Wah.. saya tak mengira postingan tentang SK Dirjen dan NRG untuk Guru Madrasah mendapat banyak komentar. Namun, sekali lagi saya menegaskan, saya tidak menyediakan SK Dirjen dan NRG untuk seluruh Indonesia. Saya hanya memberi tahu, kalau di satuan kerja kami telah mendapat SK Dirjen dan NRG. Selanjutnya, ikhtiar anda semua untuk mendapatkannya. Ada beberapa komentar di blog ini, yang menyejukkan misalkan ada teman dari suatu daerah dengan pengalamannya menghubungi salah satu pejabat di kanwil setempat, walau katanya jika mau ngurus NRG pakai  ‘terima kasih duluan’ (saya pura-pura nggak ngerti .. ah) ditanggung 2-7 hari NRG keluar .

Ada juga teman dari Banten, dengan cara menghubungi beberapa pejabat di Mapenda akan dilayani. Mungkin komentar yang beginian sebenarnya kita perlukan, sehingga bisa jadi solusi bagi guru pencari SK Dirjen dan NRG. Mengutip komentar teman juga di blog ini, bahwa rezeki itu perlu ikhtiar alias di usahakan, kiranya ada benarnya. Walau demo juga salah satu jalan, bahkan di atur dalam UU, bisa jadi sok therapi bagi pengambil kebijakan. Namun kalo saya sih, terus terang ‘nggak berani lagi’ dan jaman saya teriak-teriak di jalan sudah lewat. Tugas utama kita (guru) adalah mencerdaskan anak bangsa, suatu tugas yang sangat mulia, walau tak dimuliakan secara hebat oleh penguasa.

Masih banyak koq, kisah pilu guru dengan ribetnya pengurusan mendapatkan tunjangan profesi, lebih dari sekedar tak punya SK Dirjen dan NRG. salah seorang guru madrasah, tiga tahun menjelang pensiun tak dipanggil-panggil untuk sertifikasi akhirnya beliaupun tak sepeserpun mendapat tunjangan profesi. Atau ada lagi cerita unik, kemarin Kamis (8/12) saya bertemu dengan seorang guru, beliau S2, pernah ekstensi ke luar negeri, guru teladan, nyambi jadi dosen di universitas swasta, guru instruktur, penulis buku dan penikmat blog ini juga, namun ketika saya tanya ‘Apakah bapak punya NRG ?’ Saya terkaget-kaget ternyata beliau belum punya NRG. Beliau malah menanggapinya dengan tertawa saja ketika saya tanya, “masa guru se profesional anda tak punya NRG ?” lalu “apa alasan terbit dan tidaknya nya NRG ?” Kami pun sepakat dengan jawaban “sama-sama tidak tahu” .. Hahahahaha

Iklan