Menulis dan Operator

Dulu, .. Setiap bangun tidur selalu ada ide untuk membuat postingan di blog ini. Ide-ide itu dikumpulkan pada siang hari disela waktu sebelum mengajar hingga sampai malam hari, jika tak selesai perlu waktu hingga berhari-hari. Untuk memperkaya isi tulisan (posting) saya googling dulu, biasanya untuk mencari pengertian atau menambah makna dalam tulisan. Hingga jadilah tulisan sesuka hati saya, kadang malah hanya berupa tulisan sampah. Mulai dari bahan ajar, masalah pekerjaan sampingan saya sebagai operator, tips dan trik seputar dunia maya, kisah perjalanan dan lain-lain. Saya sangat bersemangat menulis/membuat postingan termasuk untuk mengejar keyword yang paling banyak dicari di  google, untuk sekedar mengejar page rank. Apalagi sejak 2011 blog ini sudah memakai embel-embel yunizar.com, wah tak terkira semangatnya. Tak sedikit yang menyapa saya, mulai dari teman kuliah, guru, hingga pengawas memberi apresiasi tentang tulisan saya di blog. Namun ..

Sekarang, .. Ide itu tetap selalu ada setiap saya bangun tidur. Ada saja yang ingin ditulis dan dibagi, namun setelah sampai ke madrasah tercinta justru saya tenggelam dalam pekerjaan tambahan disela waktu sebelum mengajar. Mulai dari merancang spm, membuat spm, membuat daftar gaji, mengelola aplikasi offline dan online, dan seabrek pekerjaan, hingga ide-ide itu tenggelam dalam lautan pekerjaan tak pernah berhenti. Hingga blog ini bak “mati suri”, pekerjaan beginian tak mengenal hari libur. Hari libur saya kadang justru mengerjakan yang tak terkerjakan di madrasah. Hingga, ..

Yang Akan Datang, .. Pengen banget sebenarnya kembali ke khittah saya sebagai guru tok, tanpa pekerjaan sampingan yang kadang bikin lelah. Seperti layaknya Organisasi Islam terbesar di Indonesia Nahdlatul Ulama (NU) punya semboyan untuk kempali ke Khittah NU Tahun 1926, yaitu NU yang tidak berpolitik praktis. Demikian juga saya, untuk kembali jadi guru yang tugasnya hanya mengajar. Guru sebenarnya sudah punya kesibukan sendiri (walau banyak seolah tak sibuk), mulai dari perencanaan pembelajaran hingga penilaian dan remedial. Kalau di urut satu persatu, hampir 24 jam tak ada waktu tersisa untuk guru mengelola pembelajarannya.

Hingga suatu saat, .. Entah apa yang akan terjadi ..

Wassalam

Sibuk Dengan E-MPA

Tampilan Aplikasi E-MPA
Tampilan Aplikasi E-MPA

Sejak akhir Januari 2014 saya disibukkan dengan aktivitas mengelola aplikasi online besutan Kementerian Agama RI, yaitu e-mpa (Elektronik Monitoring Pelaksanaan Anggaran) untuk sattuan kerja kami. Dikatakan sibuk karena harus upload dokumen pencairan anggaran berupa SPM, SP2D, SPP, SPTB dan Kwitansi. Semua dokumen tersebut harus berbentuk PDF hasil scan, gak terbayang banyaknya karena yang harus di scan dan di upload semuan dokumen sepanjang tahun 2013. E-mpa merupakan aplikasi yang konon katanya hasil MOU antara Kementerian Agama dengan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), tujuannya (kira-kira aja nih) untuk transparansi pengelolaan anggaran dan mempermudah pengawasan.

Maka dimulailah kesibukan itu, belum lagi (mungkin) karena keterbatasan space aplikasi ini, hingga besaran file hasil scan tidak boleh lebih dari 300 Kb. Bermacam-macam usaha dilakukan untuk bisa membuat file hasil scan dengan kilobyte (kb) yang kecil. Jika yang di scan hanya satu lembar seperti SPM, SP2D dan SPP tentu tidak masalah, namun jika terdiri dari beberapa lembar seperti SPTB dan Kwitansi yang terdiri dari beberapa lembar, perlu teknik tersendiri untuk menjadikan sebuah file PDF dengan ukuran kecil.

