Beberapa hari dibeberapa media online di realese berita hasil survey oleh KPK tentang kementerian dan lembaga yang terindikasi masih adanya suap dan perilaku korup (secara detil jenis survey–maaf saya tidak tahu). Alhasil, Kementerian Agama termasuk K/L (Kementerian/Lembaga) yang masih tinggi perilaku suap dan korupsinya. Bahkan di pintu depan KPPN Banjarmasin terpampang berita K/L yang dianggap masih tinggi suap dan korupsinya. Namun, judul berita yang dikutip dari detiknews.com itu sangat menyesakkan, yaitu Admnistrasi Nikah di KUA masih dianggap sebagai ladang suap. Walau maksud KPPN Banjarmasin, sebenarnya ingin menyampaikan berita bahwa KPPN  sebagai lembaga  di nomor paling atas yang bersih atau rendah perilaku suap dan korupsinya.Pagi ini (Minggu, 4/12), ada lagi berita dari Bapak Surya Dharma Ali, bahwa beliau pasrah dengan predikat Kementerian Agama yang masih tinggi perilaku suap dan korupsinya.

Mari yuk, kita bahas rame-rame. Indonesia sebagai negara ke-4 terkorup di dunia, itu berita yang saya lihat di running text TV Swasta nasional.Apakah sumbangan kementerian Agama saja sehingga Indonesia sebagai negara ke-4 negara terkorup di dunia ? Tentu tidak ! dapat nomor 4 itu hasil nilai kolektif artinya tidak Kementerian Agama saja. Hampir di semua lini bos .. kayaknya.  Lalu, Apakah di semua kantor K/L bersih semua ? Siapa yang mau menjamin ? Siapa yang mau ngacung kantor K/L yang paling bersih dan tidak ada seorang oknum pun yang berprilaku suap dan korup ? Atau pegawainya rajin semua ? Loket yang seharusnya buka jam 13.30 lalu jam 14.30 baru buka, dibanding dengan suap di kantor urusan Agama yang cuma ratusan ribu (setahu saya –mungkin saya salah– nggak mungkin sampai jutaan utk suap administrasi nikah). lalu jika dibandingkan dengan Gayus yang ngemplang pajak milyaran rupiah. Puluhan anggota DPR, Gubernur, Bupati, walikota  tersangkut dengan memaling milyaran.  Malah jarang terdengar orang Kemenag yang masuk Tipikor/KPK. Dimasa lalu, semua pada korup koq. Di KPPN aja dulu (sampai 2005) satu SPM harus nyogok Rp. 50.000,-

Ya, sudahlah .. Manusia sebagai homo economicus, punya perasaan yang selalu tidak puas, dan itu sangat manusiawi serta sudah melekat pada setiap manusia. Saya sering menanyakan dengan murid saya, “siapa yang mau uang Rp. 1.000,-” serentak semua menjawab “saya, pak”, terus saya nanya lagi “siapa yang mau uang Rp. 5.000,-” lalu serentak semua menjawab “saya, pak “. Nah, itu ketahuan homo economicusnya, yang seribu aja belum bersyukur mau ngambil yang lima ribu lagi. Hihihi, contoh simple menjelaskan homo economicus. Sama  aja kan dengan pejabat dengan gaji dan tunjangan selangit, masih saja memaling duit rakyat.

Namun yang harus diingat,  masih banyak koq, yang pada jujur walau tak ada sempurna, sebab manusia tempatnya nafsu, salah dan khilaf. Semoga bermanfaat.

Iklan