Ya.. 20 Mei 1908, Seratus tiga tahun yang lalu,  sekelompok pemuda bangkit. Bangkit dengan sebuah pemikiran, gairah nasionality, dan kebangsaan. Dengan sebuah hasrat yang kuat untuk bersatu, dalam sebuah kumpulan nation, bertujuan akhir untuk Indonesia Merdeka. Gairah kebangsaan, muncul bak senjata makan tuan oleh sang ‘imprealis’, digelar pemuda sebagai dampak Politik Etisnya Van Deventer.  Pemuda dengan ‘social networking’ pada zamannya, membentuk organisasi yang ~pada awalnya~ bersifat  homogen dan kedaerahan . Tujuan awal Boedi Oetomo, sebenarnya hanya untuk kemajuan golongan berpendidikan di Jawa. Namun kesininya, perkumpulan mahasiswa kedoktoran jaman Belanda itu, merintis untuk menuju eksistensi sebagai bangsa yang merdeka. Adalah Indische Partij yang dipimpin seorang Indo-Belanda Douwes Dekker, yang secara tegas mendeklarasikan sebagai organisasi dengan tujuan untuk Indonesia Merdeka.

Kebangkitan nya semakin menggema ketika pemuda mempertegas sikap kebangsaannya dalam Sumpah Pemuda pada tahun 1928 dan Belanda mulai ‘gerah’ dengan tingkah laku organisasi pada masa itu, yang tidak kooperatif dengan mereka, siap-siap untuk diasingkan ke tempat terpencil di seluruh nusantara. Soekarno, Hatta, Sjahrir dan tokoh lain, termasuk yang pernah merasakan pahitnya pengasingan oleh sang ‘imprealis’.

Itu sekelumit, cukilan sejarah yang masih saya ingat ketika kuliah dulu.  Pelajaran apa yang bisa ambil dari peristiwa Kebangkitan Nasional itu untuk terus membangkitkan bangsa ini ? Ternyata, sepakat atau tidak sepakat, tak banyak yang bisa membuat bangsa ini untuk bangkit secara hebat. Seharusnya, selama 103 tahun, selama 103 kali juga kita bangkit. Kalau  kebangkitan nasional itu dijadikan budaya dan etos bangsa, seharusnya kita sudah menjadi negara yang besar. Budaya upeti pada masa kerajaan, bangkit menjelma sebuah monster ganas yang bernama korupsi. Organisasi masa dan politik kita terus dipertanyakan kredibilitas dan akuntabilitasnya. Hampir tiap hari kita lihat di media organisasi-organisasi itu penuh dengan intrik untuk memenuhi hasrat kepentingan sesaat pengurusnya.

Ekonomi kita, tidak .. Kita tak pernah besar dari segi ekonomi. Hingga detik ini masih ada balita seperti tulang yang terbungkus kulit dengan perut membuncit (baru aja lihat di TV sebelum membuat postingan ini). Ekonomi secara harfiah diartikan sebagai aturan rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan hidup rumah tangga (versi buku paket IPS Kelas VII).  Kalau begitu  peraturan ekonomi kita tak cukup mensejahterakan manusianya.  Bukankah kita kaya dengan sumber alam ? Ya,.. betul.  Tapi dikuasai dan dinikmati secara  maksimal oleh golongan-golongan tertentu. Sementara dinikmati secara minimal rakyat Indonesia. Di Kalimantan yang kaya minyak dan batu bara, koq harus BBM langka dan lampu byar pet. Seharusnya penikmat utama hasil alam orang Kalimantan sendiri, demikian juga dengan saudara kita di Papua.

Ya .. Bagian mana kita yang bangkit ? ..

Iklan