Untuk alat scanner saya memakai dua alat sekaligus yaitu dengan printer all in one Canon MP230 (saya pakai di madrasah) dan HP Deskjet 1050 (saya pakai di rumah), kedua hardware ini cukup mumpuni untuk diajak scan-scan an. Setting hasil dengan 300 dpi dengan pilihan smallest file merupakan pilihan terbaik untuk membuat hasil scan tidak terlalu besar. Keduanya juga punya fasilitas crop untuk memperkecil tampilan hasil scan. Untuk menggabungkan beberapa file PDF saya menggunakan PDF Binder, karena penggunaannya cukup simpel dan mudah.

Jika filenya terlalu besar, sebenarnay ada juga beberapa aplikasi kompresor untuk memperkecil file PDF, namun saya lebih suka menggunakan PDF Converter to Word dan PDF plugin di Word. Hasil scan PDF lalu saya convert dengan Word lalu di save dengan Word sebagai PDF. Hasilnya ternyata lebih kecil dibanding dengan menggunakan kompresor PDF. Atau scan dalam bentuk gambar lalu insert dalam word dan simpan sebagai pdf dengan word. Namun saya perlu trial dan error beberapa kali hingga bisa menghasilkan hasil scan yang baik, yaitu tidak terlalu kabur dan tentunya filenya tidak besar.

Alhamdulillah pekerjaan yang menyita waktu dan fisik ini, berhasil hingga warning di e-mpa sudah hilang. Sayangnya pekerjaan seperti ini di sebagian teman-teman justru memberatkan. Kebijakan pengelola aplikasi yang tidak memberi tahu sejak awal, jadi pertanyaan mereka. Bagi saya ini pekerjaan tambahan yang memberatkan dan juga mengasyikan. Seharusnya ini pekerjaan dengan jabatan pranata komputer, sayangnya di satuan kerja madrasah kekurangan tenaga administrasi yang bisa mengelola aplikasi komputer. Satker kecil dengan tenaga adminstrasi yang kurang namun tuntutan kemajuan pelaporan sangat tinggi. Tujuannya ada namun tak melihat kemampuan ..

Udah ah, entar tambah ngelantur.

Konsep Pengembangan Madrasah (Pengertian, Sejarah dan Asal Usul Madrasah)

Kata Pengantar

berikut adalah coretan sekedar untuk mengikat pengetahuan yang saya dapat melalui berbagai sumber terutama media online, sekedar memperdalam pengetahuan dan jati diri salah satu lembaga pendidikan formal di Indonesia yaitu madrasah. Bekerja sebagai tenaga kependidikan di lembaga pendidikan milik Kementerian Agama ini sudah hampir 10 tahun, seakan saya tak pernah memahami secara mendalam masa lalu, pentingnya, dan harapan untuk menatap madrasah di masa yang akan datang. Dengan harapan menjadikan madrasah menjadi salah satu lembaga pendidikan yang lebih baik dan maju sesuai perkembangan jaman. Rencananya saya mengurai kata dalam bingakain tulisan dalam beberapa seri, Insya Allah akan berguna terutama bagi saya sendiri dan siapa saja yang berkenan untuk memanfaatkannya bagi kemajuan lembaga, umat dan bangsa. Aminn

1. Pengertian, Sejarah dan Asal Usul Madrasah

Secara etimologis, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Online, madrasah adalah sekolah atau perguruan (biasanya yg berdasarkan agama Islam)1, sedang menurut web resmi Kementerian Agama Direktorat Pendidikan madrasah, madrasah dalam bahasa Arab adalah bentuk kata “keterangan tempat” (zharaf makan) dari akar kata “darasa”. Secara harfiah “madrasah” diartikan sebagai “tempat belajar para pelajar”, atau “tempat untuk memberikan pelajaran”. Dari akar kata “darasa” juga bisa diturunkan kata “midras” yang mempunyai arti “buku yang dipelajari” atau “tempat belajar”; kata “al-midras” juga diartikan sebagai “rumah untuk mempelajari kitab Taurat”2.

