Aryo Penangsang dan Kontroversi.

Makam Aria Penangsang di Kadilangu
Makam Aria Penangsang di Kadilangu

Dalam kunjungan ziarah ke makan Sunan Kalijaga di Kadilangu Demak, saya terkaget-kaget ketika di pojok kiri arah menuju makam Sunan Kalijaga, tertulis petunjuk arah ke Makam ‘Haryo Penangsang’. Dalam hati saya, apakah ini yang disebut juga dengan Aria Penangsang, tokoh kontroversi dalam sejarah tanah Jawa terutama pada masa kerajaan Demak. Saya lalu mengabadikan makam tersebut, sepanjang perjalanan menuju Yogyakarta saya coba nyari di google, apa benar makam Haryo Penangsang adalah makam sang Aria Penangsang yang tersohor dalam  cerita adu kesaktian dengan Hadiwijaya atau Joko Tingkir penguasa Pajang.

Pusara Aria Penangsang Di Kadilangu
Pusara Aria Penangsang Di Kadilangu

Yang namanya kontroversi memang semakin menjadi, dibeberapa situs seperti http://sejarahgunungbatu.blogspot.com/2012/04/makamkuburan-ratu-sahibul-ada.html, menyatakan bahwa makam Aria Penangsang ada di tiga tempat yaitu di sekitar Masjid Demak, di Kadilangu dan di Indra Laya Ogan Ilir.  Saya tidak ingin memperdebatkan dimana beliau di makamkan, biarlah hanya Allah yang tahu. Bagaimana pun pandangan kita tentang beliau, yang pasti beliau pasti orang yang saleh, karena salah satu murid kesayangan Sunan Kudus. Salah satu Wali Songo, penyebar agama Islam yang masyhur di kawasan Jawa Tengah.

Lalu siapa Aria Penangsang ? Menurut Wikipedia.org.id, Ario Penangsang atau Arya Jipang atau Ji Pang Kang adalah anak dari Pangeran Sekar atau Raden Kikin, cucu dari Raden Patah, raja pertama Demak. Nenek dari Aria Penangsang (istri Raden Patah) adalah anak seorang Bupai di Jipang (sekarang Cepu, Blora, Jawa Tengah). Sehingga ia mewarisi kedudukan kakeknya menjadi Bupati di Jipang Panolan sekitar abad ke-16. Nama Aria Penangsang sering disebut-sebut dalam beberapa sumber sejarah seperti Babad Tanah Jawi dan Serat Kanda. Kedua sumber sejarah ini merupakan sastra sejarah berbentuk baboon, buku besar yang dibuat pada jaman kerajaan Mataram berisikan tembang Jawa, serta ditulis ulang pada periode bahasa Jawa Baru (abad ke-19). Babad ini menarik perhatian para sejarawan lokal maupun manca negara seperti H.J.de Graaf, Meinsma, T.H. Pigeaud, dan M.C. Ricklefs.

Kontroversi dimulai ketika terjadi suksesi kepemimpinan di kerajaan Demak, tahun 1521 Adipati Kudus (anak Raden Patah, orang Portugis menyebutnya Pati Unus atau Adipati Unus) pewaris tahta gugur dalam perang. Ternyata sepeninggal Pati Unus kerajaan Demak diperebutkan kedua adiknya yaitu Pangeran Sekar (Ayah Aria Penangsang) dan Sultan Trenggono. Politik kerajaan Demak pun semakin memanas, layaknya perebutan kekuasaan dibeberapa periode kekinian dalam sejarah Indonesia dihiasi dengan cucuran darah. Raden Mukmin atau Sunan Prawoto (anak Sultan Trenggono) membunuh pamannya sendiri Pangeran Sekar. Dalam beberapa literatur, tak disebutkan apakah ada konpirasi antara anak dan ayah, dalam usaha membunuh Pangeran Sekar, Wallahualam. Sepeninggal ayahnya, Aria Penangsang yang masil kecil menjadi Adipati di Jipang dibantu patih kadipaten.

