Salah satu tempat di Indonesia yang ingin saya kunjungi adalah Bali. Sebuah propinsi di Indonesia dengan pariwisata yang terkenal ke mancanegara  dengan keunikan berbagai hasil seni-budaya dan alam, bahkan sebagian orang di mancanegara lebih mengenal Bali dari pada Indonesia.  Nama Bali sendiri diambil dari nama pulau terbesar di propinsi tersebut yaitu Pulau Bali, disamping pulau-pulau kecil lainnya, berada dalam gugusan kepulauan Sunda Kecil. Agama Hindu menjadi agama mayoritas di pulau ini, diperkirakan mendapat pengaruh kuat dari kebudayaan India. Nama Balidwipa (pulau Bali) mulai ditemukan di berbagai prasasti, diantaranya Prasasti Blanjong yang dikeluarkan oleh Sri Kesari Warmadewa pada 913 M dan menyebutkan kata Walidwipa. Seiring dengan perkembangan Islam di Nusantara hingga kemunduran kerajaan Majapahit, banyak bangsawan, pendeta, artis dan masyarakat Hindu lainnya yang ketika itu menyingkir dari Pulau Jawa ke Bali.

Perjalanan saya dan teman-teman dimulai dengan transit di bandara Juanda Surabaya lalu diteruskan melalui jalan darat menuju Bali. Perjalanan yang cukup melelahkan karena harus di tempuh selama 14 jam menggunakan bus. Suguhan pemandangan ‘sejarah’ sedikit mengurangi kelelahan selama perjalanan. Sekitar  2 jam dari Surabaya, ketika memasuki Bangil Pasuruan, saya terkenang dengan hebatnya perjuangan salah satu pahlawan nasional Untung Surapati di daerah ini. Si Pembawa ‘untung’ ini diperkirakan berasal dari Bali namun perjuangannya di daerah jawa Timur.

Setelah Pasuruan, memasuki Probolinggo kami melewati Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Paiton. Saya melihat tumpukan gunungan batubara disamping PLTU. Saya yakin tumpukan batubara itu adalah tumpukan batubara dari Kalimantan. Batubara itulah yang beberapa tahun lalu (sebelum di larang masuk jalan propinsi) yang debunya saya hisap setiap hari  hingga menjadi tenaga listrik di pulau Jawa. Dengan ‘sombong’ nya PLN menulis besar-besar di depan PLTU Paiton dengan tulisan ‘Jawa Power’. Dampak negatif, keuntungan yang tidak jelas, dan byar pet tak berkesudahan bagi Kalimantan sedang Jawa Power menjadi dampak positif yang abadi bagi Jawa dan Bali. Duh.. susah ngomong keadilan di negeri ini.

Makan Malam di Situbondo dengan latar Laut Jawa

Selepas Paiton, kami memasuki sebuah kecamatan kecil yaitu Panarukan, kabupaten Situbondo. Dalam hati kecil saya bicara, inilah ujung jalan terakhir yang dibuat oleh Herman William Daendels. Jalan terkenal dengan nama Jalan Raya Pos, sepanjang kurang lebih 1000 km terbentang di pantai utara Jawa antara Anyer hingga Panarukan. Angan-angan Daendels untuk membangun jalan yang membentang antara Pantai Anyer hingga Panarukan, direalisasikannya dengan mewajibkan setiap penguasa pribumi lokal untuk memobilisasi rakyat, dengan target pembuatan jalan sekian kilometer. Yang gagal, termasuk para pekerjanya, dibunuh. Kepala mereka digantung di pucuk-pucuk pepohonan di kiri-kanan ruas jalan. Gubernur Jenderal Daendels memang menakutkan. Ia kejam, tak kenal ampun. Dengan tangan besinya jalan itu diselesaikan hanya dalam waktu setahun saja (1808).

Di Selat Bali Menuju Gilimanuk

Selepas Paiton dan Panarukan, tepat jam 24.00 sampai di Ketapang untuk menyebrang ke Gilimanuk menggunakan ferry penyeberangan. Angin sejuk selat Bali, membuat saya semakin bersyukur kepada Allah SWT nikmat dan karunia-Nya yang tak terhingga. Menempuh waktu sekitar 1 jam, akhirnya sampai ke pulau Bali.

Entar disambung lagi.. ceritanya..

 

 

Iklan