Dari Guru Pindah ke Struktural

Sudah hampir setahun saya pindah dari madrasah ke Kanwil Kemenag untuk menjadi JFU Pengevaluasi Pendidik dan Tenaga Kependidikan. Banyak teman-teman mempertanyakan keputusan saya berpindah dari jabatan fungsional ke struktural. Ada menyayangkan, kenapa harus mutasi dengan pendapatan yang lebih rendah. Dengan Jabatan Fungsional Umum sebagai Pengevaluasi saya mendapat tunjangan kinerja grade 7 sebesar Rp. 2.616.000,- dibanding dengan Tunjangan Profesi Guru yang saya terima sebesar Rp. 3.360,000,- (di potong pajak).

Dalam hati saya, rezeki Allah SWT lah yang mengatur, saya tak memperdulikan salary sebenarnya. Kenaikan Gaji berkala apalagi pangkat, saya aja males ngurus. Bukan sok punya uang banyak, saya gak mau ribet. Apalagi menghadapi orang-orang yang pengen mengambil keuntungan dari keribetan orang. Paling sebel deh pokoknya. Tau kan ribetnya naik pangkat, harus ngumpulin karya tulis. Padahal literasi dikalangan guru masih rendah. Tapi, sudahlah ..

Alasan utama saya mutasi sebenarnya, pengen tantangan baru. Walau kesininya, saya agak keteteran dengan tantangan baru. Banyak hal yag harus saya pelajari, misalnya masalah administrasi seperti surat menyurat, administrasi kegiatan, data-data yang bejibun dan dengan deadline waktu yang sempit. Walau sudah terbiasa dengan deadline sewaktu mengelola administrasi di madrasah sebagai operator, ternyata lebih ribet.

Alasan kedua adalah untuk mendekatkan rumah dengan tempat kerja, dengan jarak tempuh hanya 6 kilometer dari rumah, dibanding dengan 25 ke madrasah, saya lebih save waktu dalam perjalanan. Dua hari libur sabtu dan minggu sebenarnya juga jadi alasan saya mutasi.

Ternyata ada yang saya baru sadari, jika hendak ke struktural tanpa bekal mumpuni menggunakan aplikasi office hampir dipastikan mengalami kesulitan. Output pekerjaan di struktural kalo nggak aplikasi offline dan online pasti berupa Word dan Excel. Kalau cuma main pakai rumus sum-sum aja di excel pasti keteteran. Alhasil, saya pun harus belajar banyak. Menggunakan mail merge ternyata juga mempermudah pekerjaan. Gak bisa Word dan Excel, percuma ke struktural. Sisanya akan di cemooh sebagai orang yang gak bisa kerja.

Intrik dan konfilk ternyata lebih kompleks dibanding waktu madrasah,.. tapi saya males menceritakan. Ada yang sok paling bisa dan paling benar, tapi ilmu nya cuman dapat dari google. Dan banyak lah …

Nanti disambung …

Akhirnya Punya Pasport Juga ! Daftar Online Pula

Akhirnya untuk kepentingan tertentu, saya membuat pasport Republik Indonesia. Walau masih belum jelas, kapan saya bisa ke luar negeri. Mudah-mudahan ada travel yang bisa mengirim saya gratis keluar negeri, emang ada (ngarep habis-habisan deh kayaknya, hehehe).

Sebenarnya, saya sudah lama melirik halaman online imigrasi di http://www.imigrasi.go.id sambil melihat persyaratan pembuatan pasport secara online. Iseng, saya coba mendaftar dan alhasil perdaftaran secara online ternyata cukup mudah. Hanya dengan mengisi data pribadi secara lengkap, terus membayar juga secara online dalam hitungan menit kita sudah mendapat undangan ke kantor imigrasi setempat yang kita pilih sebelumnya.

Pembayaran secara online, juga sangat familiar bagi saya, karena sudah sering membayar pajak melalui MPN 2G. Sama persis, ketika mendaftar kita mendapat kode biling yang biasanya kita dapat ketika membayar pajak. Kode biling yang kita dapat, tinggal dimasukkan ke dalam kode pembayaran baik melalui ATM maupun internet banking, yang juga sudah sangat familiar bagi saya.

Proses pengambilan gambar untuk pasport di Kantor Imigrasi, cukup membuat saya agak khawatir dipersulit apalagi kantor Imigrasi masih terdengar adanya calo-calo yang berkeliaran. Kekhawatiran saya mulai muncul ketika membawa surat undangan yang saya dapat secara online, front office di kantor Imigrasi menyebut kelemahan pendaftaran online karena tidak mencetak data pribadi sebelumnya. Padahal dalam website dan undangan imigrasi tak ada suruhan dan layanan untuk mencetak data diri hasil pendaftaran.

Selanjutnya, ternyata cukup lancar dan menurut saya justru lebih cepat dibanding yang mendaftar manual. Kurang lebih hanya sekitar 1,5 jam proses wawancara dan pengambilan gambar selesai. Selanjutnya 3 hari kerja berikutnya langsung selesai. Ketika wawancara saya ditanya, tujuan pembuatan pasport. Saya bilang tujuannya untuk umroh dan wisata, namanya saya di khawatirkan hanya mengandung 2 suku kata sehingga harus menambah nama orang tua di belakang nama saya. Dan juga saya harus membuat surat keterangan dari travel.