Dari dua pengertian di atas, maka madrasah dikenal juga dengan istilah sekolah dalam bahasa Indonesia. Istilah sekolah juga merupakan serapan bahasa asing dari school atau skola. Madrasah sebenarnya identik dengan sekolah agama dan karakteristik  berbeda dengan sekolah umum, namun kekinian madrasah lebih dikenal dengan sekolah dengan muatan pembelajaran agamanya lebih banyak. Secara teknis dan prakteknya, madrasah tidak berbeda dengan sekolah formal. Banhkan bisa jadi kritik bahwa di setiap akhir tahun ajaran menjelang Ujian nasional, madrasah terasa sangat formal, mengesampingkan pembelajaran agama. Tujuannya ‘sukses ‘ dalam ujian nasional.

Menurut Wikipedia, madrasah pertama sepanjang sejarah Islam adalah rumah Abu Abdillah al-Arqam bin Abi al-Arqam, tempat ilmu pengetahuan dan amal saleh diajarkan secara terpadu oleh nabi akhir jaman, Nabi Muhammad SAW. Ia sendiri yang mengajar dan mengawasi proses pendidikan disana, para As-Sabiqun al-Awwalun adalah merupakan murid-muridnya3. Siapa Abu Abdillah al-Arqam bin Abi al-Arqam ? Menurut Abdul Mun’im Muhammad dalam Khadijah Ummul Mu’minin Nazharat Fi isyraqi Fajril Islam, hal. 96 dan 155. seperti yang dikutip id.wikipedia.org adalah seorang pengusaha yang berpengaruh dari suku Makhzum dari kota Mekkah. Dalam sejarah Islam, dia orang ketujuh dari As-Sabiqun al-Awwalun. Rumahnya berlokasi di bukit Safa, di tempat inilah para pengikut Muhammad belajar tentang Islam. Sebelumnya rumah al-Arqam ini disebut Dar al-Arqam (rumah Al-Arqam) dan setelah dia memeluk Islam akhirnya disebut Dar al-Islam (Rumah Islam). Dari rumah inilah madrasah pertama kali ada. Al-Arqam juga ikut hijrah bersama dengan Muhammad ke Madinah.4

Para ahli sejarah pendidikan seperti A.L.Tibawi dan Mehdi Nakosteen, seperti yang dikutip Web Resmi Direktorat Pendidikan Madrasah, mengatakan bahwa madrasah (bahasa Arab) merujuk pada lembaga pendidikan tinggi yang luas di dunia Islam (klasik) pra-modern. Artinya, secara istilah madrasah di masa klasik Is¬lam tidak sama terminologinya dengan madrasah dalam pengertian bahasa Indonesia. Para peneliti sejarah pendidikan Islam menulis kata tersebut secara bervariasi misalnya, schule atau hochschule (Jerman), school, college atau academy (Inggris)5.

Perkembangan madrasah di dunia Islam terkait erat dengan berkembangnya secara luas pengetahuan dan pemikiran yang dikenal dengan mazhab. Berkembangnya pengetahuan yang berhubungan dengan Al Qur’an dan Hadits, seperti ilmu-ilmu al-Qur’an, hadits, fiqh, ilmu kalam, maupun ilmu tasawwuf tetapi juga bidang-bidang filsafat, astronomi, kedokteran, matematika dan berbagai bidang ilmu-ilmu alam dan kemasyarakatan6. Hal ini kemudian dilanjutkan dengan munculnya aliran-aliran saling berebutan pengaruh di kalangan umat Islam, dan berusaha mengembangkan aliran dan mazhabnya masing-masing. Maka terbentuklah madrasah-madrasah dalam pengertian kelompok pikiran, mazhab atau aliran. Itulah sebabnya sebagian besar madrasah didirikan pada masa itu dihubungkan dengan nama-nama mazhab yang masyhur pada masanya, misalnya madrasah Syafi’iyah, Hanafiyah, Malikiyah atau Hanbaliyah.7

