Seluruh guru di Indonesia (kecuali guru madrasah) serentak sejak tanggal 31 Juli 2012, mengikuti uji kompetensi guru yang dilaksanakan secara online. Karena belum mengikuti sosialisasinya (apalagi saya guru madrasah), saya tidak tahu apa maksud dan tujuan uji kompetensi ini, beritanya sepenggal-sepenggal yang saya terima. Oke lah, saya berlaga sok tahu aja nih (maaf-maaf kata nih), kira-kira tujuannya untuk pemetaan guru, pemetaan penguasaan kompetensi guru. Setahu saya, kompetensi adalah kemampuan kepribadian, ada 2 kompetensi utama guru yaitu pedagogik dan profesional. Kompetensi pedagogik, mutlak harus guru miliki, karena kompetensi inilah yang membedakan dengan profesioal lainnya (cieh, hebat nih). Ada 7 aspek dan 45 indikator dalam kompetensi pedagogik, silakan browsing aja, sudah banyak yang menulis. sedang Kompetensi Profesional yaitu kemampuan yang harus dimiliki guru da­lam perencanaan dan pelaksanaan proses pembelajaran. Guru mempunyai tu­gas untuk mengarahkan kegiatan belajar siswa untuk mencapai tujuan pem­belajaran, untuk itu guru dituntut mampu menyampaikan bahan pelajaran. Guru harus selalu meng-update, dan menguasai materi pelajaran yang disaji­kan.

Nah, paparan singkat di atas itulah yang akan diuji dalam Uji Kompetensi Guru. Jika melirik (beraninya cuman melirik), hasil fantastis Ujian Nasional di berbagai tingkat pendidikan formal, sebenarnya ada masalah apa dengan kompetensi guru. Hasil nasional kelulusan dalam Ujian nasional 98%, sebenarnya data tak terbantahkan, baiknya kompetensi guru itu. Kecuali, jika dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan kebudayaan itu justru tidak percaya dengan hasil fantastis tersebut. Sehingga perlu kiranya diadakan uji kompetensi lagi, siap nggak dengan hasil terbalik, kompetensi rendah namun hasil UN mentereng tingginya .. hehehe

Di analogikan, uji kompetensi guru ini seperti dengan Kemerdekaan Republik Indonesia. Secara de fakto, kita merdeka 17 Agustus 1945 dan tidak bisa terbantahkan, jika kita mengingkarinya berarti mengingkari juga perjuangan para pahlawan yang berkorban harta dan nyawa. Hasil UN 98% lulus juga tak terbantahkan, itu de factonya. Namun de jure, Indonesia antara tahun 1945-1949 tidak lah secara benar-benar melaksanakan pemerintahan layaknya sebuah negara merdeka, karena harus menghadapi serangan balik Belanda yang ingin menguasai Indonesia. Analoginya dengan pendidikan kita, walau dengan hasil UN mentereng masih banyak anggapan sebagian orang bahwa guru tidak se profesional yang diharapkan, peningkatan kesejahteraan guru tak sebanding dengan ke preofesionalannya, plus tikaman iri sebagian orang dengan apa yang diperoleh guru.

Simpulannya, apakah Uji Kompetensi Guru akan seperti Konfrensi Meja Bundar (KMB) di Den Haaq, Belanda ? Sebuah pertemuan Indonesia dan Belanda yang berisi serah terima kekuasaan, setelah Belanda tak berhasil baik secara kekerasan maupun perundingan menguasai Indonesia. Analoginya, apakah UKG merupakan KMB nya pendidikan kita untuk mempertegas kemampuan kepribadian guru kita yang mumpuni dalam bentuk penguasaan kompetensi yang baik .. Wallahu allam

13 Ramadhan 1433 hijriah

 

 

 

Iklan