Rapat Dinas di awal ajaran tahun ajaran baru kemaren, berlangsung alot. Beberapa inovasi baru diajukan beberapa  guru dan kepala madrasah. Sebagian ada yang disetujui secara koor oleh peserta rapat, ada juga program yang ditolak mentah-mentah oleh dewan guru. Agak aneh memang ketika program-program itu direncanakan tidak dalam bentuk Rencana Anggaran Belanja Madrasah (RAPBM) yang dibuat setiap awal tahun anggaran.  Rencana strategis (renstra) madrasah harusnya sinkron dengan ketersediaan anggaran. Anggaran tersedia mulai dari awal tahun anggaran, jika direncanakan di tahun ajaran yang berarti ditengah tahun anggaran, berarti hampir dipastikan enam bulan berikutnya harus gelap-gelapan karena kita tidak tahu pasti anggaran tahun depannya.

Sebaiknya memang renstra pengembangan madrasah dibuat saat dimulai tahun anggaran, sehingga kita tahu pasti ketersediaan anggaran untuk rencana kegiatan dalam setahun. Jika program dibuat di tengah tahun anggaran, madrasah hanya menggunakan sisa anggaran di tahun anggaran yang sedang berjalan. Ketika dijelaskan hal demikian, beberapa pihak tetap berkeras, bahwa program harus dirancang pada saat sekarang (awal tahun pelajaran), maka ya .. terserah saja.

Perencanaan program pengembangan madrasah pun banyak mendapat sorotan teman-teman guru (termasuk saya yang paling alot hehehe), sebagai madrasah yang terletak di pedesaan dengan latar belakang orang tua/wali siswa yang banyak dari kalangan petani, serta rendahnya peran orang tua/walimurid terhadap pengembangan madrasah, tentu tak banyak program yang ‘muluk-muluk’ bisa disodorkan.

Termasuk ketika ada yang mengusulkan pembuatan kelas khusus yang disebut  dengan kelas ‘bina prestasi’,  secara prinsipil dan inovasi pengembangan madrasah memang sangat baik, terutama untuk terus meningkatkan prestasi siswa. Namun program ini, tentunya memerlukan kesiapan semua elemen madrasah. Kesiapan guru dan penyediaan dana adalah faktor utamanya, karena pelaksanaannya di luar jam reguler. Kelas ‘bina prestasi’ ini di adopsi dari sekolah maju dengan dana yang ‘bejibun’ tentunya didukung oleh semua elemen madrasah serta orang tua wali/murid.

Alhasil, justru banyak guru yang berdebat di luar dibanding dalam rapat. Konsep pengembangan madrasah sebenarnya bisa dimulai dengan pelaksanaan seluruh kegiatan madrasah secara sebaik-baiknya, tanpa harus mengadopsi yang dilakukan oleh sekolah yang maju dan dengan dana yang bejibun. Kelas ‘bina prestasi’ itukan sebenarnya hampir sama dengan pengayaan yang menjadi tugas utama guru. Siswa yang dianggap pintar secara pararel  dikumpulkan dalam satu kelas khusus untuk ditingkatkan prestasinya. Pengawasan yang diperketat, apakah guru sudah melakukan pengayaan, saya kira termasuk yang sudah melakukan ‘bina prestasi’.

Anda punya program yang akan  dan sudah dilaksanakan di tahun ajaran baru ini ?? Mari kita share ..

Semoga bermanfaat

Iklan