Dalam sejarahnya, madrasah adalah saksi perjuangan pendidikan yang tak kenal henti. Pada jaman penjajahan Belanda madrasah didirikan untuk semua warga. Sejarah mencatat, Madrasah pertama kali berdiri di Sumatram, Madrasah Adabiyah ( 1908, dimotori Abdullah Ahmad), tahun 1910 berdiri madrasah Schoel di Batusangkar oleh Syaikh M. Taib Umar, kemudian M. Mahmud Yunus pada 1918 mendirikan Diniyah  Schoel sebagai lanjutan dari Madrasah schoel, Madrasah Tawalib didirikan Syeikh Abdul Karim Amrullah di Padang Panjang (1907). lalu, Madrasah Nurul Uman didirikan H.  Abdul Somad di Jambi. Madrasah berkembang di jawa mulai 1912. ada model madrasah pesantren NU dalam bentuk Madrasah Awaliyah, Ibtidaiyah, Tsanawiyah, Mualimin Wustha, dan Muallimin  Ulya ( mulai 1919), ada madrasah yang mengaprosiasi sistem pendidikan  belanda plus, seperti muhammadiyah ( 1912) yang mendirikan Madrasah Ibtidaiyah, Tsanawiyah, Muallimin, Mubalighin, dan Madrasah Diniyah. Ada juga model AL-Irsyad ( 1913) yang mendirikan Madrasah Tajhiziyah, Muallimin dan Tahassus, atau model Madrasah PUI di Jabar yang mengembangkan madrasah pertanian, itulah singkat tentang sejarah madrasah di indonesia.8

Catatan Kaki

1. Kamus Besar bahasa Indonesia Online, http://kamusbahasaindonesia.org/madrasah

2. Situs resmi Direktorat Pendidikan Madrasah Kementerian Agama, http://madrasah.kemenag.go.id/detail38.html

3. Wikipedia, http://id.wikipedia.org/wiki/Madrasah

4. Wikipedia,Khadijah Ummul Mu’minin Nazharat Fi isyraqi Fajril Islam, hal. 96 dan 155,  http://id.wikipedia.org/wiki/Madrasah, lihat juga http://matgembul.wordpress.com/tag/khadijah-ummul-muminin-nazharat-fi-isyraqi-fajril-islam/

5. Situs resmi Direktorat Pendidikan Madrasah Kementerian Agama, http://madrasah.kemenag.go.id/detail38.html

6. Sejarah Berdirinya Madrasah, http://blog.uin-malang.ac.id/gudangmakalah/2011/10/28/sejarah-berdirinya-madrasah/#more-224

7.Sejarah Berdirinya Madrasah, http://blog.uin-malang.ac.id/gudangmakalah/2011/10/28/sejarah-berdirinya-madrasah/#more-224

8. MADRASAH DI INDONESIA DAN MADRASAH BAGI INDONESIA, http://selatanciamis.blogspot.com/2009/12/madrasah-di-indonesia-dan-madrasah-bagi.html

Ujian Nasional dan Budaya Malu

Pelaksanaan Ujian Nasional tahun 2013 terutama untuk tingkat SMA dan sederajat diluar perkiraan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendiknas atau mendikbud sih), yang diluar perkiraan adalah acak kadut dan carut marut pelaksanaan UN. Yang paling parah soal ujian nasional tidak terdistribusi ke beberapa daerah, hingga terjadi penundaaan UN di 11 propinsi. Nah lo, ini kejadian pertama di Indonesia. Ujian Nasional di tunda karena soalnya belum sampai ke daerah. Sang Menteri ngeles nya macam-macam, mulai menyederhanakan masalah hingga menyalahkan percetakan. Kita lihat bentuk pertanggung jawaban M. Nuh (sang menteri), kalau di akhir cerita UN nanti masih cengengesan seolah tanpa beban. Nih lagi, contoh pemimpin-pemimpin dengan ciri khas Indonesia sekali.

