Besok, 4 Juni 2011 serentak di seluruh Indonesia, pengumuman kelulusan Ujian Nasional Tahun 2011 dibagikan kepada seluruh siswa dan siswi MTs/SMP. Bocoran tentang presentase tingkat kelulusan secara nasional maupun daerah sudah dibeberkan Kementerian Pendidikan Nasional sejak beberapa hari yang lalu. Saya tak tahu secara pasti berapa jumlah persisnya persentase kelulusan tingkat nasional mapun daerah. Saya termasuk yang ‘meragukan’ kebenaran hasilnya. Entah sampai kapan keraguan saya berakhir, bahkan saya sangat apatis sekali. Dan, ingat lo .. saya guru sangat meragukan hasilnya, entah yang lain pura-pura nggak tahu atau senyum simpul .. Hehehehe πŸ™‚

Apapun hasilnya, saya kira itu adalah hasil ‘kerja keras’ seluruh elemen sekolah. Mulai dari relanya guru harus melaksanakan tambahan mengajar hingga melakukan hal-hal yang tidak sepatutnya dilakukan, dengan alasan apapun.  Namun begitulah, bangsa besar ini mengelola pendidikannya. Kekuasaan, adalah salah satu sumber masalah. Saya boleh berpendapat kan ! Pemerintah daerah sepertinya takut sekali punya hasil yang tidak baik dari Ujian Nasional. Nama baik sekolah adalah yang kedua sumber masalah UN, bayaran mahal, predikat sekolah favorit, sebagai salah satu sebab sekolah sanggup melakukan apapun. Ya, melakukan apapun, .. para guru sudah tahu semua .. tanya dari hati ke hati dengan mereka. Saya masih takut menuliskan daftar dosa-dosa guru  sekitar UN, kecuali ada yang menantang .. hehehehe.

Mudahan ke depan kebijakan pemerintah bisa lebih baik. Namun, sebenarnya agak riskan juga jika sekolah yang menentukan kelulusan, yang tak akan terkontrol nanti adalah kualitasnya. salah satu yang bisa menurut saya menjadi solusi adalah pengawasan. Seingat saya, selama 12 tahun menjadi guru tak lebih dari 3 kali saya diperiksa oleh pengawas. Seharusnya perbanyak pengawasan, silahkan diperiksa perencanaannya, pelaksanaan pembelajarannya, evaluasinya, pengayaan dan perbaikannya. Tanpa pengawasan seolah pengajaran dan pendidikan tak terkontrol sama sekali. Jika pengawas sekolah tak mampu mengawasi para guru, kenapa tidak kepala sekolahnya yang jadi pengawas intern. Dari pengawasan itu nanti bisa di dapat data mana guru yang kompetensinya harus ditingkatkan dan mana yang harus diberi reward.

By the way, selamat bagi yang lulus besok, bagi yang belum .. hanya ketidak  keberuntungan tidak berpihak pada anda, tak lebih daripada itu ..

Nih ada beberapa tentang Pengumuman Kelulusan UN SMP/MTs Tahun 2011 :

Ribuan Siswa SMP/MTs Tidak Lulus UN 2011

SURABAYA, KOMPAS.com β€” Sebanyak 1.154 siswa SMP/MTS se-Jawa Timur dinyatakan tidak lulus dalam Ujian Nasional 2011. Jumlah itu menunjukkan penurunan jumlah siswa yang tidak lulus bila dibandingkan dengan Ujian Nasional 2010.

“Jumlah itu hanya 0,21 persen dari 540.608 pelajar SMP/MTS se-Jawa Timur (Jatim),” kata Kepala Dinas Pendidikan Jatim M Harun di Surabaya, Kamis (2/6/2011).

Menurut dia, jumlah itu berarti ada penurunan jumlah siswa SMP/MTS di Jatim yang tidak lulus ujian nasional (UN) dibandingkan dengan tahun 2010 karena UN 2010 tercatat 1.509 dari 534.020 siswa SMP tidak lulus atau 0,28 persen.

“Jadi, tingkat kelulusan pelajar SMP/MTS se-Jatim dalam UN 2011 mencapai 99,79 persen, sedangkan tingkat kelulusan dalam UN 2010 mencapai 99,72 persen,” paparnya.

Harun mengatakan, hasil itu menempatkan Jatim pada peringkat ketiga secara nasional setelah Bali dan Sumatera Utara (Sumut) dengan nilai akhir 7,86.

“Nilai itu di atas rata-rata nilai akhir siswa SMP/MTS secara nasional, yakni 7,56, apalagi peserta UN SMP/MTS di Jatim sebenarnya tidak sebanding dengan Bali dan Sumut karena jumlah peserta UN SMP/MTS di Jatim justru setara dengan Jawa Barat, Jawa Tengah, dan DKI Jakarta,” ujarnya.

