Kisah Perjalanan, Makam Raden Ayu Pemecutan

Makam Raden Ayu Pemecutan
Makam Raden Ayu Pemecutan

Alhamdulillah, akhir tahun 2014 lagi-lagi saya berkesempatan berliburan ke pulau Dewata, Bali. Ada hal yang baru ketika berkunjung ke pulau nan eksotik, terkenal dimanca negara dan kaya dengan ragam budaya ini, bahwa di tengah kota Denpasar terdapat sebuah makam seorang puteri muslim yang bernama Raden Ayu Siti Khotijah. Namanya dikalangan muslim tentu sangat familiar, walau berbeda penulisan dan pengucapannya, bahwa nama tersebut sama dengan nama istri junjungan kita Nabi Muhammad SAW, Siti Khadijah. Siapa Raden Ayu Siti Khotijah, yang punya nama asli Gusti Ayu Made Rai atau disebut juga dengan Raden Ayu Pemecutan ini ?

Dari buku yang dijual di sekitar makam beliau, disebutkan beliau adalah seorang putri dari Raja Pemecutan. Tidak jelas dari Raja Pemecutan yang mana. Menurut id.wikipedia.org, dari nama-nama raja Bali Pemecutan di Badung ada sekitar 16 nama raja Pemecutan yang berkuasa di Badung.

Cerita awal sang Raden Ayu Pemecutan, seperti cerita legenda putri-putri keraton di seluruh nusantara. Sang putri terkenal cantik dan disayang hingga menjadi kembang kerajaan. Tak sedikit para pembesar kerajaan di Bali yang ingin meminang sang putri. Namun musibah datang, sang putri mengidap penyakit kuning. Raja Pemecutan berusaha untuk menyembuhkan sang anak kesayangan, namun tak berhasil menyembuhkan sang putri. Hingga Raja Pemecutan membuat sebuah sayembara yang bisa menyembuhkan penyakit sang putri, jika perempuan akan diangkat jadi anak raja dan jika laki-laki akan di kawinkan dengan Raden Ayu Pemecutan.

Kabar tentang sayembara ini terdengar oleh seorang ulama di Yogyakarta dan mempunyai seorang anak didik yang jadi raja di Madura yaitu Cakraningrat IV. Ulama yang dalam buku Sejarah keramat Raden Ayu Pemecutan disebut Syech ini memanggil Cakraningrat IV ke Yogyakarta untuk mengikuti sayembara tersebut. Raja Madura ini berangkat ke Bali, hasilnya dapat ditebak Raden Ayu Pemecutan dapat disembuhkan oleh Cakraningrat IV. Siapa sih sebenarnya Cakraningrat IV ? Pangeran dari Madura ini bernama asli Susroadiningrat, dia mendapatkan tahta kerajaan dari kakaknya Cakraningrat III. Cakraningrat IV adalah seorang pemimpin Madura Barat (bertahta 1718-1746). Seperti pendahulunya, dia menolak kekuasaan raja Mataram. Dia lebih ingin berada di bawah pelindungan VOC, sesuatu yang ditolak VOC. Di samping itu, Cakraningrat secara pribadi membenci Amangkurat IV, raja Mataram (bertahta 1719-1726), dan menolak untuk sowan ke kraton Kartasura. Dia juga takut akan diracuni bila ke kraton.  Tahun 1726 Amangkurat meninggal, digantikan puteranya yang mengambil gelar Pakubuwana II, yang berumur 16 tahun (bertahta 1726-1749). Hubungan antara Mataram dan Cakraningrat membaik, dan Cakraningrat menikahi salah satu adik Pakubuwana. Hubungan antara Cakraningrat dan ibu mertuanya, Ratu Amangkurat, menjadi akrab.Di akhir tahun 1730-an, kekuasaan Cakraningrat di Jawa Timur meningkat dan mengancam kedudukan orang Bali di daerah Blambangan.

Jika benar berita sayembara itu didapat dari Yogyakarta, maka peristiwa sayembara terjadi setelah Amangkurat meninggal (1726), karena sebelum tahun itu Cakraningrat IV tidak pernah datang ke Yogyakarta. Setelah sang putri sembuh, lalu Raden Ayu Pemecutan dan Cakraningrat IV dikawinkan. Tentunya dalam perkawinan muslim, keuanya harus beragama Islam, Raden Ayu Pemecutan pun jadi mualaf dan bergelar Raden Ayu Siti Khotijah. Sang putri lalu di boyong ke Madura oleh Cakraningrat IV.

