“Sama-sama hajatan nasional, sama-sama punya rahasia umum, sama-sama ada yang pesimis dan optimis terhadap pelaksanaan dan hasilnya, sama-sama ‘proyek besar’ dengan dana yang besar juga. Yang satu hajatan di bidang pendidikan, satunya lagi di bidang politik”. Ujian Nasional ( UN ) tingkat sekolah menengah atas tahun pelajaran 2013/2014 dan Pemilihan Umum legislatif pada tahun 2014 dilaksanakan dalam bulan yang sama yaitu pada bulan April 2014. Pelaksanaan Ujian Nasional SMA/MA/Sederajat tanggal 14-16 April 2014, sedangkan Pemilihan Umum dilaksanakan tanggal 9 April 2014. Beberapa pihak meng-amini pelaksanaan hajatan besar pendidikan dan politik ini berjalan sukses. Untuk teknis pelaksanaan, Ujian Nasional tak banyak kendala. Sedangkan Pemilu, masih ada masalah, mulai surat suara yang tertukar, kecurangan sana-sini, penggelembungan suara dan lain-lain.

Keduanya pun masih pro kontra, antara harapan dan kenyataan pada outputnya. Pelaksana Ujian Nasional dianggap telah melecehkan Keputusan Mahkamah Konstitusi tahun 2011. Mengapa? Tidak lain karena keputusan itu mengundang semakin rancunya perundangan di negeri ini. Sebab, keputusan MK yang semestinya bersifat final, di mana MK sebelumnya sudah menyatakan bahwa pelaksanaan UN di seluruh Indonesia hendaknya dihentikan dengan alasan bahwa UN itu melanggar hak asasi manusia.  Putusan Mahkamah Konstitusi sudah jelas menyatakan adanya pelanggaran dalam pelaksanaan UN, antara lain menyamaratakan mutu pendidikan di seluruh wilayah Indonesia, dan pada praktiknya  UN tidak selalu merefleksikan kompetensi pelajar. Sebab, banyak kasus siswa berprestasi di tingkat nasional bahkan internasional ternyata gagal lulus UN. Tapi, banyak juga kasus siswa yang tidak pintar, bahkan proses belajar mengajar di sekolahnya ‘’amburadul’’ siswanya bisa lulus sampai 100 persen.

Ujian Nasional juga tidak merefleksikan hasil komulatif pengembangan sumber daya manusia di Indonesia, kelulusan dengan jumlah mentereng ternyata tak ada hubungan dengan beberapa hasil survey. Bertahun-tahun lebih Ujian Nasional berjalan. Pemerintah menyatakan bahwa Ujian Nasional sebagai syarat kelulusan diperlukan untuk memetakan, menjamin dan meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia. Kenyataannya berbagai tes pemetaan global seperti PISA, TIMSS, PIRLS dan Learning Curve menunjukkan Indonesia tetap tak bergerak dari posisi terbawah sejak tahun 2000. Anak-anak kita menjadi sangat kuat dalam kemampuan hapalan, namun jeblok di kemampuan pemahaman, aplikasi, analisa, evaluasi dan sintesa. Mau lihat daftarnya bisa klik disini http://timssandpirls.bc.edu/.

Ujian Nasional dari tahun ke tahun juga semakin mendatangkan banyak permasalahan pendidikan mulai dari budaya kecurangan para pelaku pendidikan, sudah jadi rahasia umum setiap pelaksanaan Ujian naional selalu saja ada kunci jawaban yang beredar. Beberapa teman guru ada yang mengupload kunci jawaban yang beredar. Sementara seperti biasa, pelaksana Ujian Nasional membantah habis-habisan bahwa tidak ada kebocoran Ujian Nasional.

Pentingnya lulus Ujian Nasional menimbulkan seolah-olah mata pelajaran yang di UN-kan yang lebih dipentingkan. Semacam ada kasta dalam mata pelajaran di sekolah. Lebih dari itu Ujian Nasional menjadikan sekolah menjadi sekadar bimbingan tes untuk menjawab soal pilihan ganda. Ini adalah permasalahan kebijakan dan sistem, bukan sekadar teknis pelaksanaan. Ujian Nasional menciptakan insentif bagi budaya instan dan dangkal, serta menciptakan disinsentif untuk budaya bernalar dan hasrat belajar. Dengan Ujian Nasional sebagai syarat kelulusan, anak-anak kita semakin keras studying namun tak mendapatkan learning.

Sedangkan kehidupan politik hasil pemilu lalu, bagaimana ? ya, podo, sami mawon, sama haja. Yang dipilih rakyat itu, banyak yang mengkhianati pemilihnya mulai dari kasus video porno hingga yang lazim yaitu korupsi. Mulai dari hutan lindung sampai Hambalang, mulai dari cek pelawat Gubernur BI hingga Wisma Atlet, dan seterusnya. Sudah jadi rahasia umum juga, politik uang dalam pemilihan umum. Regulasi dan regulatornya, seperti tak bisa melakukan apa-apa.

Boleh lah jika anda tidak sependapat dengan saya yang pesimis dengan dua hajatan besar tersebut,.. atau mungkin anda setuju dengan saya.  ..  😀

 

 

Iklan