Film Perang dari The Patriot hingga American Sniper.

Sebagai penyuka film dengan genre action/war terutama dengan latar belakang sejarah, film-film besutan ‘Hollywood’ banyak berlatar sejarah militer negara Amerika Serikat, mulai dari masa revolusi Amerika, Perang Dunia I dan II, Perang Vietnam serta gerakan militer Amerika Serikat pasca peristiwa 9/11 di negara Timur Tengah. Film-film itu dibuat menggambarkan kuatnya hegemoni Amerika Serikat, bahkan di beberapa film menggambarkan seolah-olah tanpa terkalahkan, di tahun 1980-an kita masih ingat film Rambo yang tak terkalahkan di perang Vietnam. Kekinian justru lebih realistik, dimana sang jagoan diakhir film justru tewas mengenaskan.

Jika ingin melihat masa revolusi Amerika pilihan jatuh kepada film The Patriot (2000) besutan Mel Gibson yang berperan sebagai Benjamin Franklin. Sedang dengan latar belakang Perang Dunia saya memilih Saving Private Ryan dengan aktornya Tom Hanks, film Amerika Serikat bergenre sejarah-perang tahun 1998 yang bertemakan peperangan di saat invansi Normandia pada Perang Dunia II.

Salah satu adegan Fury (2014)
Salah satu adegan Fury (2014)

Yang terbaru saya lihat adalah Fury (2014) dengan aktor terkenal Brad Pitt sebagai pemainnya. Film ini bercerita tentang kru tank Sherman milik Amerika di Perang Dunia II di Eropa, sisi lain dari drama perang dunia. Diakhir cerita Don “Wardaddy” Collier (Brad Pitt) harus tewas mempertahankan tank Sherman-nya, yang juga dianggapnya seperti rumah sendiri.

Perang Pasifik juga digambarkan secara apik dalam film Pearl Harbor, dengan bintang nya Ben Affleck. Film yang juga menampilkan sisi romantisnya ini dengan latar belakang Jepang menyerang pangkalan Angkalan Laut Amerika pada tanggal 7 Desember 1942 di Hawaii, yang jadi sebab awal terjadi nya Perang Dunia II di kawasan Asia Paifik. Sedang pada masa perang Vietnam, yang paling legendaris tentu Platoon karya Sutradara jenius Oliver Stone, bahkan Stone membuat trilogi tentang Perang Vietnam. Tidak tanggung-tanggung Platoon dibintang 3 aktor hebat sekaligus yaitu  Tom Berenger, Willem Dafoe, Charlie Sheen.

Salah Satu Adegan Lone Survivor
Salah Satu Adegan Lone Survivor

Sedang film tentang keterlibatan Amerika di Timur Tengah pasca peristiwa 9 Nopember yang cukup mengesankan adalah Lone Survivor (2013), Zero Dark Thirty (2012) dan American Sniper (2014). Dua diantaranya (Lone Survivor dan American Sniper) merupakan film biografi perang, Lone Survivor dengan bintang Utama Mark Whalberg bercerita tentang perang di Afganistan, drama tentang kegagalan 4 tentara Navy Seal dalam operasi Red Wing untuk menangkap pemimpin Taliban Ahmad Shah. Tiga dari 4 anggota NAvy Seal tewas, yang selamat adalah snipers Marcus Luttrell.

Zero Dark Thirty bercerita tentang penagkapan yang oleh Amerika dianggap sebagai “the story of history’s greatest manhunt for the world’s most dangerous man” yaitu pemimpin Al Qaeda, Osama bin Laden di sebuah pinggiran kota Pakistan. Sedang American Sniper (2014) yang terakhir saya lihat beberapa hari lalu bercerita tentang Biografi Chris Kyle besutan sutradara dan aktor terkenal Clint Eastwood ketika berada dalam medan perang di Irak. Sebelum jadi anggota Navy Seal Kyle merupakan atlet rodeo, semasa penugasannya di Irak dia terkenal dengan sebutan The Syaitan karena keahliannya sebagai sniper. Tragisnya Kyle tewas ketiga sudah menjadi veteran perang, dan peristiwa pembunuhannya yang konon dilakukan oleh temannya sendiri masih menjadi misteri’

Chris Kyle dalam American Sniper
Chris Kyle dalam American Sniper

So, apa ada film perang yang mengesankan yang belum saya tonton, kasih info di komentar ya ..

