Senin depan (11/07) Insya Allah tahun ajaran baru 2011/2012 dimulai, para orang tua murid menyiapkan dana berlebih untuk menyiapkan biaya masuk sekolah. Padahal katanya sekolah gratis, lalu kenapa menyiapkan uang berlebih ? Ya .. baju sekolah, sepatu, buku tentunya tidak gratis. Sebagian harus ditebus di sekolah antara lain emblem, topi, dasi, kerudung, bahkan kaos kaki. Padahal otak, sikap dan religi tak terlalu dipengaruhi oleh pakaian .. (itu sih pendapat para idealis), ya memang sebenarnya, karena apa gunanya pakaian mentereng kalo otaknya nol, sikapnya jelek,ibadah nya melempem. Tapi lupakanlah masalah tetek bengek anak masuk sekolah itu.

Pendidikan dasar di Indonesia memang mendapatkan subsidi besar dari pemerintah. Dalam bentuk dana BOS, hingga seluruh pendidikan dasar mulai SD/MI sampai dengan SMP/MTs digratiskan. Namun perlu diingat, untuk sekolah swasta walau mereka juga mendapat dana BOS, tapi tentunya dana BOS hanya mengakomodasi pembiayaan belanja operasional sekolah, tidak untuk pengembangan sarana dan prasarana sekolah. Sekolah swasta yang besar, sebaliknya malah ada yang menolak dana BOS.

Sementara itu sekolah negeri pun, jangan dikira selalu cukup untuk memenuhi kebutuhan belanja sekolah dalam setahun. Misalnya pengadaan komputer, dengan dana BOS hanya bisa dibelikan komputer sebanyak 2 buah. Kebayang kan untuk memiliki 10 buah komputer perlu waktu 5 tahun. Atau untuk di Kementeriaan Agama,misalnya karena dana BOS masuk dalam kategori belanja barang, jangan harap bisa beli barang yang termasuk dalam kategori belanja barang modal dan belanja pemeliharaan, seperti meja, kursi, lemari, perbaikan ringan bangunan dan lain-lain.

Lebih kurang anggaran belanja sekolah/madrasah sebenarnya tertulis dalam RAPBS/RAPBM. Jika rencana pendapatan dan belanja sekolah/madrasah masuk akal sebenarnya para orang tua/wali murid harap memakluminya, apalagi jika berpikir untuk kemajuan pendidkan anaknya sendiri.

Namun tips bagi orang tua/wali murid, harap diperhatikan betul-betul beberapa jenis belanja yang sebenarnya bisa diakomodasi oleh BOS seperti jenis honor guru dalam berbagai kegiatan dan kegiatan ekstrakurikuler. Tak ada alasan untuk tidak memaksimalkan dana BOS,  malah meminta kembali ke orang tua/wali murid. Jika ada kekurangan dana untuk pengembangan sekolah/madrasah sebaiknya harus dibicarakan dan disetujui dalam rapat komite, yang dapat dipertanggungjawabkan hasilnya.

Ada jenis belanja yang tidak dapat ditanggulangi oleh sekolah dan tidak bisa diakomodasi dana BOS, sementara itu bantuan dari pemerintah tak kunjung datang, seperti  komputer (padahal TIK jadi mata pelajaran, ribuan siswa hanya bisa mengkhayal belajar komputer alias gurunya cuman bisa bercerita, tragis kan !), sarana olahraga, perbaikan ringan hingga berat bangunan sekolah, meubelair kelas seperti meja, kursi, lemari dan lain-lain yang berkategori belanja modal. Hal-hal tersebut yang bisa digunakan oleh sekolah/madrasah istilahnya ‘malak’ siswa.

Di Kementeriaan Agama, arah anggaran dana BOS mulai tahun depan sudah lebih ke spesifik, karena madrasah dalam penyusunan anggaran (DIPA) tahun depan sudah boleh menganggarkan jenis-jenis belanja modal dalam dana BOS. Perencanaan yang baik tentunya akan berdampak baik pada madrasah. Jadi, singkat kata, jika perlu 100 kursi dan meja baru pada anggaran tahun depan, tinggal memasukkan nya ke dalam rencana anggaran. Entah, bagaimana pelaksanaannya kita tunggu saja Desember 2011, saat pengesahan DIPA 2012.

Iklan