Beberapa minggu sebelum dan sesudah rencana kenaikan BBM yang akhirnya dibatalkan/ditunda oleh pemerintah, di Banjarmasin terjadi antrian panjang di SPBU. Antrian panjang disebabkan oleh para pelansir yang ingin mengambil keuntungan sesaat jika BBM dinaikkan, ternyata setelah BBM ditunda kenaikannya, gejala pelansir tak kunjung reda, malah semakin menjadi-jadi. SPBU baru buka antrian panjang sudah menunggu, anehnya SPBU tutup namun penjual BBM terutama premium malah menjamur di penjuru kota Banjarmasin. Harganya pun jadi selangit, mulai dari Rp. 11.000,- hingga yang paling murah Rp. 7.000,-. Pemerintah daerah beserta jajaran Muspida Kalsel seolah tak melakukan apa-apa untuk mengatasiĀ  hal ini. Kalau ada action dari pemerintah daerah tentu tak akan berkepanjangan antrian di SPBU. Logika berpikir sederhana, kan !

Yang beginian nih, khawatirnya jadi stigma negatif bagi urang Banjar. Seperti nya urang Banjar jadi urang (orang) yang sukar untuk diatur, sesukanya dan tidak peduli dengan keadaan, yang penting mereka dapat untung banyak. Memang jadi pelansir adalah salah satu usaha dalam memenuhi kebutuhan hidup, namun dalam Islam berdagang itu ada adabnya, salah satunya adalah Ihsan. Menjalankan perdagangan dengan memepertimbangkan aspek kemaslahatan dan keberkahan dari Allah SWT, selain mendapat keuntungan.

Pedoman secara umum tentang masalah kerja, yaitu Islam tidak membolehkan pengikut-pengikutnya untuk bekerja mencari uang sesuka hatinya dan dengan jalan apapun yang dimaksud. Tetapi Islam memberikan kepada mereka suatu garis pemisah antara yang boleh dan yang tidak boleh dalam mencari perbekalan hidup, dengan menitikberatkan juga kepada masalah kemaslahatan umum. Garis pemisah ini berdiri di atas landasan yang bersifat kulli (menyeluruh) yang mengatakan: “Bahwa semua jalan untuk berusaha mencari uang yang tidak menghasilkan manfaat kepada seseorang kecuali dengan menjatuhkan orang lain, adalah tidak dibenarkan. Dan semua jalan yang saling mendatangkan manfaat antara individu-individu dengan saling rela-merelakan dan adil, adalah dibenarkan.”

Prinsip ini telah ditegaskan oleh Allah dalam firmanNya:

“Hai orang-orang yang beriman! Jangan kamu memakan harta-harta saudaramu dengan cara yang batil, kecuali harta itu diperoleh dengan jalan dagang yang ada saling kerelaan dari antara kamu. Dan jangan kamu membunuh diri-diri kamu, karena sesungguhnya Allah maha belas-kasih kepadamu. Dan barangsiapa berbuat demikian dengan sikap permusuhan dan penganiayaan, maka kelak akan Kami masukkan dia ke dalam api neraka.” (an-Nisa’:29-30)

Ayat ini memberikan syarat boleh dilangsungkannya perdagangan dengan dua hal: Perdagangan itu harus dilakukan atas dasar saling rela antara kedua belah pihak. Tidak boleh bermanfaat untuk satu pihak dengan merugikan pihak lain.

Padahal Islam telah menjadi ciri masyarakat Banjar sejak berabad-abad yang silam. Islam juga telah menjadi identitas mereka, yang membedakannya dengan kelompok-kelompok Dayak yang ada di sekitarnya, yang umumnya masih menganut religi sukunya. Memeluk Islam merupakan kebanggaan tersendiri, setidak-tidaknya dahulu, sehingga berpindah agama di kalangan masyarakat Dayakdikatakan sebagai “babarasih” (membersihkan diri) di samping menjadi orang Banjar.

Lalu, bagaimana menurut anda ?

Dari berbagai sumber

1. http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Banjar

2. http://www.muslimbusana.com/umum/adab-berdagang-dalam-islam/index.htm

3. http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Halal/2048.html

 

Iklan