Sultan Trenggono pun jadi raja Demak yang ketiga hingga gugur tahun 1546 di Panarukan. Sepeninggal Trenggono, Sunan Prawoto jadi raja Demakpada tahun 1546. Tahun 549 Arya Penangsang dengan dukungan gurunya, yaitu Sunan Kudus, membalas kematian Raden Kikin dengan mengirim utusan bernama Rangkud untuk membunuh Sunan Prawoto dengan Keris Kyai Setan Kober. Rangkud sendiri tewas pula, saling bunuh dengan korbannya itu. Keterlibatan Sunan Kudus, patut dipertanyakan maksud dan tujuannya, hal ini ditanyakan langsung oleh Ratu Kalinyamat, adik  Sunan Prawoto. Namun jawaban Sunan Kudus bahwa Sunan Prawoto mati karena karma membuat Ratu Kalinyamat kecewa.

Ratu Kalinyamat bersama suaminya pulang ke Jepara. Di tengah jalan mereka diserbu anak buah Arya Penangsang. Ratu Kalinyamat berhasil lolos, sedangkan suaminya, yang bernama Pangeran Hadari, terbunuh.Arya Penangsang kemudian mengirim empat orang utusan membunuh saingan beratnya, yaitu Hadiwijaya, menantu Trenggana yang menjadi bupati Pajang. Meskipun keempatnya dibekali keris pusaka Kyai Setan Kober, namun, mereka tetap dapat dikalahkan Hadiwijaya dan dipulangkan secara hormat.Hadiwijaya ganti mendatangi Arya Penangsang untuk mengembalikan keris Kyai Setan Kober. Keduanya lalu terlibat pertengkaran dan didamaikan Sunan Kudus. Hadiwijaya kemudian pamit pulang, sedangkan Sunan Kudus menyuruh Penangsang berpuasa 40 hari untuk menghilangkan Tuah Rajah Kalacakra yang sebenarnya akan digunakan untuk menjebak Hadiwijaya tetapi malah mengenai Arya Penangsang sendiri pada waktu bertengkar dengan Hadiwijaya karena emosi Aryo Penangsang sendiri yang labil.

Dalam perjalanan pulang ke Pajang, rombongan Hadiwijaya singgah ke Gunung Danaraja tempat Ratu Kalinyamat bertapa. Ratu Kalinyamat mendesak Hadiwijaya agar segera menumpas Arya Penangsang. Ia,, yang mengaku sebagai pewaris takhta Sunan Prawoto, berjanji akan menyerahkan Demak dan Jepara jika Hadiwijaya menang.Hadiwijaya segan memerangi Penangsang secara langsung karena merasa sebagai sama-sama murid Sunan Kudus dan sesama anggota keluarga Demak. Maka diumumkanlah sayembara, barangsiapa dapat membunuh bupati Jipang tersebut, akan memperoleh hadiah berupa tanah Pati dan Mataram.Kedua kakak angkat Hadiwijaya, yaitu Ki Ageng Pemanahan dan Ki Panjawi mendaftar sayembara. Hadiwijaya memberikan pasukan Pajang dan memberikan Tombak Kyai Plered untuk membantu karena anak angkatnya, yaitu Sutawijaya (putra kandung Ki Ageng Pemanahan ikut serta.

Ketika pasukan Pajang datang menyerang Jipang, Arya Penangsang sedang akan berbuka setelah keberhasilannya berpuasa 40 hari. Surat tantangan atas nama Hadiwijaya membuatnya tidak mampu menahan emosi. Apalagi surat tantangan itu dibawa oleh pekatik-nya (pemelihara kuda) yang sebelumnya sudah dipotong telinganya oleh Pemanahan dan Penjawi. Meskipun sudah disabarkan Arya Mataram, Penangsang tetap berangkat ke medan perang menaiki kuda jantan yang bernama Gagak Rimang.

Kuda Gagak Rimang dengan penuh nafsu mengejar Sutawijaya yang mengendarai kuda betina, melompati bengawan. Perang antara pasukan Pajang dan Jipang terjadi di dekat Bengawan Sore. Akibatnya perut Arya Penangsang robek terkena tombak Kyai Plered milik Sutawijaya. Meskipun demikian Penangsang tetap bertahan. Ususnya yang terburai dililitkannya pada gagang keris yang terselip di pinggang.Penangsang berhasil meringkus Sutawijaya. Saat mencabut keris Setan Kober untuk membunuh Sutawijaya, usus Arya Penangsang terpotong sehingga menyebabkan kematiannya.Dalam pertempuran itu Ki Matahun, patih Jipang, tewas pula, sedangkan Arya Mataram meloloskan diri. Sejak awal, Arya Mataram memang tidak pernah sependapat dengan kakaknya yang mudah marah itu.