The Lady, Aung San Suu Kyi Versi Hollywood (Belajar Meresensi)

Akhirnya saya berkempatan melihat sebuah film kolosal tentang seorang tokoh aktivis perempuan dari Myanmar Aung San Suu Kyi, yang berjuang untuk menegakkan demokrasi di negaranya. Film yang berjudul The Lady,  dibuat tahun 2011 ini, baru saya lihat malam kemaren (27/3) melalui channel HBO. Sambil menahan kantuk, saya melihat film ini .. sambil merencanakan untuk membuat resensi sederhana. Ya, bukan resensi lah namanya cuma oret-oret aja, hehehe. Terlebih negara asal Suu Kyi salah satu negara juga yang di bahas dalam pembelajaran IPS Terpadu kelas IX Semester 2 tingkat MTs/SLTP. Berikut resensi sederhananya .. 🙂

The Lady, merupakan penggambaran utuh tentang Aung San Suu Kyi. Aktivis perempuan Myanmar, anak seorang pahlawan kemerdekaan Myanmar dari penjajahan Inggris yang bernama Aung San. Di awal film, diceritakan bagaimana sang ayah, di eksekusi secara sadis oleh militer. Saya tidak begitu mengetahui pihak militer mana yang mengeksekusi Aung San, di beberapa kritikus film yang saya baca, yang membunuh Aung San adalah pihak sekutu (teman) Aung San sendiri, yang berbalik memusuhi Aung San.

Ada hal yang baru saya ketahui dari film ini tentang Suu Kyi, ternyata beliau sejak tahun 1960-an berada di luar negeri baik untuk sekolah, bekerja dan berkeluarga. Ketika tahun 1960, Suu Kyi mengikuti ibunya jadi duta besar Birma untuk India, dia lulus dari Lady Shri Ram College di New Delhi pada tahun 1964. Ia melanjutkan pendidikannya di St Hugh’s College, Oxford, memperoleh gelar B.A. dalam bidang Filosofi, Politik, dan Ekonomi pada tahun 1989. Setelah lulus, ia melanjutkan pendidikannya di New York, dan bekerja untuk pemerintah Persatuan Myanmar. Pada tahun 1972, Aung San Suu Kyi menikah dengan Dr. Michael Aris, seorang pelajar kebudayaan Tibet. Tahun berikutnya, ia melahirkan anak laki-laki pertamanya, Alexander, di London; dan pada tahun 1977 dia melahirkan anak kedua, Kim, yang belajar di George Washington University dari Januari 1991 sampai Februari 1991.

Suu Kyi dalam film The Lady, secara apik diperankan oleh Mantan Miss Malaysia dan aktris legendaris Hong Kong, Michelle Yeoh. Sedang Dr. Aris di perankan oleh David Thewlis. Kisah dramatis film ini dimulai ketika Suu Kyi harus balik ke Myanmar untuk menjenguk ibunya yang sedang sakit pada tahun 1988. Pemerintahan junta militer Myanmar sedang mendapat perlawanan dari hampir semua elemen masyarakat, mulai dari pelajar, sipil, hingga kaum biksu. Kekerasan pihak militer tampak jelas dalam film ketika membubarkan aksi demonstrasi. Situasi dan kondisi Myanmar demikian akhirnya menggugah Suu Kyi, ikut serta di dalam aksi perlawanan terhadap rezim militer.

Keikutsertaan Suu Kyi dalam perjuangan menegakkan demokrasi di Myanmar, ternyata harus mengorbankan kebahagian pribadi dan keluarganya. Walau beberapa saat suami dan anaknya pernah mendampinginya di Myanmar, namun junta militer menjadikan keluarga sebagai alat untuk melemahkan perjuangan Suu Kyi. Junta Militer menahan Suu Kyi dalam tahanan rumah selama hampir 21 tahun. Mereka melarang bertemu dengan keluarga, Suami dan Anak-anak Suu Kyi tidak mendapat Visa untuk ke Myanmar, sementara jika Suu Kyi keluar dari Myanmar, dipastikan tidak akan bisa balik lagi ke Myanmar.

Meskipun film ini jelas dimaksudkan sebagai sebuah film advokasi atas nama koalisi demokrasi Suu Kyi, namun The Lady mampu mengemasnya secara efektif dengan bumbu asmara yang cerdas, dengan menyorot kepada hubungan Aris dan Suu Kyi yang memang merupakan salah satu cerita besar dalam dunia cinta. Memang, itu juga merupakan anggapan salah satu kelemahan rezim militer Myanmar yang tidak berhasil berusaha mengeksploitasi kisah ini untuk meredam perlawanan Suu Kyi.

Kemenangan peraih Nobel Perdamaian, Aung San Suu Kyi dalam pemilu parlemen yang baru saja dilangsungkan di Myanmar, terlihat sepertinya merupakan sebuah terobosan bagi Myanmar yang telah sekian lama di bawah pemerintahan diktator junta militer, untuk hidup dengan bebas dan demokratis. Namun, penting untuk diingat bahwa janji-janji masa lalu mengenai liberalisasi kebanyakan hanya menguap begitu saja seiring waktu.

