Melalui akun twitter nya @dennyindrayana, staf khusus Presiden bidang hukum, HAM dan Pemberantasan KKN, pada bulan Agustus lalu, bagi-bagi buku yang berjudul ‘Indonesia Optimis’. Alhamdulillah yah, saya termasuk dari sekian yang mendapatkannya, gratis tentunya. Buku ini berisi optimisme sang profesor kelahiran Kotabaru Kalimantan Selatan ini, tentang hukum dan pemberantasan korupsi di Indonesia, yang kerap kali diberitakan selalu bermasalah tanpa pencapaian.

Menjelang Pilpres 2014 suhu politik semakin meningkat, arus pesimisme pun meningkat pula. Pencapaian yang baik seolah tidak menarik untuk dibahas di ruang publik. Walau Denny Indrayana, mengakui bahwa persoalan hukum, HAM dan pemberantasan korupsi tidak sedikit. Setidaknya ada tiga pencapaian menurut Denny yang menjadi fokus isi buku Indonesia Optimis, yaitu capaian di bidang demokrasi, pemerintahan dan antikorupsi.

Di bidang demokrasi, Denny menolak anggapan bahwa reformasi telah gagal. Indikator pencapaiannya bisa dilihat dari adanya kebebasan pers dan reformasi TNI serta angka-angka indeks dari pihak ketiga seperti. World Bank, Freedom House, Reporters Sans Frontieres dan lain-lain, yang menunjukkan trend positif. Diantaranya adalah indeks Demokrasi Indonesia pada skor keseluruhan meningkat 6,53 pada tahun 2010 daripada tahun 2008 yang sebesar 6,34. Sayangnya Denny Indrayana, tak membahas tentang reformasi birokrasi dengan perspektifnya. Walau perlu kajian dan telaah, penguatan reformasi birokrasi bisa jadi akan menurunkan tindak korupsi di kalangan birokrat.

Selanjutnya Denny, membahas dan membantah dengan logika sederhana terhadap orang-orang yang mempertanyakan kepemimpinan (leadership) Presiden Sby. Plus tulisan singkat tentang SBY. Kutipan singkat dari Wikipedia Indonesia, memulai cerita singkat tentang SBY, ditambah dengan tulisan singkat Denny di harian lokal Banjarmasin Post. Secara singkat SBY, memiliki karir lengkap di militer hingga menyandang Jendral bintang empat (kalah dgn pak Harto yg bintang lima .. Hehe). Sekaligus sebagai pribadi yang lengkap, intelektual tinggi dan berkeseniaan yang tinggi. Kepemimpinan yang lengkap mulai dari militer hingga menjadi menteri pada jaman Gus Dur dan Megawati, menurut Denny membantah dengan sendirinya bahwa SBY tidak punya jiwa leadership. Termasuk ketiga dianggap tidak tegas dan lamban, hal ini menurutnya karena SBY mempertimbangkan banyak faktor secara utuh dan membutuhkan waktu.

Presiden di era reformasi tentu berbeda dengan era otoritarian. Kekuasaan presiden dibatasi dengan sistem kontrol dan saling imbang yang lebih kokoh dengan legislatif. Demikian juga UU yang dibuat dengan DPR di kontrol oleh Mahkamah Konstitusi. Hak prerogatif Presiden di era reformasi pun mengalami pembatasan. Konsekuensi logis dari koalisi dan dukungan politik kabinet yang dibentuk pun memperhatikan komposisi partai pendukung di kabinet. Pemilihan Panglima TNI dan Kapolri harus dengan persetujuan DPR, bahkan dalam Pemilihan calon pimpinan KPK tidak melibatkan presiden.

Bagian terakhir buku Indonesia Optimis, berisi dengan optimisme Denny Indrayana tentang pemberantasan korupsi yang sedang dan akan terus berjalan. Optimisme Denny, terangkum dalam lima hal, yaitu Pertama, Indonesia pasca reformasi adalah negara demokratis. Yang berarti akan lebih antikorupsi. Kedua, Regulasi antikorupsi yang membaik. Berupa perbaikan UU antikorupsia, UU KPK, UU Tipikor dan lain-lain. Ketiga, Institusi antikorupsi pasca reformasi yang lebih lengkap dan berdaya. Keempat, pers yang semakin bebas menguatkan upaya pemberantasan korupsi dan yang Kelima partisipasi publik dalam agenda pemberantasan korupsi.

Demikian kurang lebih yang ada dalam buku Indonesia Optimis karya Denny Indrayana. Permasalahan bangsa besar ini menggunung terutama di bidang hukum, HAM dan pemberantasan korupsi. Padahal bangsa ini paling tidak punya capaian dan alasan untuk optimis. Optimis untuk bisa lebih baik di kemudian hari. Masih pesimis kah anda ? Besarnya Optimisme Denny, mungkin tak sebesar optimisme saya, menurut saya ada lagi sifat yang harus dimiliki siapa pun orang dibangsa ini adalah kesungguhan. Kesungguhan yang datang dari dalam hati, terlepas dari kepentingan dan dari dasar hati yang bersih

Terima kasih pak Denny Indrayana, atas bukunya

Ditulis dengan WordPress untuk Blackberry

Iklan