Begitulah penggalan cerita sang kontroversi Aria Penangsang, bagi sebagian orang beliau dianggap sebagai tokoh yang dikorbankan, tokoh yang dianggap antagonis cepat marah, ada juga yang beranggapan sebagai usaha supaya Jipang tidak berkuasa di Demak. Ada juga beranggapan bahwa Babad Tanah Jawi yang menceritakan Aria penangsang,  sengaja dibuat oleh yang berkuasa saat itu, keturunan Sutawijaya untuk memutar balikkan fakta yang sebenarnya. Bisa jadi, pameo bahwa sejarah dibuat oleh yang menang atau yang berkuasa itulah kenyataannya. Dalam sejarah yang memang begitu, lah .. yang paling saya ingat sejak dulu adalah bahwa tidak ada sejarah yang final (Sartono Kartodirdjo).

Wallahualam bi shawab.

Vredeburg, Benteng Perdamaian.

Benteng Vredeburg
Benteng Vredeburg, 31 Desember 2013

Yogyakarta, salah satu kota yang menjadi saksi hebatnya perjuangan bangsa ini melawan tirani bangsa asing. Bangunan-bangunan nan eksotik menjadi saksi, sumber sejarah, serta inspirasi tentang perasaan kebangsaan. Salah satu bangunan sejarah dan sekaligus jadi wisata menarik di Yogyakarta adalah Benteng Vredeburg. Benteng ini berdiri terkait erat dengan munculnya Kesultanan Yogyakarta, berdasarkan Perjanjian Giyanti, tanggal 13 Februari 1755 yang berhasil menyelesaikan perseteruan antara Susuhunan Pakubuwono III dengan Pangeran Mangkubumi (Sultan Hamengku Buwono I kelak) adalah merupakan hasil politik Belanda yang selalu ingin ikut campur urusan dalam negeri raja-raja Jawa waktu itu. Berdasarkan perjanjian ini, wilayah Mataram dibagi dua:  Sunan Pakubuwana III berkedudukan di Surakarta, sementara  Pangeran Mangkubumi  menjadi Sultan Hamengkubuwana I yang berkedudukan di Yogyakarta.

Benteng ini mulai dibangun tahun 1760 oleh Sultan Hamengkubowono I atas permintaan Belanda, dengan sangat sederhana berbentuk bujur sangkar. Di keempat sudutnya dibuat tempat penjagaan yang disebut seleka atau bastion. Pada tahun 1765 diusulkan kepada sultan agar benteng diperkuat menjadi bangunan yang lebih permanen agar lebih menjamin kemanan. Usul tersebut dikabulkan, selanjutnya pembangunan benteng dikerjakan di bawah pengawasan seorang Belanda ahli ilmu bangunan yang bernama Ir. Frans Haak.

Usul Gubernur W.H. Van Ossenberg agar bangunan benteng lebih disempurnakan, dilaksanakan tahun 1767. Periode ini merupakan periode penyempurnaan Benteng yang lebih terarah pada satu bentuk benteng pertahanan.Menurut rencana pembangunan tersebut akan diselesaikan tahun itu juga. Akan tetapi dalam kenyataannya proses pembangunan tersebut berjalan sangat lambat dan baru selesai tahun 1787. Hal ini terjadi karena pada masa tersebut Sultan yang bersedia mengadakan bahan dan tenaga dalam pembangunan benteng, sedang disibukkan dengan pembangunan Kraton Yogyakarta. Setelah selesai bangunan benteng yang telah disempurnakan tersebut diberi nama Rustenburg yang berarti ‘Benteng Peristirahatan’.