Di tingkat nasional, kita tak memiliki budaya sementereng Bushidonya Jepang, atau paling tidak budayanya Siri orang Makasar, atau kalau maksa nih, budaya urang Banjar (Kalimantan Selatan) ‘Dalas hangit, waja sampai kaputing’ (biar kebakar, seluruh wajan) dalam kepemimpinan kita. Budaya malu hampir hilang di wajah-wajah sebagian pemimpin kita. Seandainya Mendiknas kita itu di Jepang, minimal mengundurkan diri, maksimal karena malunya tak tertahankan (karena pertama kali terjadi) otaknya sudah berhamburan di depan kantor Kementerian Pendidikan Nasional karena sang menteri terjun bebas dari atap kantor Kemendiknas atau jantungnya tersayat-sayat dengan samurai di kamar pribadi sang menteri. Tapi semua tak bakal terjadi, selain dalam Islam di haramkan untuk bunuh diri, sedangkan mengundurkan diri tak jadi budaya dalam kehidupan bangsa tercinta ini. Biarlah semalu-malu nya dihujat habis-habisan di social media, sepertinya akan enak aja bilang ’emang gue pikirin’.

Ujian Nasional sejak dulu di kritisi oleh berbagai pihak, terutama fungsi UN sebagai penentu kelulusan. Jika fungsi sebagai pemetaan hasil pendidikan sih sebenarnya boleh saja. Pengetahuan sebenar-benarnya kondisi penguasaan kompetensi siswa adalah guru. Biarlah itu jadi ranah tingkat atas pengelola bangsa ini, saya guru kecil seperti ini mana di dengar. Orang berdarah-darah, hingga mati pun di negeri ini kadang tidak di dengar. Kepentingan sekelompok orang kadang jadi segala-galanya.

Budaya malu seharusnya juga punya sekolah-sekolah penyelenggara UN yang tidak jujur, malunya kepada siapa ? Minimal malu kepada saya .. hehehe. Curang kan perbuatan yang tidak baik. Tapi kan untuk kebaikan siswa untuk lulus ? Lalu apa gunanya belajar PKn, Budi pekerti, Akidah Akhlak .. mana kejujurannya. Lalu itu kan hanya membantu ! Membantu boleh saja, lalu kalau sengaja memberikan kunci dan siswa tahu kita membantu, apa jadinya !

Tapi sekali lagi sudah lah, yang pertama kalo curang juga .. saya nggak ikut-ikutan, karena mata pelajaran saya gak ikut Ujian Nasional, jadi ya santai-santai aja.

Entah.

Kurikulum 2013, Apa yang baru..

Tahun ajaran depan 2013-2014, siapa siap dengan kurikulum 2013 yang baru terutama untuk siswa kelas 7 ditingkat SLTP/MTs dan kelas 10 ditingkat sma/aliyah. Sebagai user, kadang pengetahuan tentang kurikulum agak redup-redup, sedap-sedap manis itu barang. Di ikutkan dalam sosialisasi ya syukur alhamdulillah, atau ketemu cetakannya juga alhamdulillah. Asal jangan nggak peduli sama sekali, dan terserah mau kurikulum apa yang penting ngajar selesai terus dapat gaji dan tunjangan profesi guru. Ketemu guru dengan kategori tersebut seharusnya yang aktif si pembuat kurikulum. Tapi, sosialisasi kental banget dengan proyek. Mensosialisasi kurikulum baru dengan 4 juta guru tentu perlu banyak dana. Tapi sudahlah.. Itu jadi urusan mereka.

Sepintas saya pernah membaca draf kurikulum 2013, yang baru dibanding dengan kurikulum ktsp adalah bertambahnya jam pelajaran untuk beberapa mata Pelajaran terutama mata pelajaran yang di ujian Nasional kan, walau beberapa sekolah sudah menaikkan sendiri jam pelajaran sejak beberapa tahun yang lalu. Yang baru lagi, penghapusan mata pelajaran Teknologi Informasi dan komunikasi. Ceritanya mata pelajaran ini akan di lebur kedalam semua mata pelajaran. Apa jadinya, bagi lembaga pendidikan tenaga kegunaan yang telah membuka jurusan Tik. Entah mungkin masih di tampung ditingkat pendidikan kejurunan. Bagaimana peleburan Tik dalam setiap pembelajaran, juga masih nggak jelas.

