Hari Minggu yang lalu, kami sekeluarga berkunjung ke Kapuas. Sebuah kabupaten di propinsi Kalimantan Tengah, sekitar 30 Km dari kota Banjarmasin. Perjalanan kami kali ini ditemani oleh gerimis hujan sepanjang jalan. Tipologi tanah rawa nan lembek membuat jalan antara Banjarmasin – Kapuas, seolah ‘tak pernah rata’, penuh lubang, bak superball di arena lintas balap grass track /motor cross. Sayang tak ada teknologi tepat guna atau mungkin tidak diterapkan, yang bisa membuat jalan berkontur tanah rawa mulus nan rata.

Berkunjung ke tempat saudara di desa Mambulau, Kapuas biasanya pembicaraan tak lepasΒ  dari masalah perkayuan. Ketatnya pengawasan pemerintah terhadap penebangan hutan, pengolahan serta penjualannya, selalu jadi topik hangat pembicaraan. Mata pencaharian sebagai pengumpul dan penjual kayu olahan, sebenarnya sudah lama bahkan turun temurunΒ  menjadi budaya lokal masyarakat di sekitar aliran sungai-sungai besar di Kalimantan. Transformasi budaya mata pencaharian setempat/lokal, sepertinya harus menjadi perhatian pemerintah setempat.

Memang hutan pulau Kalimantan,yang konon menjadi paru-paru dunia ini mulai menipis dari segi kuantitas. Pengawasan pihak berwenang, patut diacungi jempol. Petugas tak mau diajak kompromi, jadi cerita hangat. Walau demikian, dengan beberapa triks tertentu, beberapa masih bisa lolos dari pengawasan ketat. Di satu sisi pelestarian hutan Kalimantan memang perlu dijaga, namun diperhatikan juga perubahannya di masyarakat. Hutan Kalimantan lah selama ini menjadi sumber mata pencaharian. Tentang solusinya, pemerintah setempat lah yang harus menjawabnya.

 

Iklan