Pada tahun 1867 di Yogyakarta terjadi gempa bumi yang dahsyat sehingga banyak merobohkan beberapa bangunan besar seperti Gedung Residen (yang dibangun tahun 1824), Tugu Pal Putih, dan Benteng Rustenburg serta bangunan-bangunan yang lain. Bangunan-bangunan tersebut segera dibangun kembali. Benteng Rustenburg segera diadakan pembenahan di beberapa bagian bangunan yang rusak. Setelah selesai bangunan benteng yang semula bernama Rustenburg diganti menjadi Vredeburg yang berarti ‘Benteng Perdamaian’. Nama ini diambil sebagai manifestasi hubungan antara Kasultanan Yogyakarta dengan pihak Belanda yang tidak saling menyerang waktu itu.

Bentuk benteng tetap seperti awal mula dibangun, yaitu bujur sangkar. Pada keempat sudutnya dibangun ruang penjagaan yang disebut seleka atau bastion. Pintu gerbang benteng menghadap ke barat dengan dikelilingi oleh parit. Di dalamnya terdapat bangunan-bangunan rumah perwira, asrama prajurit, gudang logistik, gudang mesiu, rumah sakit prajurit dan rumah residen. Di Benteng Vredeburg ditempati sekitar 500 orang prajurit, termasuk petugas medis dan paramedis. Disamping itu pada masa pemerintahan Hindia Belanda digunakan sebagai tempat perlindungan para residen yang sedang bertugas di Yogyakarta. Hal itu sangat dimungkinkan karena kantor residen yang berada berseberangan dengan letak Benteng Vredeburg. Sejalan dengan perkembangan politik yang berjadi di Indonesia dari waktu ke waktu, maka terjadi pula perubahan atas status kepemilikan dan fungsi bangunan Benteng Vredeburg.

Status tanah benteng tetap milik kasultanan, tetapi secara de facto dipegang oleh pemerintah Belanda. Karena kuatnya pengaruh Belanda maka pihak kasultanan tidak dapat berbuat banyak dalam mengatasi masalah penguasaan atas benteng. Sampai akhirnya benteng dikuasai bala Tentara Jepang tahun 1942 setelah Belanda menyerah kepada Jepang dengan ditandai dengan Perjanjian Kalijati bulan Maret 1942 di Jawa Barat.

Sumber Tulisan : http://id.wikipedia.org/wiki/Museum_Benteng_Vredeburg

Siti Fatimah binti Maimun, … (Kisah Perjalanan)

image

Alhamdulilah, musim liburan kali ini, saya berkesempatan berkunjung lagi ke tempat-tempat yang sekiranya memberi pengalaman dan pengetahuan, syukur-syukur bisa jadi oleh-oleh di dalam kelas. Bersama keluarga, saya berkunjung ke makam seorang perempuan, yang dibatu nisannya tertulis nama Fatimah binti Maimun, dengan kaligrafi Arab bergaya Kufi. Selain memuat nama sang putri, juga memuat tanggal wafatnya almarhumah, tgl  7 Rajab 475 Hijriah atau  2 Desember 1082 Masehi.  Makam berbentuk kubus dengan bentuk menyerupai rupa bentuk candi-candi yang tersebar di pulau Jawa. Terletak di desa Leran, Kecamatan Manyar, kota Gresik.
Berdasarkan, angka tahun yang tertulis pada batu nisan, maka ini merupakan salah satu sumber sejarah Islam tertua di nusantara. Berdasarkan sumber tertulis tertua yang menjadi bandingan, terdapat dalam sejarah Banten yang ditulis tahun 1662, disebutkan bawa seorang putri bernawa Putri Suwari yang di tunangkan dengan raja terakhir Majapahit. Jika benar adanya, maka putri Suwari memiliki peranan penting dalam perkembangan ajaran agama Islam. Paling tidak, abad ke 11 di pulau Jawa, khususnya Jawa Timur berkembang komunitas muslim. Berbagai macam legenda (folklore) berkembang tentang Fatimah, ada yang menyebut dari Kamboja (Champa), hal ini bisa jadi. Karena kaligrafi tulisan batu nisan dengan gaya kufi ditemukan juga di daerah Phanrang, Champa selatan. Ada juga yang menyebut dari Kedah, Malaysia dan masih merupakan dari keponakan Maulana Malik Ibrahim.
Nama putri Suwari juga disebut-sebut dalam jurnal perjalanan Moquete, yang pernah berkunjung ke Leran. Moquette menyebut bahwa putri Suwari punya hubungan dengan Maulana Malik Ibrahim (salah satu wali Songo), namun agak susah diterima kedua tokoh ini hidup sejaman, karena perbedaan penanggalan wafat keduanya berbeda 400 tahun.
Di dalam cungkup makam, makam Siti Fatimah binti Maimun berjejer dengan para putri lain yang diyakini sebagai dayang-dayang sang putri. Terdiri dari putri Keling, putri Kamboja dan putri Kucing.

