Aku, mungkin tak se-individualistis dan se-objektivis seperti dalam puisinya ”Aku” Chairil Anwar, yang dibacakan beliau pertama kali di Pusat Kebudayaan Jakarta bulan Juni tahun 1943. Namun aku tak mampu dan tak bisa berkehendak lebih, seperti kehendak para individualistis, berkebebasan dan menentang intervensi. Tidak juga se objektivis seperti  Friedrich Nietzsche, walau bukan penderitaan tapi beban kerja malah membuat ku tak terlalu kuat. Kenyataan obyektif nya adalah sesuatu yang memiliki obyektif tapi tak bisa dibandingkan oleh hal nyata lainnya.

Aku malah skeptis melihat sekelilingku. Walau tak se ekstrem  Nietsche dengan nihilisme, bahwa manusia tak punya tujuan dan tak punya arti. Tapi, sungguh yang kulihat mereka “hampir” tak punya arti dan tujuan, paling tidak arti dan tujuan nya tidak jelas. Mungkin, mereka hanya menjalankan hidup tanpa tujuan dan arti. Bekerja untuk apa pun tak jelas, apakah seperti manifestonya Marx untuk perjuangan kelas manusia, atau seperti John Locke yang mencita-citakan para liberalis yang bebas dan menolak adanya pembatasan. atau mungkin mendapat ridha seluas-luasnya dari Allah SWT. Wallahualam

Bekerja, pada zaman sebelum Masehi malah dianggap ‘rendah’ karena bangsawan tak perlu kerja. Locke, Hegel dan muridnya Marx, mulai merubah refleksi tentang kerja pada abad ke-17 dan 18. Jika Locke berpendapat, bahwa pekerjaan merupakan sumber untuk memperoleh hak miliki pribadi. Hegel, juga berpendapat bahwa pekerjaan membawa manusia menemukan dan mengaktualisasikan dirinya. Karl Marx, murid Hegel, berpendapat bahwa pekerjaan merupakan sarana manusia untuk menciptakan diri. Dengan bekerja orang mendapatkan pengakuan.

Dalam Islam malah lebih mashur lagi tentang kerja, pada abad ke 6 Masehi ketika Al Qurán turun kepada Baginda Rasulullah, ada 602 kata tentang kerja dalam Al Qurán dengan kata-kata seperti ‘amilu, ‘amal, wa’amiluu, a’maaluhum, a’maalun, a’maluka, ‘amaluhu, ‘amalikum, ‘amalahum, ‘aamul dan amullah. Atau hadist yang terkenal “bekerjalah untuk duniamu seakan-akan kamu hidup selamanya, dan beribadahlah untuk akhiratmu seakan-akan kamu mati besok.”

Walau agak berlebihan, aku bak proletarian. Pekerja kelas sosial rendah, tanpa kekayaan dan istilah ini biasanya untuk menghina kelas ini. Ketika istilah proletar di teriakan oleh Marx, sebenarnya bukan barang baru. Kelas ini sudah muncul lama di dunia, seperti di Perancis dengan istilah peasant yang menjadi penggerak revolusi Perancis, kaum Sudra dan Paria di India atau golongan pribumi di Indonesia (Jawa khususnya) pada jaman kolonial.

Tapi tidak juga sebenarnya, yang ada beban kerja terlalu banyak dan kurangnya penghargaan. That’s all. Jika mau menjadi burung bangkai sih sebenarnya bisa saja, memakan semuanya tak peduli daging segar (pahala) atau daging bangkai (dosa). Selain didik untuk jujur dan apa adanya, saya tak punya kehendak seperti kaum bourjois, kapitalis, dan merkantilis, apalagi hanya untuk tuntutan hidup dan gaya. Hidup balance, itu tujuan ku. Dunia dan akhirat.

Ada suatu kepercayaan yang hilang terhadap aku, ha ha. Ini bagian yang paling aku suka, di satu sisi jadi pengurang beban dan bahkan penghapus dosa ketika aku tidak melakukannya lagi. Karena orang-orang itu tetap menganggap aku melakukannya. Ya, sudah lah. Mungkin ini satu-satunya noda hitam dalam kehidupanku. Tapi sungguh tak ada bandingnya, dengan yang aku lakukan setiap bulan bikin mereka tersenyum dan buang air besar.

Udah ah ,.. ntar tambah ngawur

Sumber Tulisan :

1. Etos kerja dalam Islam, https://pintania.wordpress.com/etos-kerja-dalam-islam/

2. Makna Kerja dalam Hidup, http://rumahfilsafat.com/2011/03/07/makna-kerja-dalam-hidup-manusia

3. —-, wikipedia.org.id

Iklan