Arogan di jalan raya atau ngebut di jalan dalam perspektif sosial dan budaya terutama Banjar (Kalimantan Selatan) kerap kali diartikan dengan konotasi budaya negatif. Sebelumnya kita bahas sistem sosial dulu, sistem sosial adalah hubungan antar manusia dengan manusia yang disebut dengan interaksi. Interaksi terdiri dari individu dengan individu, individu dengan kelompok dan kelompok dengan kelompok. Sedang pengertian budaya adalah merupakan keseluruhan tingkah laku manusia mulai dari berupa konsep dalam pikiran, perbuatan dan dan tingkah lakunya hingga hasil dari tingkah lakunya.

Sedang Banjar sendiri merupakan sebutan untuk orang sebagian yang tinggal di pulau Kalimantan, setidaknya ada tiga propinsi di pulau Kalimantan yang dihuni oleh suku Banjar yaitu Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur. Suku atau urang Banjar identik dengan budaya islam dan dipengaruhi sekali dengan budaya khas dataran rendah dengan sungai-sungai yang panjang.

Arogan di jalan atau ngebut tidak karu-karuan di jalan dalam perspektif Banjar berkonotasi negatif antara lain

  1. Kada tahu dibasa

Istilah ini dalam bahasa Indonesia di artikan dengan “tidak ada sopan-sopannya” atau mungkin dengan istilah bahasa Jawa “sa enake dewe”, dalam artian ini seolah para aroganer itu tidak memperdulikan keselamatan orang lain. Sanksi yang didapat para aroganer selain hukum tertulis yang ada di Indonesia juga mendapat sanksi sosial berupa cemoohan dan jadi bahan pergunjingan, mulai dari sebutan “kada tahu dibasa”, “nang kaya jalan ampun muha kuitannya”, “urang sugih kada tahu dibasa”, “lajui lagi nyaman taranjah trak” dan lain sebagainya. Sepengetahuan saya, yang berkata demikian disebabkan karena mereka, orang tua dan keluarga mereka juga pengguna jalan dengan para aroganer itu. Mereka nggak mau mereka jadi korban para aroganer.

Dalam budaya ada istilah kompromi yaitu akomodasi, sebagian mereka yang paham dunia automotif termasuk saya ada memang sebagain motor dengan cc besar memang gak bisa pelan karena mesin motor mereka cepat panas. Namun yang tidak melek sama sekali tetap aja di konotasikan negatif.

Para aroganer, apalagi yang sudah kerasukan paham perubahan budaya yaitu rasionalitas, individualitas dan modernisasi akan bilang membela diri dengan kata-kata “nah, ini urusan gue”, “motor-motor gue”, “kalo mati ya gue tanggung sendiri” dan lain-lain lah. Tetapi seharusnya dengan kemajuan pendidikan dan iptek setidaknya mereka mengerti ugal-ugalan di jalan itu membahayan diri mereka dan orang lain.

2. Kada Mambadai

Sebutan ini untuk para pemotor arogan yang menggunakan motor-motor cc kecil dengan modifikasi membahayakann tapi dipaksakan ngebut dan di jalan ramai pula. Kadang ini dilakukan para alayer, cabe-cabe an atau anak-anak muda di usia sekolah. Kadang ini malah membahayan dibanding dengan  motor yang CC gede atau motor gede. Liat aja yang dijalan-jalan itu, mulai dari memakai ban kecil seperti ban becak, hingga pakai knalpot yang nyaring yang gak jelas suara dengan motornya ada dimana. Hehehe

3. Koyo

Koyo di istilahkan dengan kata “sombong”, biasanya ditemukan pada orang yang suka pamer, entah pamer motor cepat atau motor baru, atau mungkin malah motor pinjaman wkwkw. Atau bisa juga pamer skill suka mereng-mereng (istilah lain cornering, atau ngebut di tikungan). Kalau saya sih bisa memaklumi yang suka pamer skil justru di arahkan untuk menjadi stunter yang justru bisa menghasilkan uang dan pekerjaan bagi mereka (lihat Wawan Tembong), cari tempat khusus untuk latihan bukan justru menjadikan jalan raya untuk tempat latihan.

Demikian semoga bermanfaat .

 

 

 

Iklan