image

image

Siapapun sang putri, merupakan bukti panjangnya proses penyebaran dan pengembangan ajaran agama Islam. Bermula dengan sistem pelayaran perdagangan hingga melalui perkawinan, jadi saluran proses Islamisasi. Hingga menjadi acuan akidah dan akhlak 90% persen lebih pendudukn Indonesia. Terlepas dari apapun setiap berkunjung ke makam siapapun, yang penting kita selalu ingat akan mati, sehingga kita akan meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita disertai do’a dan ucapan terima kasih kepada mereka yang telah memperjuangkan Islam, yang menjadi pegangan kita hingga hari akhir.
Surabaya, 2 Januari 2012

Uji Kompetensi Guru dan Kemerdekaan RI :)

Seluruh guru di Indonesia (kecuali guru madrasah) serentak sejak tanggal 31 Juli 2012, mengikuti uji kompetensi guru yang dilaksanakan secara online. Karena belum mengikuti sosialisasinya (apalagi saya guru madrasah), saya tidak tahu apa maksud dan tujuan uji kompetensi ini, beritanya sepenggal-sepenggal yang saya terima. Oke lah, saya berlaga sok tahu aja nih (maaf-maaf kata nih), kira-kira tujuannya untuk pemetaan guru, pemetaan penguasaan kompetensi guru. Setahu saya, kompetensi adalah kemampuan kepribadian, ada 2 kompetensi utama guru yaitu pedagogik dan profesional. Kompetensi pedagogik, mutlak harus guru miliki, karena kompetensi inilah yang membedakan dengan profesioal lainnya (cieh, hebat nih). Ada 7 aspek dan 45 indikator dalam kompetensi pedagogik, silakan browsing aja, sudah banyak yang menulis. sedang Kompetensi Profesional yaitu kemampuan yang harus dimiliki guru da­lam perencanaan dan pelaksanaan proses pembelajaran. Guru mempunyai tu­gas untuk mengarahkan kegiatan belajar siswa untuk mencapai tujuan pem­belajaran, untuk itu guru dituntut mampu menyampaikan bahan pelajaran. Guru harus selalu meng-update, dan menguasai materi pelajaran yang disaji­kan.

Nah, paparan singkat di atas itulah yang akan diuji dalam Uji Kompetensi Guru. Jika melirik (beraninya cuman melirik), hasil fantastis Ujian Nasional di berbagai tingkat pendidikan formal, sebenarnya ada masalah apa dengan kompetensi guru. Hasil nasional kelulusan dalam Ujian nasional 98%, sebenarnya data tak terbantahkan, baiknya kompetensi guru itu. Kecuali, jika dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan kebudayaan itu justru tidak percaya dengan hasil fantastis tersebut. Sehingga perlu kiranya diadakan uji kompetensi lagi, siap nggak dengan hasil terbalik, kompetensi rendah namun hasil UN mentereng tingginya .. hehehe

Di analogikan, uji kompetensi guru ini seperti dengan Kemerdekaan Republik Indonesia. Secara de fakto, kita merdeka 17 Agustus 1945 dan tidak bisa terbantahkan, jika kita mengingkarinya berarti mengingkari juga perjuangan para pahlawan yang berkorban harta dan nyawa. Hasil UN 98% lulus juga tak terbantahkan, itu de factonya. Namun de jure, Indonesia antara tahun 1945-1949 tidak lah secara benar-benar melaksanakan pemerintahan layaknya sebuah negara merdeka, karena harus menghadapi serangan balik Belanda yang ingin menguasai Indonesia. Analoginya dengan pendidikan kita, walau dengan hasil UN mentereng masih banyak anggapan sebagian orang bahwa guru tidak se profesional yang diharapkan, peningkatan kesejahteraan guru tak sebanding dengan ke preofesionalannya, plus tikaman iri sebagian orang dengan apa yang diperoleh guru.

