Sebenarnya saya tak terlalu suka dengan acara mendengarkan para motivator yang biasanya ada di televisi nasional. Saya sering meledek mereka dengan orang ‘jualan logika’. Apalagi penyajiannya membosankan dan bikin ngantuk, untung kalo mengerti. Kalau tidak rugi waktu dan biaya saja yang di dapat. Dalam pengertian saya, mereka menjual sesuatu hasil pemikiran mereka, sesuatu yang baik dan menurut mereka berhasil, yang belum tentu menurut kita sesuatu yang baik dan berhasil kalau kita yang melaksanakan. Atau karena kita belum sampai saja berpikir tentang hal yang sudah mereka anggap baik dan berhasil tersebut.

Namun ternyata pemikiran saya, salah. Asal muasalnya berasal dari rencana masuknya anak perempuan saya yang pertama pada sebuah madrasah swasta di Banjarmasin. Setelah dinyatakan lulus tes, ada undangan untuk orang tua/wali untuk menghadiri Pelatihan Orang Tua Shaleh yang dilaksanakan hasil kerja sama antara sekolah dengan Auladi Parenting School Bandung. Waktu pelaksanaannya pun agak memberatkan saya, karena saya harus meninggalkan anak didik saya di sekolah. Sementara istri saya juga harus menjaga si kecil Abizar.

Dan ikut lah saya pada acara tersebut, ternyata acaranya tidak membosankan. Yang memberi materi adalah Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari, ternyata sudah keliling Indonesia bahkan manca negara melatih para oran tua menjadi orang tua yang smart atau pintar dan shaleh. Penyampaian materi juga bagus, dan menurut saya Abah Ihsan (begitu beliau sering dan ingin disebut) total dalam membagi ilmunya. Bahkan Abah Ihsan harus berguling-guling untuk mencontohkan kelakuan anak-anak, sehingga suasana benar-benar segar ditambah diselingi humor-humor yang tidak bikin ngantuk sama sekali.

Banyak hal yang didapat dari acara tersebut, sebagian jadi refleksi sebagian lagi jadi hal yang baru, yang bisa diterapkan dalam keluarga. Menjadi sebuah refleksi, jika kita sudah melakukan sesuatu yang baik/positif bahkan yang tidak baik/negatif. Artinya jika itu jadi sesuatu yang positif maka harus diteruskan, sedang yang negatif jangan lagi diteruskan. Misalnya, perlunya kita menjaga kedekatan dengan anak, jangan sampai ia lebih dekat dengan temannya atau malah dengan tetangga. Bahkan jangan sampai anak kita seperti anak yatim sedang orang tua nya masih hidup, karena kita tidak dekat dengan anak-anak kita.

Demikian juga dengan ketegasan, ketegasan itu dibangun bukan dengan pemaksaan dengan teriakan bahkan dengan pukulan. Sesuatu yang paling saya sesali selama mendidik anak di rumah, bahwa saya pernah memukul mereka. Dalam perenungan saya, saya sungguh menyesal dan berencana tidak akan pernah melakukannya lagi. Abah Ihsan sambil berteriak, bapak-ibu tahu apa jadinya anak kita kalo besar kalau didik dengan kekerasan, ya seabrek yang tidak baik dalam hidup ini. Naudzubillahi mindzalik.

Hal lain yang sering terjadi adalah seringnya kita membunuh kreatifitas anak kita. Misalnya dengan larangan-larangan bersosialisasi dengan lingkungan, atau mematikan fungsi psikomotornya. Menurut Abah Ihsan, anak mencoret-coret dinding rumah sesungguhnya menimbulnya kreatifitas sendiri bagi anak. Kebetulan salah satu dinding rumah saya penuh dengan coretan anak saya pertama Najwa, pada awalnya saya sempat marah, seterusnya yah saya biarin .. bahkan si kecil ikut-ikutan coret-coret juga. Biasanya ketika libur panjang dinding saya cat ulang.

Banyak hal lain dari acara smart parenting, untuk lebih jelasnya bisa di search melalui website www.auladi.net

Smart Parenting
Smart Parenting
Iklan