Jangan-jangan penghapusan mata pelajaran Tik karena tidak sanggup menyediakan sarana prasarana mata pelajaran ini yang identik dengan pembelajaran komputer. Sarana infrastruktur aja tidak bisa diratakan, padahal sudah berpuluh-puluh tahun APBN. Bagaimana dengan penyediaan satu komputer satu siswa? Memang ruwet ya…Yang baru lagi, sepertinya guru tak akan repot bikin administrasi pelajaran berbentuk silabus lagi, karena kalau benar-benar bikin silabus sih agak repot, yang jadi masalah kalau guru gak mau repot, copy pasti silabus entah dari negeri entah berantah sana. Hehehhe

Yang baru lagi, selain penghapusan mata pelajaraan TIK, juga muatan lokal dan pengembangan diri. Untuk tingkat satuan SLTP/MTs keduanya masuk dalam mata pelajaran Seni Budaya, pendidikan Jasmani dan rohani serta mata pelajaran baru Prakarya. Wah, ini yang benar-benar baru, yaitu Prakarya. Entah guru jurusan apa yang akan mengajar mata pelajaran ini. Jangan-jangan nasibnya akan seperti TIK di kurikulum perubahan yang akan datang. Dihapuskan tanpa ampun, hehehe lagi. Ya begini ini, kalo yang nulis postingan ini gak ngerti kurikulum.

Terkhusus untuk mata pelajaran yang saya ajar, saya kutip langsung dari draf kurikulum 2013 berbunyi demikian : “IPA dan IPS dikembangkan sebagai mata pelajaran integrative science dan integrative social studies, bukan sebagai pendidikan disiplin ilmu. Keduanya sebagai pendidikan berorientasi aplikatif, pengembangan kemampuan berpikir,kemampuan belajar, rasa ingin tahu, dan pembangunan sikap peduli dan bertanggung jawab terhadap lingkungan alam dan sosial”.

Dibeberapa literatur tentang kurikulum, integrative science dan integrative social studies merupakan mata pelajaran baru yang ditujukan untuk persiapan sebelum masuk ke  suatu disiplin ilmu tertentu 1). Integrative social studies, merupakan mata pelajaran yang memberikan pengenalan pengetahuan berbagai macam disiplin ilmu sosial, baik tentang tubuh ilmu pengetahuan itu sendiri, teori, praktik dan metode yang akan membawa kepada pemahaman terhadap manusia. Diharapkan siswa dapat membedakan yang mana asumsi, pendapat pribadi dan kesimpulan. Berdasarkan pemikiran yang kritis dan analitis 2).

Googling dengan keyword integrative social studies, sepertinya kurikulum 2013 untuk mata pelajaran IPS, ‘mengadop’ kurikulum negara-negara barat terutama Amerika Serikat. Tujuan utama dari setiap pembelajaran tentu baik, tinggal pengaplikasian dalam setiap pembelajaran di kelas dan lingkungan.

So, untuk semua guru .. selamat menjalankan tugas dan sukses selalu.

1) What Is Integrated Science ?, http://www.princeton.edu/integratedscience/

2) Integrative Studies in Social Science, http://www.cis-ss.msu.edu/iss/index.php

Dari jaman kolonial sampai RSBI, pendidikan diskriminatif tak pernah henti

Belanda sang penguasa kolonial Hindia Belanda (Indonesia, sekarang) pertama kali mengenalkan pendidikan formal di Indonesia tahun 1817,dengan nama Europeesche Lagere School (ELS) atausekolah rendah Eropa. Sekolah ini diperuntukkan bagi kalangan Eropa, keturunan Asia Timur dan pribumi tokoh terkemuka. Sebagai yang berkuasa, pendidikan bagi Belanda lebih dari diskriminatif tapi tidak perlu untuk rakyat Hindia Belanda saat itu. Sebagai bagian dari politik balas jasa Belanda (politik etis), pada tahun 1907 Belanda mendirikan sekolah khusus pribumi Hollandsch Inlandsche School (HIS), entah siapa pelaku utama diskriminasinya, yang bisa masuk kesekolah ini hanya kalangan bangsawan, tokoh masyarakat dan pegawai negeri (wah, pns ngetop juga saat tempoe doeloe, heheheh). Seterusnya Pemerintah Hindia sejak tahun1930 an melaksanakan pendidikan formal terbatas dengan berbagai jenjang.

