Dalam beberapa hari belakangan, berita elektronik dan online ramai memberitakan ‘kekerasan‘ yang terjadi di dua tempat sekaligus yaitu di Cikeusik, Pandeglang dan Temanggung, Jawa Tengah. Banyak pendapat dan komentar dari peristiwa itu, mulai dari yang menghujat pelaku kekerasan, menyalahkan pemerintah dan aparat, hingga mencari provokator peristiwa kekerasan tersebut.

Bagi saya yang lebih penting adalah menghilangkan akar kekerasan itu, mengutip Mahatma Gandhi bahwa akar kekerasan itu  adalah ‘Wealth without work, Pleasure without conscience, Knowledge without character, Commerce without morality, Science without humanity, Worship without sacrifice, Politics without principles’. Yang kalau di Indonesia-kan, ‘Kekayaan tanpa kerja, Kesenangan tanpa nurani, Pengetahuan tanpa watak, Perdagangan tanpa moralitas, Ilmu tanpa kemanusiaan, Ibadah tanpa pengorbanan, Politik tanpa prinsip.

Sedang jenis kekerasan terbagi dalam berbagai jenis :

  • Kekerasan yang dilakukan perorangan perlakuan kekerasan dengan menggunakan fisik (kekerasan seksual), verbal (termasuk menghina), psikologis (pelecehan), oleh seseorang dalam lingkup lingkungannya.
  • Kekerasan yang dilakukan oleh negara atau kelompok, yang oleh Max Weber didefinisikan sebagai “monopoli, legitimasi untuk melakukan kekerasan secara sah” yakni dengan alasan untuk melaksanakan putusan pengadilan, menjaga ketertiban umum atau dalam keadaan perang yang dapat berubah menjadi semacam perbuatanan terorisme yang dilakukan oleh negara atau kelompok yang dapat menjadi salah satu bentuk kekerasan ekstrem (antara lain, genosida, dll.). [6]
  • Tindakan kekerasan yang tercantum dalam hukum publik yakni tindakan kekerasan yang diancam oleh hukum pidana (sosial, ekonomi atau psikologis (skizofrenia, dll.)).
  • Kekerasan dalam politik umumnya pada setiap tindakan kekerasan tersebut dengan suatu klaim legitimasi bahwa mereka dapat melakukannya dengan mengatas namakan suatu tujuan politik (revolusi, perlawanan terhadap penindasan, hak untuk memberontak atau alasan pembunuhan terhadap raja lalim walaupun tindakan kekerasan dapat dibenarkan dalam teori hukum untuk pembelaan diri atau oleh doktrin hukum dalam kasus perlawanan terhadap penindasan di bawah tirani dalam doktrin hak asasi manusia.[7]
  • Kekerasan simbolik (Bourdieu, Theory of symbolic power),[8] merupakan tindakan kekerasan yang tak terlihat atau kekerasan secara struktural dan kultural (Johan Galtung, Cultural Violence)[9] dalam beberapa kasus dapat pula merupakan fenomena dalam penciptaan stigmatisasi.

Kekerasan sendiri mempunyai sejarah panjang yang seumur dengan umat manusia. Sejak anak Adam Qabil merupakan tokoh yang melakukan pembunuhan pertama dengan membunuh saudara laki-lakinya Habil lantaran kurban persembahannya tidak diterima oleh Allah karena ketidaktulusannya dengan mempersembahkan hasil pertaniannya yang sudah agak busuk. Dikisahkan pula bahwa Qabil merupakan orang pertama yang melakukan pemakanman untuk menguburkan Habil setelah melihat seekor gagak menguburkan gagak lainnya yang mati.

Kekerasan yang paling dramatis dilakukan manusia adalah perang. Perang sendiri dimulai sejak ekspansi Romawi (220 SM), diteruskan dengan perang besar lainnya, perang ekspansi Muslim ke Afrika dan Eropa, Perang Dunia dan lain-lain. Perang merupakan turunan sifat dasar manusia yang tetap sampai sekarang memelihara dominasi dan persaingan sebagai sarana memperkuat eksistensi diri dengan cara menundukkan kehendak pihak yang dimusuhi.

Kekerasan lain yang tercatat dalam sejarah adalah pembunuhan terhadap tokoh-tokoh besar dan penting di berbagai negara. Tercatat hampir terdapat di semua negara di dunia. Mau lihat daftar lengkapnya bisa klik DISINI. Kalau di Indonesia punya daftar panjang mulai pembunuhan raja-raja kerajaan Hindu Budha yang fenomenal seperti cerita Singosari dengan tokoh Ken Arok, kerajaan bercorak Islam, hingga pembunuhan tokoh HAM Munir.

Kekerasan yang terbaru adalah terorisme, dalam teorinya terorisme adalah serangan-serangan terkoordinasi yang bertujuan membangkitkan perasaan teror terhadap sekelompok masyarakat. Berbeda dengan perang, aksi terorisme tidak tunduk pada tatacara peperangan seperti waktu pelaksanaan yang selalu tiba-tiba dan target korban jiwa yang acak serta seringkali merupakan warga sipil.

Terorisme di dunia bukanlah merupakan hal baru, namun menjadi aktual terutama sejak terjadinya peristiwa World Trade Center (WTC) di New York, Amerika Serikat pada tanggal 11 September 2001, dikenal sebagai “September Kelabu”, yang memakan 3000 korban. Serangan dilakukan melalui udara, tidak menggunakan pesawat tempur, melainkan menggunakan pesawat komersil milik perusahaan Amerika sendiri, sehingga tidak tertangkap oleh radar Amerika Serikat. Tiga pesawat komersil milik Amerika Serikat dibajak, dua di antaranya ditabrakkan ke menara kembar Twin Towers World Trade Centre dan gedung Pentagon.

Sumber Tulisan : http://wikipedia.org

 

Iklan