Mengundurkan diri merupakan simpulan yang tepat untuk menggambarkan kejadian beberapa hari ini di madrasah. Pemikiran untuk kembali ke “khittah” sebagai seorang guru, sebenarnya sudah ada sejak lama. Walau sebenarnya saya sudah agak enjoy dengan pekerjaan tambahan ini selain mengajar.

Beberapa tahun lalu, saya agak tersiksa harus meninggalkan madrasah untuk ngantri di KPPN. Dalam hati, daripada saya harus ngantri di KPPN gini mending saya ngajar di madrasah. Keinginan saya mengundurkan diri sebagai pengelola keuangan dan barang milik negara kembali mengemuka di penghujung anggaran tahun 2011.

Masalahnya tidak sepele, adanya ketidakpercayaan dari sebagian kalangan warga madrasah terhadap pengelola keuangan. Yang diributkan masalah belanja modal yang dilaksanakan di madrasah. Entah, –tahu atau tidak—bahwa setiap penyelenggaraan kegiatan belanja modal, pembiayaannya melingkupi kegiatan mulai perencanaan, pengawasan dan pekerjaan fisik. Dan semua diserahkan kepada konsultan perencanaan, pengawasan dan kontarktor pelaksana pekerjaan. Semua pekerjaan diserahkan kepada perusahaan, tidak dikerjakan oleh guru, kepala madrasah, apalagi operator seperti saya.

Saya dituding, ‘kekenyangan’ makan keuntungan dari proyek belanja modal ini, bahkan diperkirakan saya memperoleh laba hampir separo dari pagu. Luar biasa asal ngomongnya dan sangat khianat bagi saya. Tidak semua pagu DIPA belanja modal itu untuk pekerjaan fisik. Paga DIPA itu juga memuat untuk pembayaran konsultan perencanaan, pengawasan, pengelolaan administrasi, pajak sebesar 12,5% dan keuntungan bagi perusahaan. Mana ada perusahaan yang tidak mau untung dalam pekerjaan. Hitung aja, misalnya konsultan perencanaan dapat 5%, konsultan pengawas 3%, pengelolaan administrasi 1,5%, pajak 12,5%, keuntungan perusahaan minimal 15%. Berarti ada sekitar 37% dari pagu yg tidak digunakan untuk pekerjaan fisik.

Semua pekerjaan yang dilaksanakan oleh kontraktor pelaksana kan mengacu pada RAB yang dibuat oleh konsultan perencanaan. Sanksi yang diterima perusahaan jika tidak sesuai dengan RAB tentu akan dipertanggungjawabkan oleh perusahaan. Lalu apa ruginya bagi guru, ?? Rugi nggak dapat persenan dari kontraktor ?

Dan, harap diingat bahwa uang semua pekerjaan belanja modal tidak masuk ke rekening bendahara pengeluaran apalagi ke rekening saya, semua masuk ke rekening perusahaan. Hingga dimana nya saya ‘kekenyangan’ makan duit proyek.

Berdasarkan kenyataan di atas, saya siap untuk menyerahkan mandat sebagai pengelolaan keuangan. Pengelolaan keuangan secara bertahap akan saya serahkan kepada pengelola yang baru. Karena tentunya tidak mudah menyerahkan sekitar 7 sampai 8 Aplikasi kepada pengelola baru, yang tidak tahu apa-apa tentang aplikasi keuangan.

Benar-benar saya jadi lelah pikiran jadinya .. hehehe

Ditulis dengan WordPress untuk Blackberry

Iklan