Suu Kyi telah menyaksikan berbagai permasalahan dari sudut pandang pribadi yang jelas, menjadi wajah internasional dari oposisi Myanmar, yang didukung pula dengan kepribadiannya yang luar biasa. Kisah perjuangan dari sang aktivis yang berani dan pengorbanannya yang memilukan didramatisasi dalam film The Lady, karya sutaradara Luc Besson.

Semoga Bermanfaat

Film : The Year of Living Dangerously, Akhirnya Kesampaian Juga Melihatnya ..

Sumber Gambar : http://www.imdb.com

Setelah sekian lama, saya akhirnya bisa melihat juga film The Year of Living Dangerously melalui HBO. Sebuah film dengan latar belakang Indonesia tahun 1965 saat terjadinya peristiwa G30S. Film buatan Australia dan disutradai oleh Peter Weir ini, bercerita tentang Guy Hamilton seorang wartawan Australia yang ditugaskan meliput Jakarta dan Indonesia saat itu. Karya layar lebar ini didasarkan pada novel Peter Koch yang berjudul sama. Guy Hamilton diperankan oleh Mel Gibson, dan Sigourney Weaver (sebagai Jill Bryant), dan Linda Hunt (sebagai Billy Kwan). Melalui perannya di film inilah Mel Gibson terangkat namanya di panggung sinema dunia. Aktris Linda Hunt, yang berperan sebagai kontak Guy Hamilton, dianugerahi penghargaan untuk Aktris Pendukung Terbaik pada Perayaan Academy Award tahun 1983. Ini adalah Piala Oscar pertama yang diberikan kepada pemain yang berperan alih kelamin karena Linda Hunt memerankan tokoh pria. Peran Sukarno dilakonkan oleh Mike Emperio.

Walau saya sebenarnya bukanlah seorang kritikus film, namun film ini dimasa orde baru sempat jadi kontroversi. Bahkan pembuatan filmnya pun dilaksanakan di Philipina, karena tidak mendapat izin dari pemerintah Indonesia saat itu. Boleh diputar di Indonesia ketika masuk orde reformasi tahun 1999. Akibatnya  tokoh-tokoh Indonesia diperankan oleh bukan orang Indonesia. Jika pun ada, saya kira kalo balik ke Indonesia pasti hidupnya akan sengsara. Maklumlah begitu kuat hegemoni orde baru pada masa itu. Terlebih di bagian akhir film ada scene yang menggambarkan tentang pembantaian masah yang dilakukan sepasukan berbaret merah.

Peran apik Linda Hunt sebagai Billy Kwan, memerankan seorang fotografer keturunan China Indonesia, yang peduli terhadap situasi pada saat itu. Di akhir film Billy, menghancurkan dirinya alias bunuh diri untuk menyampaikan pesan begitu miskinnya rakyat Indonesia kepada  Presiden Soekarno. Yang juga jadi perhatian saya adalah seorang pemain yang bernama Ali Nur. Dia lah satu-satunya tokoh yang namanya sangat Indonesia, saya obrak-abrik di google, nggak ketemu siapa sebenarnya Ali Nur. Mungkin jika ada yang tahu .. bisa di share di sini.

Sebagai penggabungan antara cerita intrik politik dan romantisme saya kira film ini cukup berhasil sebagai hiburan pada masanya, namun untuk dijadikan gambaran sejarah masa lalu, saya kira tidak bisa. Ceritanya tentu sangat ‘barat’ artinya hanya berdasarkan pandangan mereka saja (sebut dgn subjektif). Namun, peristiwa sebenarnya sekitar tahun 1965 hingga kini pun masih kabur. Ya .. tidak ada sejarah itu yang final (Sartono Kartodirjo).

Sumber Tulisan : http://www.imdb.com dan http://id.wikipedia.org/wiki/The_Year_of_Living_Dangerously

Kingdom Of Heaven, Film Visualisasi ‘Perang Salib’

Sumber : id.wikipedia.org

Saya termasuk yang jarang menonton film, bisa dihitung dengan jari lah pokoknya 🙂 Namun ada beberapa film yang saya suka lihat bahkan berulang-ulang untuk sekedar menghayati dan benar-benar mengikuti alur cerita dalam film. Salah satu nya adalah Kingdom of Heaven, film ini dibuat tahun 2005 dengan tempat syuting di Spanyol dan Maroko. Dibintangi oleh Orlando Bloom, Eva Green, Jeremy Irons, David Thewlis, Marton Csokas, Brendan Gleeson, Alexander Siddig, Ghassan Massoud, Edward Norton, Jon Finch, Michael Sheen dan Liam Neeson. Disutradarai oleh Ridley Scott, yang juga pembuat film Gladiator dan Black Hawk Down. Beberapa kritisi film Hollywood, menyebut film ini bentuk sisi Islami versi Hollywood.

 

Continue reading “Kingdom Of Heaven, Film Visualisasi ‘Perang Salib’”