Suatu ketika Raden Ayu  pulang ke Bali beserta 40 orang pegiring dan pengawal. Cakraningrat IV memberikan bekal berupa guci, keris dan sebuah pusaka berbentuk tusuk konde yang diselipkan di rambut sang putri. Sesampainya di kerajaan Pamecutan, Siti Khotijah disambut dengan riang gembira. Namun, kala itu tidak ada yang mengetahui bahwa sang putri telah memeluk agama Islam. Suatu hari ketika ada suatu upacara Meligia atau Nyekah yaitu upacara Atma Wedana yang dilanjutkan dengan Ngelingihan (Menyetanakan) Betara Hyang di Pemerajan (tempat suci keluarga) Puri Pemecutan, Raden Ayu Pemecutan berkunjung ke Puri tempat kelahirannya. Pada suatu hari saat sandikala (menjelang petang) di Puri, Raden Ayu Pemecutan alias Raden Ayu Siti Kotijah menjalankan persembahyangan (ibadah sholat maghrib) di Merajan Puri dengan menggunakan Mukena (Krudung). Ketika itu salah seorang Patih di Puri melihat hal tersebut. Para patih dan pengawal kerajaan tidak menyadari bahwa Puri telah memeluk islam dan sedang melakukan ibadah sholat. Menurut kepercayaan di Bali, bila seseorang mengenakan pakaian atau jubah serba putih, itu adalah pertanda sedang melepas atau melakukan ritual ilmua hitam (Leak). Hal tersebut dianggap aneh dan dikatakan sebagai penganut aliran ilmu hitam.

Akibat ketidaktahuan pengawal istana, ‘keanehan’ yang disaksikan di halaman istana membuat pengawal dan patih kerajaan menjadi geram dan melaporakan hal tersebut kepada Raja. Mendengar laporan Ki Patih tersebut, Sang Raja menjadi murka. Ki Patih diperintahkan kemudian untuk membunuh Raden Ayu Siti Khotijah. Raden Ayu Siti Khotijah dibawa ke kuburan areal pemakaman yang luasnya 9 Ha. Sesampai di depan Pura Kepuh Kembar, Raden Ayu berkata kepada patih dan pengiringnya “aku sudah punya firasat sebelumnya mengenai hal ini. Karena ini adalah perintah raja, maka laksanakanlah. Dan perlu kau ketahui bahwa aku ketika itu sedang sholat atau sembahyang menurut kepercayaan Islam, tidak ada maksud jahat apalagi ngeleak.” Demikian kata Siti Khotijah.

Raden Ayu berpesan kepada Sang patih “jangan aku dibunuh dengan menggunakan senjata tajam, karena senjata tajam tak akan membunuhku. Bunuhlah aku dengan menggunakan tusuk konde yang diikat dengan daun sirih serta dililitkan dengan benang tiga warna, merah, putih dan hitam (Tri Datu), tusukkan ke dadaku. Apabila aku sudah mati, maka dari badanku akan keluar asap. Apabila asap tersebut berbau busuk, maka tanamlah aku. Tetapi apabila mengeluarkan bau yang harum, maka buatkanlah aku tempat suci yang disebut kramat”.

Setelah meninggalnya Raden Ayu, bahwa memang betul dari badanya keluar asap dan ternyata bau yang keluar sangatlah harum. Peristiwa itu sangat mengejutkan para patih dan pengawal. Perasaan dari para patih dan pengiringnya menjadi tak menentu, ada yang menangis. Sang raja menjadi sangat menyesal dengan keputusan belia . Jenasah Raden Ayu dimakamkan di tempat tersebut serta dibuatkan tempat suci yang disebut kramat, sesuai dengan permintaan beliau menjelang dibunuh. Untuk merawat makam kramat tersebut, ditunjuklah Gede Sedahan Gelogor yang saat itu menjadi kepala urusan istana di Puri Pemecutan.