Selanjutnya pemerintahan era kemerdekaan sejak orde lama sampai orde reformasi, bermasalah dalam pemerataan pendidikaan. Entah dengan alasan kita tak kunjung jadi negara yang maju dan kuat secara ekonomi, jadi alasan pemerataan pendidikan tidak berhasil. Disparitas sarana prasarana pendidikan antar propinsi, antar kabupaten sangat mencolok. Tahun 1993,  saya bersama-sama teman kuliah berkunjung ke UGM,  sempat diledek dosen saya, ‘tuh, lihat kampus orang, laboratoriumnya aja besarnya seperti kampus kita’.

Kesininya, pemerintah malah menambah ketidakberhasilan pemerataan pendidikan dengan program-program yang diskriminatif.  Contoh terbaru adalah Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) dan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI). Jika mau adil “RSBI kan semua Sekolah”, jika tak mampu meng-RSBI kan semua sekolah bikin bertahap. Jangan malah membiarkan sekolah maju dengan sekenanya sendiri. Beberapa sekolah berpredikat RSBI, menyatakan tidak ada diskriminasi, anda salah besar bung .. Karena diskriminasinya terbukti oleh MK maka RSBI dihapuskan.

Yang idealnya, adalah adu kuat program.  Semua sekolah membuat program semewah mungkin, ajukan ke pemerintah. jika dana pemerintah dengan APBN Rp. 1.000 Triliun untuk pendidikan tidak cukup, baru ‘rampok’ orang tua murid, tentu tidak sembarang rampok, dibicarakan terlebih dahulu berapa kekurangan program sekolah dalam setahun, berapa kurangnya. Buat pengawasan sebaik mungkin, kalau perlu satu sekolah satu auditornya.

Bukan malah, diberi dana berlimpah, sesukanya menarik duit orang tua ,,,

Akhir Tahun Anggaran 2012, Bagaimana TPG anda ?

Anggaran APBN Tahun 2012, akan segera berakhir. Pengajuan pembayaran apapun termasuk Tunjangan Profesi Guru (TPG) paling lambat tanggal 17 Desember 2012. Lewat tanggal itu tidak bisa diajukan lagi, maka menunggu lagi tahun depan dengan anggaran yang baru, anggaran tahun 2013.
Tahun ini (2012),  tunjangan profesi guru  untuk guru madrasah tidak ada revisi alias penambahan anggaran, alhasil bagi yang anggarannya kurang,tidak akan dapat penuh satu tahun. Walau masih dimungkinkan kekurangannya dibayar tahun depan. Namun akan jadi efek domino yang berkepanjangan, jika kekurangan pembayaran tahun ini dibebankan pada tahun depan, maka tahun berikutnya selalu akan kekurangan. Kecuali jika dimungkinkan untuk ada revisi, yang khusus untuk pembayaran kekurangannya.
Selain itu ada rumor yang berkembang tentang pengembalian pembayaran TPG guru DPK, guru Diknas yang di perbantukan di madrasah, kepada Diknas. Walau sampai sekarang saya belum pernah melihat suratnya. Walau agak bertentangan dengan peraturan di atasnya, (saya lupa jenis peraturannya), bahwa TPG dibayar oleh Kementerian yang melaksanakan sertifikasi. Guru diknas yang mengajar di madrasah disertifikasi oleh Kemeterian Agama. Entah bagaimana jadinya .. 🙂
Yang kita tunggu sebenarnya, adalah melekatnya TPG dengan gaji  induk/rutin, oleh seorang pemimpin yang kelak di akan datang peduli terhadap guru. Organisasi keguruan apapun jenisnya, tak punya harga tawar untuk memperjuangkan hal ini. Hanya sekumpulan orang dengan segala formalitas semu tanpa perjuangan konkrit untuk kemajuan dan kesejahteraan guru terutama guru honor/tidak tetap.
Ditengah cibiran banyak orang, tak henti-hentinya saya mengingatkan kepada saya sendiri dan teman guru se Indonesia, untuk terus meningkatkan profesionalisme kita apapun situasi dan kondisinya. Kita lah (guru), yang akan membekali setiap anak bangsa dengan ilmu yang bermanfaat, seperti yang di katakan dalam kitab suci Al Qur’an, bahwa manusia di hari akhir hanya membawa tiga hal, yaitu segala amal jariah, do’a anak yang saleh dan ilmu yang bermanfaat.  Semoga jadi pahala yang berlipat ganda bagi kita, amin …
Wallahualam bisawab, syukran …