Simpulannya, apakah Uji Kompetensi Guru akan seperti Konfrensi Meja Bundar (KMB) di Den Haaq, Belanda ? Sebuah pertemuan Indonesia dan Belanda yang berisi serah terima kekuasaan, setelah Belanda tak berhasil baik secara kekerasan maupun perundingan menguasai Indonesia. Analoginya, apakah UKG merupakan KMB nya pendidikan kita untuk mempertegas kemampuan kepribadian guru kita yang mumpuni dalam bentuk penguasaan kompetensi yang baik .. Wallahu allam

13 Ramadhan 1433 hijriah

 

 

 

Monumen Pancasila Sakti dan Pengkhiatan PKI (Kisah Perjalanan 2)

Ketika mengunjungi  Jakarta (6-8 Januari 2012), saya agak kaget ketika rombongan diajak untuk mengunjungi Monumen Pancasila Sakti di Lubang Buaya, Pondok Gede. Sewaktu kecil saya sudah pernah diajak kesana, sekarang datang lagi tentu dengan tampilan yang berbeda, terutama dengan keberadaan Museum Pengkhianatan Komunis (PKI). Berkunjung ke tempat ini selalu saja, menggugah perasaan dengan tampilan gambar, patung maupun sisa-sisa kekerasan terhadap para jendral yang menjadi korban.

Apa sih Monumen Pancasila Sakti ? Sebuah monumen untuk memperingati peristiwa Gerakan 30 September atau yang sering disingkat G 30 S PKI, G-30S/PKI, Gestapu (Gerakan September Tiga Puluh), Gestok (Gerakan Satu Oktober) adalah sebuah peristiwa yang terjadi selewat malam tanggal 30 September sampai di awal 1 Oktober 1965 di mana enam perwira tinggi militer Indonesia beserta beberapa orang lainnya dibunuh dalam suatu usaha percobaan kudeta yang kemudian dituduhkan kepada anggota Partai Komunis Indonesia.

PKI merupakan partai komunis yang terbesar di seluruh dunia, di luar Tiongkok dan Uni Soviet. Anggotanya berjumlah sekitar 3,5 juta, ditambah 3 juta dari pergerakan pemudanya. PKI juga mengontrol pergerakan serikat buruh yang mempunyai 3,5 juta anggota dan pergerakan petani Barisan Tani Indonesia yang mempunyai 9 juta anggota. Termasuk pergerakan wanita (Gerwani), organisasi penulis dan artis dan pergerakan sarjananya, PKI mempunyai lebih dari 20 juta anggota dan pendukung.

Continue reading “Monumen Pancasila Sakti dan Pengkhiatan PKI (Kisah Perjalanan 2)”

Pembelajaran Masa prasejarah di Nusantara

Masa prasejarah, atau yg disebut juga dengan masa praaksara dan masa nirleka adalah masa ketika belum dikenal tulisan dan huruf. Pembatasan antara masa pra sejarah dan sejarah di nusantara, ditandai dengan ditemukannya prasasti Yupa di Kalimantan. Fakta sejarah ini seharusnya membanggakan org Kalimantan, karena orang pertama yang bisa baca tulis di nusantara. Hal ini sering saya ceritakan di kelas, betapa orang Kalimantan pertama kali yg bisa menuliskan huruf dalam bentuk tulisan.
Berdasarkan Indonesia Heritage (2002) periodesasi prasejarah memungkinkan kita mengamati dan memahami perkembangan sejarah sebagai suatu proses, bukan sebagai kumpulan peristiwa dengan tanggalnya. Ada dua model periodesasi prasejarah di nusantara, model pertama mirip dengan model Eropa. Model ini berdasarkan pada alat teknologi manusia purbanya. Biasanya dikenal dengan masa paleolitikum. Mezolitikum, neolitikum, megalitikum dan jaman logam. Model kedua membagi periodisasi prasejarah di nusantara berdasarkan hubungan lingkungan manusia dan budayanya. Dikenal dengan masa berburu dan meramu, bercocok tanam dan perundagian.
Pada materi tentang prasejarah, di beberapa buku paket menyatakan seolah memang ada yang terputus (missing link) antara manusia purba dengan manusia sekarang yang ada di Indonesia. Berbagai pendapat mulai dari H. Kern, M. Krom, Brandes, Moh.Ali dan Moh.Yamin sepakat bahwa nenek moyang bangsa Indonesia berasal bukan dari Indonesia tapi dari berbagai tempat di dunia, yang paling banyak berpendapat berasal dari daratan Cina, dengan ras Mongoloid.
Dalam Islam tidak mungkin menyangkal bahwa Adam dan Hawa sebagai manusia pertama, lalu bagaimana menjelaskannya kepada siswa ? Saya lebih suka menyebutnya sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang mirip dengan manusia. Penemuan tengkorak manusia purba sempat menguatkan teori Darwin, bahwa manusia awalnya adalah bukan manusia. Namun teori ini terbantahkan dengan tak ada kabar lagi, bahwa ada mahkluk lain yang ber evolusi menjadi manusia.
Sekitar tahun 1890 hingga 1900 an, Indonesia jadi ladang penelitian fosil manusia purba, terutama Kubah Sangiran dalam cekungan Solo, merupakan situs ‘penghasil’ manusia purba paling banyak di pulau Jawa. Dalam beberapa lapisan tanahnya ditemukan banyak fosil yang berumur mulai dari 800.000 sampai 200.000 tahun yAng lalu.