Selain itu, jumlah siswa SMP/MTS yang tidak lulus UN sebanyak 0,21 persen tersebut “meningkat” dibanding jumlah kelulusan siswa SMA/MA/SMK di Jawa Timur yang tidak lulus UN 2011 yang mencapai 0,25 persen atau 709 siswa dari 1.536 juta siswa yang tidak lulus.

“Hasil UN 2011 itu akan diumumkan pada 4 Juni. Namun, teknis pengumumannya kami serahkan kepada dinas pendidikan dan SMP/MTS di kabupaten/kota setempat,” tuturnya.

Tahun Ini 20.234, siswa SMP/MTs Tidak Lulus UN

JAKARTA, KOMPAS.com – Tahun ini, dari 3.714.216 siswa SMP/MTs yang mendaftar ujian nasional (UN), hanya 3.660.803 siswa yang mengikuti UN dan sebanyak 3.640.569 atau 99,45 persen yang dinyatakan lulus. Sementara itu, 20.234 siswa SMP/MTS atau 0,55 persen siswa lainnya dinyatakan tidak lulus.

Demikian dipaparkan Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh di Gedung Kemendiknas, Jakarta, Rabu (1/6/2011). Berdasarkan data Kementrian Pendidikan Nasional, rata-rata siswa yang tidak lulus UN memperoleh nilai kurang dari 5.00 pada mata pelajaran tertentu. Mendiknas mengatakan, tingkat kelulusan UN tahun ini mengalami peningkatan sekitar 0,03 persen dibandingkan tahun lalu yang persentase kelulusannya hanya 99,42 persen.

“Data awal peserta yang akan mengikuti UN berjumlah 3.714.216 siswa. Setelah itu sekolah kita minta memasukkan nilai sekolah, dan ada 36.685 siswa tidak diberikan nilai dengan berbagai macam alasan. Jadi, tinggal 3.677.531 siswa. Dari sini, yang ikut UN hanya 3.660.803 siswa,” ungkapnya.

Berdasarkan analisa Kemdiknas, ada 744 siswa yang memiliki nilai rata-rata ujian sekolah mencukupi. Namun, karena ada satu atau dua mata pelajaran yang memperoleh nilai di bawah lima, mereka dinyatakan tidak lulus UN.

“Dari seluruh siswa yang tidak lulus, paling banyak rata-rata nilainya kurang dari lima, yakni sebanyak 19.490 orang,” ujar Nuh.

Nilai UN JAteng dan Kalbar Terburuk

JAKARTA, KOMPAS.com – Berdasarkan data yang dipaparkan Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh, dengan perolehan jumlah 4.823 atau 0,95 persen siswa SMP/MTs yang tidak lulus ujian nasional (UN), tahun ini Provinsi Jawa Tengah sebagai Provinsi dengan jumlah siswa tidak lulus UN terbanyak. Hal itu terjadi karena jumlah siswa yang mengikuti UN di provinsi tersebut terbilang cukup banyak, yaitu mencapai 544.498 peserta.

Sementara itu, Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) menjadi provinsi dengan persentase tidak lulus UN tertinggi. Tercatat 6,15 persen atau sama dengan 3.722 siswa yang tidak lulus UN 2011 dari 60.518 siswa yang ikut UN. Setelah Kalbar, presentase ketidaklulusan tertinggi ditempati Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) yang mencapai 3,32 persen atau 657.

Selanjutnya, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menyusul dengan jumlah ketidaklulusan mencapai 2,61 persen atau sama dengan 1.919 siswa dan disusul kemudian oleh Provinsi Bangka Belitung sebanyak 2,16 persen atau 332 orang, serta Sumatera Barat sebanyak 1,85 persen atau 1.525 siswa.

“Kalau melihat dari jumlah siswa secara nasional, maka provinsi Jawa Tengah paling besar siswa yang tidak lulus UN, yaitu sebanyak 4.823 orang atau 0,95 persen,” kata Mendiknas kepada wartawan, Rabu (1/6/2011), di Jakarta.

Untuk tahun 2011 ini ada 20.234 siswa SMP/MTS atau sekitar 0,55 persen siswa tidak lulus UN. Rata-rata siswa yang tidak lulus UN itu memperoleh nilai kurang dari 5.00. Sedangkan siswa yang berhasil lulus sebanyak 3.640.569 siswa atau 99,45 persen dari 3.660.803 siswa SMP/MTs yang mengikuti UN tahun 2011.

Mendiknas mengatakan, tingkat kelulusan UN tahun ini mengalami peningkatan sekitar 0,03 persen dibandingkan tahun lalu yang hanya mencapai 99,42 persen.

“Data awal peserta yang akan mengikuti UN berjumlah 3.714.216 siswa. Setelah itu sekolah kita minta untuk memasukkan nilai sekolah, dan ada 36.685 siswa tidak diberikan nilai dengan berbagai macam alasan. Jadi, tinggal 3.677.531 siswa. Dari sini ternyata semuanya tak ikut UN, yang ikut hanya 3.660.803 siswa,” jelasnya.

Iklan