Uji Kompetensi Guru dan Kemerdekaan RI :)

Seluruh guru di Indonesia (kecuali guru madrasah) serentak sejak tanggal 31 Juli 2012, mengikuti uji kompetensi guru yang dilaksanakan secara online. Karena belum mengikuti sosialisasinya (apalagi saya guru madrasah), saya tidak tahu apa maksud dan tujuan uji kompetensi ini, beritanya sepenggal-sepenggal yang saya terima. Oke lah, saya berlaga sok tahu aja nih (maaf-maaf kata nih), kira-kira tujuannya untuk pemetaan guru, pemetaan penguasaan kompetensi guru. Setahu saya, kompetensi adalah kemampuan kepribadian, ada 2 kompetensi utama guru yaitu pedagogik dan profesional. Kompetensi pedagogik, mutlak harus guru miliki, karena kompetensi inilah yang membedakan dengan profesioal lainnya (cieh, hebat nih). Ada 7 aspek dan 45 indikator dalam kompetensi pedagogik, silakan browsing aja, sudah banyak yang menulis. sedang Kompetensi Profesional yaitu kemampuan yang harus dimiliki guru da­lam perencanaan dan pelaksanaan proses pembelajaran. Guru mempunyai tu­gas untuk mengarahkan kegiatan belajar siswa untuk mencapai tujuan pem­belajaran, untuk itu guru dituntut mampu menyampaikan bahan pelajaran. Guru harus selalu meng-update, dan menguasai materi pelajaran yang disaji­kan.

Nah, paparan singkat di atas itulah yang akan diuji dalam Uji Kompetensi Guru. Jika melirik (beraninya cuman melirik), hasil fantastis Ujian Nasional di berbagai tingkat pendidikan formal, sebenarnya ada masalah apa dengan kompetensi guru. Hasil nasional kelulusan dalam Ujian nasional 98%, sebenarnya data tak terbantahkan, baiknya kompetensi guru itu. Kecuali, jika dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan kebudayaan itu justru tidak percaya dengan hasil fantastis tersebut. Sehingga perlu kiranya diadakan uji kompetensi lagi, siap nggak dengan hasil terbalik, kompetensi rendah namun hasil UN mentereng tingginya .. hehehe

Di analogikan, uji kompetensi guru ini seperti dengan Kemerdekaan Republik Indonesia. Secara de fakto, kita merdeka 17 Agustus 1945 dan tidak bisa terbantahkan, jika kita mengingkarinya berarti mengingkari juga perjuangan para pahlawan yang berkorban harta dan nyawa. Hasil UN 98% lulus juga tak terbantahkan, itu de factonya. Namun de jure, Indonesia antara tahun 1945-1949 tidak lah secara benar-benar melaksanakan pemerintahan layaknya sebuah negara merdeka, karena harus menghadapi serangan balik Belanda yang ingin menguasai Indonesia. Analoginya dengan pendidikan kita, walau dengan hasil UN mentereng masih banyak anggapan sebagian orang bahwa guru tidak se profesional yang diharapkan, peningkatan kesejahteraan guru tak sebanding dengan ke preofesionalannya, plus tikaman iri sebagian orang dengan apa yang diperoleh guru.

Simpulannya, apakah Uji Kompetensi Guru akan seperti Konfrensi Meja Bundar (KMB) di Den Haaq, Belanda ? Sebuah pertemuan Indonesia dan Belanda yang berisi serah terima kekuasaan, setelah Belanda tak berhasil baik secara kekerasan maupun perundingan menguasai Indonesia. Analoginya, apakah UKG merupakan KMB nya pendidikan kita untuk mempertegas kemampuan kepribadian guru kita yang mumpuni dalam bentuk penguasaan kompetensi yang baik .. Wallahu allam

13 Ramadhan 1433 hijriah