

Jam 04.00 wita sampai juga akhirnya di Sanur, Bali.  Kenapa jadi Sanur  tujuan pertama di Bali ? Karena menurut kabar  pantai ini memiliki pemandangan sunrise (matahari terbit) yang mempesona, selain itu juga  terdapat sebuah masjid yang bisa digunakan untuk sekedar cuci muka, mandi, istirahat dan sholat.  Nama Masjidnya adalah Masjid Al Ihsan yang terletak di perumahan Taman Griya Jimbaran. Dan inilah satu-satunya masjid yang saya temukan dalam perjalanan ke Bali (mungkin ada ditempat lain). Maklumlah, Islam di tempat ini menjadi minoritas, dibanding mayoritas masyarakat Bali yang beragama Hindu. Masjid dengan bentuk seperti panggung tanpa dinding dan terasa sejuk dikelilingi oleh pepohonan yang rindang

Inginnya sesampai di Masjid ini bisa istirahat sebentar, ternyata tak kesampaian. Karena sudah ada ratusan rombongan pelajar, yang juga beristirahat sambil menunggu pagi dan melanjutkan perjalanan wisatanya. Akhirnya bersama-sama antri menggunakan toilet, namun praktis tidak bisa istirahat walau hanya sekedar merebahkan badan yang kelelahan duduk di bangku bus selama 14 jam. Begitulah resikonya jika berwisata ala ‘backpacker’ dengan dana tidak terlalu banyak. Saya tidak tahu pasti apakah disediakan tempat terbuka untuk wisatawan (terutama lokal) untuk sekedar beristirahat, yang nampak hanya hotel-hotel yang menyambut ramah para tamu yang berduit dan membayarnya dengan dollar.

sunrise Sanur Bali yang mempesona

Sunrise pantai Sanur di pagi hari, cukup menghilangkan kantuk berat dimata saya. Keagungan ciptaan Allah SWT sungguh luar biasa, bagai lukisan.  Membuat diri ini semakin kecil dihadapan Allah SWT dibanding dengan ciptaan-Nya. Di Sanur juga saya membeli sekedar oleh-oleh untuk anak saya Najwa. Sebuah baju yang bertuliskan Bali.

Ketika pagi itu, muncul lagi masalah bagi ‘backpacker’ yaitu sarapan. Beberapa teman agak sensitif dalam hal makanan, termasuk dalam hal kehalalannya. Jangankan di Bali, sewaktu di perjalanan antara Surabaya-Bali saja teman-teman sudah agak susah beradaptasi dengan makanan yang ‘tak biasa’ mereka makan. Kalau saya sih, tidak terlalu repot karena lidah saya termasuk dalam kategori lidah selera nusantara. Hehehe.. Akhirnya, karena tak ada tempat jualan makanan, akhirnya sarapan pagi nya ditunda hingga menjelang siang hari. Masakan Padang jadi pelipur lara disiang hari di pusat perbelanjaan oleh-oleh Krisna Bali.

Tunggu kelanjutannya..

 

Iklan