Demikian kisah sang putri yang saya kutip dari beberapa sumber, ada beberapa simpulan dari cerita diatas: Bali, sangat mempertahankan agama, budaya dan tradisinya. Hingga Proses Islamisasi sepertinya tak pernah sampai kesana, kuat dugaan saya keikutan Cakraningrat IV dalam sayembara merupakan salah satu usaha Islamisasi. Sikap teguh untuk tidak akan meninggalkan Hindu ini juga terus dipegang raja-raja Bali sesudahnya termasuk ketika Bali pecah menjadi kerajaan-kerajaan kecil. Meski begitu, bukan berarti Bali tertutup dari pengaruh budaya luar. Bali sangat terbuka terhadap datangnya saudagar-saudagar muslim dan mereka disebut sebagai nyama selam (saudara dari umat Islam). Oleh raja-raja Bali pada sekitar abad ke-18-19, kelompok-kelompok muslim ini diberikan untuk menempati lahan-lahan kosong. Ini merupakan kompensasi dari bantuan yang diberikan kelompok-kelompok muslim itu dalam upaya mempertahankan kekuasaan para raja-raja itu. Karena itulah, banyak ditemukan perkampungan-perkampungan khusus muslim di Bali. Misalnya, perkampungan Islam di Desa Pegayaman, Buleleng, Kampung Bugis di Serangan, Kampung Gelgel di Klungkung, Kampung Kusamba di Klungkung dan masih banyak lagi yang lain. Jika ditelusuri, leluhur kampung-kampung muslim itu pasti memiliki hubungan mesra dengan raja-raja yang pernah mengayominya.

Dari Beberapa Sumber.

Aryo Penangsang dan Kontroversi.

Makam Aria Penangsang di Kadilangu
Makam Aria Penangsang di Kadilangu

Dalam kunjungan ziarah ke makan Sunan Kalijaga di Kadilangu Demak, saya terkaget-kaget ketika di pojok kiri arah menuju makam Sunan Kalijaga, tertulis petunjuk arah ke Makam ‘Haryo Penangsang’. Dalam hati saya, apakah ini yang disebut juga dengan Aria Penangsang, tokoh kontroversi dalam sejarah tanah Jawa terutama pada masa kerajaan Demak. Saya lalu mengabadikan makam tersebut, sepanjang perjalanan menuju Yogyakarta saya coba nyari di google, apa benar makam Haryo Penangsang adalah makam sang Aria Penangsang yang tersohor dalam  cerita adu kesaktian dengan Hadiwijaya atau Joko Tingkir penguasa Pajang.

Pusara Aria Penangsang Di Kadilangu
Pusara Aria Penangsang Di Kadilangu

Yang namanya kontroversi memang semakin menjadi, dibeberapa situs seperti http://sejarahgunungbatu.blogspot.com/2012/04/makamkuburan-ratu-sahibul-ada.html, menyatakan bahwa makam Aria Penangsang ada di tiga tempat yaitu di sekitar Masjid Demak, di Kadilangu dan di Indra Laya Ogan Ilir.  Saya tidak ingin memperdebatkan dimana beliau di makamkan, biarlah hanya Allah yang tahu. Bagaimana pun pandangan kita tentang beliau, yang pasti beliau pasti orang yang saleh, karena salah satu murid kesayangan Sunan Kudus. Salah satu Wali Songo, penyebar agama Islam yang masyhur di kawasan Jawa Tengah.

Lalu siapa Aria Penangsang ? Menurut Wikipedia.org.id, Ario Penangsang atau Arya Jipang atau Ji Pang Kang adalah anak dari Pangeran Sekar atau Raden Kikin, cucu dari Raden Patah, raja pertama Demak. Nenek dari Aria Penangsang (istri Raden Patah) adalah anak seorang Bupai di Jipang (sekarang Cepu, Blora, Jawa Tengah). Sehingga ia mewarisi kedudukan kakeknya menjadi Bupati di Jipang Panolan sekitar abad ke-16. Nama Aria Penangsang sering disebut-sebut dalam beberapa sumber sejarah seperti Babad Tanah Jawi dan Serat Kanda. Kedua sumber sejarah ini merupakan sastra sejarah berbentuk baboon, buku besar yang dibuat pada jaman kerajaan Mataram berisikan tembang Jawa, serta ditulis ulang pada periode bahasa Jawa Baru (abad ke-19). Babad ini menarik perhatian para sejarawan lokal maupun manca negara seperti H.J.de Graaf, Meinsma, T.H. Pigeaud, dan M.C. Ricklefs.

