Realitas atau kenyataan sering diartikan dengan hal yang nyata dan benar-benar ada. Dalam istilah filsafat sering diartikan dengan fakta, realitas, kebenaran  dan aksioma. Johann Heinrich Lambert menyebutnya dengan realitas fenomenologi, menurutnya realitas adalah sesuatu yang secara fenomenal nyata sementara non-realitas dianggap tidak ada.Apa hubungannya dengan krisis listrik di #plnkalselteng ? Tanpa terbantahkan “kita” (yang ada di propinsi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah) mengalami krisis listrik. Itulah kenyataannya.

Bagaimana bentuk krisisnya ? Menurut saya  bentuk krisisnya, daya listrik di #plnkalselteng “pas-pasan”, sehingga jika ada faktor alam, mesin rusak dan pemeliharaan, pemadaman listrik menjadi sesuatu kenyataan yang tak bisa dipungkiri. Sayangnya kenyataan yang fenomenal ini berlangsung sudah sejak lama. Seolah tanpa solusi. Simpulannya, siapapun anda mulai dari profesor hingga buruh, petani dan nelayan, terima kenyataan bahwa listrik di #plnkalselteng mengalami kekurangan daya. 

Sekarang kita main banding-bandingan. Kenapa listrik di pulau Jawa jarang terdengar pemadaman bergilir ? Menurut pendapat saya, yang belum diuji kebenarannya, ada dua sebab : pertama, di Jawa daya listrik nya lebih banyak dan kedua, mesinnya lebih baik. Pernah lihat PLTU Paiton nggak ? menghasilkan 2500 MW lebih, Wuihh, kalau anda jalan darat dari Surabaya menuju Bali pasti nemu tuh. Setiap saya lewat Paiton selalu perasaan saya campur aduk antara sedih dan bangga. Batubara yang diambil dari Kalimantan seperti anakan gunung di Paiton Situbondo, buat pulau Jawa dan Bali terang benderang. Tak terbayangkan mereka bersenang-senang dengan batubara yang diambil dari pulau “kita”. Buat menerangi para bule di Bali mabok, dan orang Jawa sana beraktivitas hingga bersenggama.

Jika sebab pertama benar, artinya daya listrik di jawa lebih besar. Dan anda mempertanyakannya kenapa kita listriknya krisis ? maka kita akan mendengar kata-kata seperti kemampuan ekonomi kita terbatas, pembangunan penambahan daya secara bertahap, beberapa waktu kedepan PLTU ini dan PLTA itu akan masuk dalam sistem, memanfaatkan energi terbarukan dan seabreg harapan-harapan lainnya. Tapi kenyataannya kita tetap krisis. Memang, kenyataan adalah segala-galanya.

Patutkah kita menyalahkan atau bahkan mencaci PLN ? Menurut saya, bisa ya, bisa tidak. Pemegang konsep perencanaan jangka panjang penyediaan daya listrik siapa dulu ? Dari pemerintah atau PLN ? Saya tidak tahu pasti. Orang perencanaan selalu bilang “plan first”. Seperti misalnya sekian persen dari yang bayar listrik di tabung untuk membuat pembangkit baru setiap berapa tahun sekali. Atau PLN hanya terima bersih dari pemerintah yang membuatkan pembangkit listrik, tanpa menggunakan uang orang yang bayar tagihan listrik. Sepertinya uang tagihan listrik habis untuk biaya operasional dan belanja pegawai. Makin lama malah saya tambah bingung, bagaimana perencanaan pembuatan pembangkit listrik, APBN murni dan atau campur tangan PLN.

Dari segi pelayanan, kita tak perlu menyalahkan PLN. Mereka telah berusaha, dengan menggunakan daya yang ada. Termasuk ketika dalam kasus beberapa waktu belakangan ini mereka menyediakan daya tambahan dalam bentuk portable untuk persiapan anak sekolah mengahdapi ujian. Kita perlu apresiasi untuk mereka.

Selanjutnya, penting juga kita mempunyai orang-orang yang keras dan tegas menuntut ketersediaan daya listrik yang cukup. Ini ada pada pemimpin-pemimpin daerah kita. Pernah dengar nggak, ada pemimpin yang sampai menggebrak meja, sambil melotot dengan muka merah menuntut di buatkan pembangkit listrik serta sambil tunjuk-tunjuk tangan begitu dengan orang pusat di pulau Jawa sana ? Kita perlu pemimpin-peminpin begitu. Atau ada pemimpin yang bilang “enak aja lu terang benderang dengan hasil alam kami, sedang gue gelap-gelapan”. Kalau di Kalimantan Selatan sih, gak pernah ada. Entah kalau di propinsi lain.

Nanti disambung, ya …

Iklan