Foto Pribadi

Akhir semester biasanya ditandai dengan proses penilaian untuk mengisi raport peserta didik. Semester pertama tahun ajaran 2011-2012 terasa agak beda dengan semester sebelumnya. Yang baru adalah peenetuan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang tahun ini kayaknya agak tinggi dibnding tahun-tahun sebelumnya. Entah kenapa, beberapa hari yang lalu di ibukota kabupaten semua kepala sekolah dan madrasah dikumpulkan untuk sosialisasi Ujian Nasional 2012. Menurut pesan yang dibawa oleh Kepala Madrasah, bahwa nilai raport per semester termasuk yang menentukan kelulusan. Saya tidak mendalami maksud dari nilai raport per semester menentukan kelulusan. Selain mata pelajaran yang saya ajarkan tidak termasuk yang di UN-kan dan juga saya bukan guru kelas IX yang bisaanya menilai UAS mata pelajaran IPS. Terlebih saya termasuk penentang UN dan praktek kotor nya.

Pesan lainnya, bahwa peserta didik bisa lulus UN dengan nilai 4 (empat) jika nilai di raport minimal 7. Jika ada praktek kotor lagi dengan soal yang ‘bocor’, sebenarnya tak jadi masalah. Mau nilai raport berapa saja tentu akan lulus juga. Sepertinya untuk mengantisipasi nilai UN rendah, akibat bocoran soal tidak ada lagi, maka salah satu jalannya adalah dengan mendongkrak nilai rapaort. Caranya tidak lain dan tidak bukan adalah meningkatkan KKM. Sekolah/madrasah dengan input peserta didik yang rendah, sarana sekolah yang tidak memadai, daerah pinggiran/pedesaan/terpencil, guru-guru mata pelajaran yang dianggap sulit seperti Matematika, bahasa Inggris tentu akan teriak. Gakkkkkk Bisa, atau pakai kalimatnya Sule,.. oooooo tidak bisaa.. 🙂

Di sekolah/madrasah yang maju, tentu tak masalah tinggal genjot peserta didik untuk masuk kelas tambahan atau di ajak ke bimbingan belajar baik yang dikelola oleh gurunya sendiri atau masuk bimbingan belajar di luar sekolah. Yang  di pedesaan tinggal pasrah. Dalam sebuah rapat di madrasah, saya menantang guru matematika bisa nggak menjamin siswa paling tidak bisa menjawab soal  sebanyak 20 soal saja, dengan asumsi siswa dapat nilai 5. Dari tiga orang guru matematika, tidak ada yang berani satu pun. Maksud saya, jika siswa bisa menjawab separo soal UN dan dapat nilai 5, maka KKM tak harus 7, tapi karena tidak ada menjamin dan diperkirakan dengan hal itu banyak yang tidak lulus. Tak ada jalan lain selain meningkatkan KKM.

Usaha maksimal guru, saya kira jadi solusi. Guru harus bersusah payah menuntaskan ketuntasan belajar, genjot siswa bisa menguasai materi secara maksimal. Sebab pada nilai harian, tugas dan UTS lah nilai itu bisa di rubah-rubah dengan program remedial. Kalau sudah Ujian Semester nggak ada lagi dong remedial. Namun, ada juga guru yang cerita, “sudah saya remedial pak, saya beri materi tambahan, saya ulang sekali lagi, tetap pak, nggak nyambung, malah ada nilainya yang tambah jatuh”.. dengar cerita beginian saya malah tertawa. Habis ya, gimana lagi. Atau kalo ketemu yang beginian, di bina di sekolah favorit dan berlabel internasional, bisa ngurus nggak ya ..

Jika tak punya cara lagi, dan anda (guru) tak tega meninggal kelas peserta didik,.. solusi terakhir adalah system nilai konversi. Suatu system menaikkan nilai yang adil, karena semua siswa mendapat kenaikan nilai atau konversi. Untuk hal ini, bisa lihat postingan saya di sini

Semoga bermanfaat dan menurut anda ?

Iklan