Kontroversi dimulai ketika terjadi suksesi kepemimpinan di kerajaan Demak, tahun 1521 Adipati Kudus (anak Raden Patah, orang Portugis menyebutnya Pati Unus atau Adipati Unus) pewaris tahta gugur dalam perang. Ternyata sepeninggal Pati Unus kerajaan Demak diperebutkan kedua adiknya yaitu Pangeran Sekar (Ayah Aria Penangsang) dan Sultan Trenggono. Politik kerajaan Demak pun semakin memanas, layaknya perebutan kekuasaan dibeberapa periode kekinian dalam sejarah Indonesia dihiasi dengan cucuran darah. Raden Mukmin atau Sunan Prawoto (anak Sultan Trenggono) membunuh pamannya sendiri Pangeran Sekar. Dalam beberapa literatur, tak disebutkan apakah ada konpirasi antara anak dan ayah, dalam usaha membunuh Pangeran Sekar, Wallahualam. Sepeninggal ayahnya, Aria Penangsang yang masil kecil menjadi Adipati di Jipang dibantu patih kadipaten.

Sultan Trenggono pun jadi raja Demak yang ketiga hingga gugur tahun 1546 di Panarukan. Sepeninggal Trenggono, Sunan Prawoto jadi raja Demakpada tahun 1546. Tahun 549 Arya Penangsang dengan dukungan gurunya, yaitu Sunan Kudus, membalas kematian Raden Kikin dengan mengirim utusan bernama Rangkud untuk membunuh Sunan Prawoto dengan Keris Kyai Setan Kober. Rangkud sendiri tewas pula, saling bunuh dengan korbannya itu. Keterlibatan Sunan Kudus, patut dipertanyakan maksud dan tujuannya, hal ini ditanyakan langsung oleh Ratu Kalinyamat, adik  Sunan Prawoto. Namun jawaban Sunan Kudus bahwa Sunan Prawoto mati karena karma membuat Ratu Kalinyamat kecewa.

Ratu Kalinyamat bersama suaminya pulang ke Jepara. Di tengah jalan mereka diserbu anak buah Arya Penangsang. Ratu Kalinyamat berhasil lolos, sedangkan suaminya, yang bernama Pangeran Hadari, terbunuh.Arya Penangsang kemudian mengirim empat orang utusan membunuh saingan beratnya, yaitu Hadiwijaya, menantu Trenggana yang menjadi bupati Pajang. Meskipun keempatnya dibekali keris pusaka Kyai Setan Kober, namun, mereka tetap dapat dikalahkan Hadiwijaya dan dipulangkan secara hormat.Hadiwijaya ganti mendatangi Arya Penangsang untuk mengembalikan keris Kyai Setan Kober. Keduanya lalu terlibat pertengkaran dan didamaikan Sunan Kudus. Hadiwijaya kemudian pamit pulang, sedangkan Sunan Kudus menyuruh Penangsang berpuasa 40 hari untuk menghilangkan Tuah Rajah Kalacakra yang sebenarnya akan digunakan untuk menjebak Hadiwijaya tetapi malah mengenai Arya Penangsang sendiri pada waktu bertengkar dengan Hadiwijaya karena emosi Aryo Penangsang sendiri yang labil.

Dalam perjalanan pulang ke Pajang, rombongan Hadiwijaya singgah ke Gunung Danaraja tempat Ratu Kalinyamat bertapa. Ratu Kalinyamat mendesak Hadiwijaya agar segera menumpas Arya Penangsang. Ia,, yang mengaku sebagai pewaris takhta Sunan Prawoto, berjanji akan menyerahkan Demak dan Jepara jika Hadiwijaya menang.Hadiwijaya segan memerangi Penangsang secara langsung karena merasa sebagai sama-sama murid Sunan Kudus dan sesama anggota keluarga Demak. Maka diumumkanlah sayembara, barangsiapa dapat membunuh bupati Jipang tersebut, akan memperoleh hadiah berupa tanah Pati dan Mataram.Kedua kakak angkat Hadiwijaya, yaitu Ki Ageng Pemanahan dan Ki Panjawi mendaftar sayembara. Hadiwijaya memberikan pasukan Pajang dan memberikan Tombak Kyai Plered untuk membantu karena anak angkatnya, yaitu Sutawijaya (putra kandung Ki Ageng Pemanahan ikut serta.

Ketika pasukan Pajang datang menyerang Jipang, Arya Penangsang sedang akan berbuka setelah keberhasilannya berpuasa 40 hari. Surat tantangan atas nama Hadiwijaya membuatnya tidak mampu menahan emosi. Apalagi surat tantangan itu dibawa oleh pekatik-nya (pemelihara kuda) yang sebelumnya sudah dipotong telinganya oleh Pemanahan dan Penjawi. Meskipun sudah disabarkan Arya Mataram, