Hebohnya aksi Briptu Norman Kamaru, ternyata benar-benar dimanfaatkan oleh Polri sebagai usaha untuk mengubah paradigma Polisi yang selama ini cenderung digunakan sebagai alat Penguasa ke arah mengabdi bagi kepentingan masyarakat. Salah satu perubahan itu adalah perumusan kembali perannya sesuai Undang-undang Nomor 2 tahun 2002 yang menetapkan Polri berperan selaku pemelihara Kamtibmas, penegak hukum, serta pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat.

Aksi anggota Brimob, korps elit di Polri ini, patut di beri apresiasi, benar-benar telah merubah wajah kepolisian yang mendahulukan tampilan selaku pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat. Dalam tugasnya Polri sebagai pemelihara Kamtibmas maupun sebagai penegak hukum haruslah dijiwai oleh tampilan perilakunya sejalan dengan paradigma barunya yang mengabdi bagi kepentingan masyarakat.

Dalam sejarahnya, Brimob sendiri berperan banyak dalam menjaga integritas bangsa. Jika di era orde lama, baru dan reformasi, cerita pasukan elit ini tak pernah luput dari cerita konfrontasi dengan kelompok separatis hingga dengan kelompok teroris. Namun, kini Briptu Norman Kamaru, memperlihatkan bahwa anggota Brimob tidak saja ahli dalam usaha menjaga keamanan namun juga memiliki jiwa seni yang baik.

Aksi Norman Kamaru, juga sebenarnya bisa diharapkan merubah kultur polisi dengan pengaruh tradisi militer menjadi polisi sipil. Kesan yang kuat pada Brimob sebagai para militer, diberbagai kalangan dianggap batu sandungan untuk merubah Polisi dengan tradisi militer menjadi polisi sipil. Brimob yang sejak awal memang kesatuan paramiliter yang merupakan kesatuan khusus Polri makin mengentalkan warna militeristiknya ketika Polri disatukan dengan TNI dengan nama ABRI, warna militeristik makin kental, bukan hanya terbatas pada satuan Brimob saja, melainkan menjadi bagian dari kultur di Polri.

Semoga dengan aksi Briptu Norman Kamaru ini, bisa mendorong percepatan paradigma polisi sipil dan polisi sebagai pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat.

Iklan