Karena umroh nya masih belum jelas dan baru rencana juga, saya memilih untuk membuat pasport biasa saja untuk tujuan bepergian ke Singapura. Wessss, Singapur bro, … boro-boro mau ke Singapura.. hehehe. Tapi saya yakin manusia hanya bisa berencana tapi Allah SWT yang menentukan. Insya Allah

Krisis Listrik #plnkalselteng, Harapan Pilu dan Kenyataan

Realitas atau kenyataan sering diartikan dengan hal yang nyata dan benar-benar ada. Dalam istilah filsafat sering diartikan dengan fakta, realitas, kebenaran  dan aksioma. Johann Heinrich Lambert menyebutnya dengan realitas fenomenologi, menurutnya realitas adalah sesuatu yang secara fenomenal nyata sementara non-realitas dianggap tidak ada.Apa hubungannya dengan krisis listrik di #plnkalselteng ? Tanpa terbantahkan “kita” (yang ada di propinsi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah) mengalami krisis listrik. Itulah kenyataannya.

Bagaimana bentuk krisisnya ? Menurut saya  bentuk krisisnya, daya listrik di #plnkalselteng “pas-pasan”, sehingga jika ada faktor alam, mesin rusak dan pemeliharaan, pemadaman listrik menjadi sesuatu kenyataan yang tak bisa dipungkiri. Sayangnya kenyataan yang fenomenal ini berlangsung sudah sejak lama. Seolah tanpa solusi. Simpulannya, siapapun anda mulai dari profesor hingga buruh, petani dan nelayan, terima kenyataan bahwa listrik di #plnkalselteng mengalami kekurangan daya. 

Sekarang kita main banding-bandingan. Kenapa listrik di pulau Jawa jarang terdengar pemadaman bergilir ? Menurut pendapat saya, yang belum diuji kebenarannya, ada dua sebab : pertama, di Jawa daya listrik nya lebih banyak dan kedua, mesinnya lebih baik. Pernah lihat PLTU Paiton nggak ? menghasilkan 2500 MW lebih, Wuihh, kalau anda jalan darat dari Surabaya menuju Bali pasti nemu tuh. Setiap saya lewat Paiton selalu perasaan saya campur aduk antara sedih dan bangga. Batubara yang diambil dari Kalimantan seperti anakan gunung di Paiton Situbondo, buat pulau Jawa dan Bali terang benderang. Tak terbayangkan mereka bersenang-senang dengan batubara yang diambil dari pulau “kita”. Buat menerangi para bule di Bali mabok, dan orang Jawa sana beraktivitas hingga bersenggama.

Jika sebab pertama benar, artinya daya listrik di jawa lebih besar. Dan anda mempertanyakannya kenapa kita listriknya krisis ? maka kita akan mendengar kata-kata seperti kemampuan ekonomi kita terbatas, pembangunan penambahan daya secara bertahap, beberapa waktu kedepan PLTU ini dan PLTA itu akan masuk dalam sistem, memanfaatkan energi terbarukan dan seabreg harapan-harapan lainnya. Tapi kenyataannya kita tetap krisis. Memang, kenyataan adalah segala-galanya.

Patutkah kita menyalahkan atau bahkan mencaci PLN ? Menurut saya, bisa ya, bisa tidak. Pemegang konsep perencanaan jangka panjang penyediaan daya listrik siapa dulu ? Dari pemerintah atau PLN ? Saya tidak tahu pasti. Orang perencanaan selalu bilang “plan first”. Seperti misalnya sekian persen dari yang bayar listrik di tabung untuk membuat pembangkit baru setiap berapa tahun sekali. Atau PLN hanya terima bersih dari pemerintah yang membuatkan pembangkit listrik, tanpa menggunakan uang orang yang bayar tagihan listrik. Sepertinya uang tagihan listrik habis untuk biaya operasional dan belanja pegawai. Makin lama malah saya tambah bingung, bagaimana perencanaan pembuatan pembangkit listrik, APBN murni dan atau campur tangan PLN.

Dari segi pelayanan, kita tak perlu menyalahkan PLN. Mereka telah berusaha, dengan menggunakan daya yang ada. Termasuk ketika dalam kasus beberapa waktu belakangan ini mereka menyediakan daya tambahan dalam bentuk portable untuk persiapan anak sekolah mengahdapi ujian. Kita perlu apresiasi untuk mereka.

Selanjutnya, penting juga kita mempunyai orang-orang yang keras dan tegas menuntut ketersediaan daya listrik yang cukup. Ini ada pada pemimpin-pemimpin daerah kita. Pernah dengar nggak, ada pemimpin yang sampai menggebrak meja, sambil melotot dengan muka merah menuntut di buatkan pembangkit listrik serta sambil tunjuk-tunjuk tangan begitu dengan orang pusat di pulau Jawa sana ? Kita perlu pemimpin-peminpin begitu. Atau ada pemimpin yang bilang “enak aja lu terang benderang dengan hasil alam kami, sedang gue gelap-gelapan”. Kalau di Kalimantan Selatan sih, gak pernah ada. Entah kalau di propinsi lain.

Nanti disambung, ya …