Ada sarkasme berumur puluhan tahun di Kalimantan Selatan tentang listrik, byar pet atau lampu mati tiba-tiba adalah biasa, yang tidak biasa adalah lampu menyala terus sepanjang tahun. Ironisnya, Kalimantan Selatan adalah lumbung energi, paling tidak menurut Indonesia Mineral and Coal Statistics, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral Tahun 2005, produksi batubara di Kalimantan Selatan, yang tercatat secara resmi pada tahun 2003 adalah 46.116.289,80 ton dan meningkat pada tahun 2004, yaitu sebesar 54.540.977,16 ton. Ini logika ngaak nyambung pertama, kita (Kalsel) penyumbang utama energi nasional (terutama Jawa dan Bali) untuk mereka bersenang-senang di malam hari dalam keadaan terang, sedang disini bergelap-gelapan ditambah dengan gerahnya cuaca karena ciri khas alam dataran rendah dengan tingginya kelembapan.

Emangnya Kalsel tidak punya pembangkit listrik ? Punya dong, setidaknya Kalimanatan Selatan punya satu PLTA, satu PLTG, dan satu PLTU. Namun, jumlahnya tak mampu mensuplai kebutuhan listrik di Kalimantan Selatan. Al hasil jika salah satu pembangkit listrik bermasalah (istilah PLN gangguan) maka gelaplah dunia. Anehnya (mungkin tidak aneh bagi PLN) kerusakan/gangguan seperti berkala alias dalam periode tertentu. Entah pembangkit lain di nusantara punya masalah yang sama dengan pembangkit yang ada di Kalsel, tapi kita jarang-jarang koq dengar berita, misalnya ada menyala bergilir di Jakarta atau kota-kota besar lainnya di Jawa.

Kalimantan Selatan, setelah puluhan tahun mengalami krisis listrik berharap banyak pada PLTU Asam-asam unit III dan IV dengan kekuatan 2 x 65 MW, seperti yng dijanjikan oleh Gubernur Kalimantan Selatan H. Rudy Arifin (kebetulan nih, langsung kepada saya di Twitter) akan masuk ke sistem listrik pada akhir bulan Nopember 2012. Kita tunggu deh pokoknya realisasinya.

Gejala-gejala ketidak puasan rakyat Kalsel pun menyeruak, mulai dengan memblokade sungai Barito (beberapa bulan yang lalu), hingga demo di depan istana negara beberapa hari yang lalu. Dalam teori gerakan massa menurut Eric Hoffer, sekumpulan perasaan kecewa biasanya akan menggumpal menjadi gerakan yang muncul karena adanya kerelaan partisipannya untuk berkorban sampai mati yang dilakukan dengan kompak, dan didorong oleh fanatisme, antusiasme dan harapan yang berapi-api. Tujuannya hanya satu: perubahan. Menurut Hoffer, dorongan semacam ini hanya akan ada di kalangan orang-orang yang terpinggirkan dan merasa frustrasi dengan keadaan di sekitarnya.

Jika muncul gerakan masiv dan anarkis (kalsel telah membuktikannya tahun 1998, ingat peristiwa berdarah ‘Banjarmasin Kelabu’), maka yang rugi adalah kita semua. Karena disini (Kalsel), telah membuktikan kita ‘tak sanggup’ menyimpan kekecewaan dan frustasi begitu luas, akhirnya keluar semuanya dalam bentuk anarkis.

bagaimana menurut anda ?

Iklan