Ini adalah perjalanan kedua kali saya ke pulau dewata Bali. Pulau yang merupakan gugusan kepulauan Sunda Kecil. Konon kabarnya, salah satu pulau eksotik di dunia, dengan keindahan alamnya dan keragaman budaya khas yang dimilikinya. Bali terkenal di manca negara sejak tahun 1930-an ketika pelukis Jerman Walter Spies dan pelukis Belanda Rudolf Bonnet menetap di sana. Peluang pariwisata benar-benar dikembangkan oleh pemerintah pusat dan daerah, sehingga pariwisata jadi primadona utama propinsi yang mayoritas penduduknya beragama Hindu ini.

Perjalanan kali ini sama dengan perjalanan saya yang terdahulu, yaitu dengan jalan darat melalui Surabaya, Jawa Timur. Cukup melelahkan memang, dengan perjalanan selama 12 jam hingga sebisannya harus tidur dalam bus, sambil menyiapkan tenaga untuk jalan-jalan di Bali.  yang tidak bisa tidur selama diperjalanan, dampaknya ketika sampai di Bali akan loyo kecapean. Boro-boro mau menikmati Bali, eh .. malah ketiduran.

Menulusuri perjalanan darat, antara Surabaya hingga ke Banyuwangi sesungguhnya menikmati jalan yang dibuat oleh masyarakat tempo doeloe penuh dengan cerita kesengsaraan. Karena termasuk jalan yang di bangun pada masa pemerintahan Gubernur-Jenderal Herman Willem Daendels. Dikenal dengan jalan pos, jalan yang panjangnya kurang lebih 1000 km yang terbentang sepanjang utara Pulau Jawa, dari Anyer sampai Panarukan. Tujuan pembangunan Jalan Raya Pos adalah memperlancar komunikasi antar daerah yang dikuasai Daendels di sepanjang Pulau Jawa dan sebagai benteng pertahanan di Pantai Utara Pulau Jawa.

Ketika baru saja menginjakkan kakinya di Pulau Jawa, Daendels berangan untuk membangun jalur transportasi sepanjang pulau Jawa guna mempertahankan Jawa dari serangan Inggris. Angan-angan Daendels untuk membangun jalan yang membentang antara Pantai Anyer hingga Panarukan, direalisasikannya dengan mewajibkan setiap penguasa pribumi lokal untuk memobilisasi rakyat, dengan target pembuatan jalan sekian kilometer. Yang gagal, termasuk para pekerjanya, dibunuh. Kepala mereka digantung di pucuk-pucuk pepohonan di kiri-kanan ruas jalan. Gubernur Jenderal Daendels memang menakutkan. Ia kejam, tak kenal ampun. Dengan tangan besinya jalan itu diselesaikan hanya dalam waktu setahun saja (1808). Suatu prestasi yang luar biasa pada zamannya. Karena itulah nama Daendels dan Jalan Raya Pos dikenal dan mendunia hingga kini.

Siapa Daendels ? seorang politikus Belanda yang merupakan Gubernur-Jenderal Hindia-Belanda yang ke-36. Ia memerintah antara tahun 1808 – 1811. Masa itu Belanda sedang dikuasai oleh Perancis. Sejatinya ia adalah seorang kelahiran Belanda, namun Pada tahun 1780 dan 1787 ia ikut para kumpulan pemberontak di Belanda dan kemudian melarikan diri ke Perancis. Di sana ia menyaksikan dari dekat Revolusi Perancis dan lalu menggabungkan diri dengan pasukan Batavia yang republikan. Akhirnya ia mencapai pangkat Jenderal dan pada tahun 1795 ia masuk Belanda dan masuk tentara Republik Batavia dengan pangkat Letnan-Jenderal. Pada tahun 1806 ia dipanggil oleh Raja Belanda, Raja Louis  untuk berbakti kembali di tentara Belanda. Ia ditugasi untuk mempertahankan provinsi Friesland dan Groningen dari serangan Prusia. Lalu setelah sukses, pada tanggal 28 Januari 1807 atas saran Kaisar Napoleon Bonaparte, ia dikirim ke Hindia-Belanda sebagai Gubernur-Jenderal.Daendels tiba di Batavia pada tanggal 5 Januari 1808 dan menggantikan Gubernur-Jenderal Albertus Wiese. Daendels diserahi tugas terutama untuk melindungi pulau Jawa dari serangan tentara Inggris. Jawa adalah satu-satunya daerah koloni Belanda-Perancis yang belum jatuh ke tangan Inggris.

Makan Malam di Probolinggo
Makan Malam di Probolinggo
DSCF2682
Di Selat Bali Jam 12 Malam
DSCF2696
Pagi Hari di Rumah Makan Sekitar Jembrana
DSCF2703
Pantai di sekitar Jembrana

Perjalanan darat ini akhirnya sampai ke Banyuwangi, tepatnya di pelabuhan Ketapang. Selanjutnya mengarungi Selat Bali yang memisahkan antara pulau Jawa (disebelah barat) dan Bali (disebelah timur).  Sebuah selat yang mempertemukan Samudera Hindia dan Laut Jawa. Sampai sekarang, ditunggu beritanya rencana pembuatan jembatan antara kedua pulau ini. Perjalanan di tempuh kurang lebih 1 jam untuk sampai ke pelabuhan Gilimanuk (Bali).

Ada Tips untuk yang melakukan perjalan darat dari Surabaya ke Bali, jika memadai bisa melakukan perjalana mulai jam 6 sore waktu Surabaya, hingga ketika masuk ke Bali sudah pagi hari. Ketika menuju Denpasar, disekitar kabupaten Jembrana kita sudah bisa menikmati indahnya pantai Samudera Hindia dengan ombaknya yang besar. Dengan pantai ‘berpasir’, pantai yang paling umum dijumpai dengan penampakan yang khas dengan kemiringan pantai yang landai dan tersusun dari material lepas seperti pasir, kerikil (gravel), batu gaplok (cobblestones) dan sejenisnya. Gelombang dan arus di pantai adalah penggerak utama terbentuknya pantai jenis ini dengan secara terus-menerus menempatkan pasir (atau material lepas lainnya) ke pantai. Beristirahat di salah salah satu rumah makan di tepi pantai sekitar Jembrana, sesuatu yang yang mengasyikansambil sarapan, mandi pagi dan pemandangan eksotik.

— Bersambung —

Iklan