Ditulis dengan WordPress untuk Blackberry

Memadukan IPS Sejarah dengan Mata Pelajaran IPS Lainnya (1)

Pada awal bulan April ini, materi pelajaran IPS Terpadu kelas VII sudah masuk pada pembahasan materi IPS Sejarah, yaitu materi Perkembangan Agama Hindu dan Budha di Nusantara. Konsep pembelajaran IPS Terpadu pada satuan pendidikan MTs/SMP yang ‘harus’ memadukan semua mata pelajaran IPS dalam setiap pembelajaran nya di kelas, membuat guru harus jeli materi mana saja yang bisa untuk dipadukan. Sayangnya, konsep memadukan ini belum berkibar kencang di kalangan guru IPS, ketika membuat perangkat pembelajaran, sering kali melupakan konsep memadukannya. Itu pun lebih untung menurut saya, daripada tidak membuat sama sekali. Hehehehe

Continue reading “Memadukan IPS Sejarah dengan Mata Pelajaran IPS Lainnya (1)”

Aceh, Sebagai Sumber Belajar IPS (1)

Masjid Baiturrahman Aceh

Jika disuruh memilih suatu wilayah di Indonesia untuk dikunjungi (gratis tentunya..hehe) maka saya akan memilih Aceh Nangroe Darussalam. Kenapa demikian ? Karena propinsi paling barat di Indonesia ini, merupakan  daerah yang kaya sumber belajar bagi pembelajaran IPS. Sejarah panjang dimulai dari perkembangan Islam di nusantara hingga kerajaan Islam pertama di Indonesia Samudera Pasai sampai penetrasi terhadap bangsa Asing. Perang Aceh yang terkenal, hingga pahlawannya seperti Teuku Umar, Cut Nyak Dien, Teuku Polim, dan Cik di  Tiro.

Ibu kota Aceh ialah Banda Aceh. Pelabuhannya adalah Malahayati-Krueng Raya, Ulee Lheue, Sabang, Lhokseumawe dan Langsa. Aceh merupakan kawasan yang paling buruk dilanda gempa dan tsunami 26 Desember 2004. Beberapa tempat di pesisir pantai musnah sama sekali. Yang terberat adalah Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Jaya, Aceh Barat, Singkil dan Simeulue.

Dari segi pembelajaran IPS Geografi Aceh mempunyai sumber belajar tentang SDA seperti minyak bumi dan gas alam. Sumber alam itu terletak di Aceh Utara dan Aceh Timur. Aceh juga terkenal dengan sumber hutannya, yang terletak di sepanjang jajaran Bukit Barisan, dari Kutacane, Aceh Tenggara, Seulawah, Aceh Besar, sampai Ulu Masen di Aceh Jaya. Sebuah taman nasional, yaitu Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) juga terdapat di Aceh Tenggara.

Continue reading “Aceh, Sebagai Sumber Belajar IPS (1)”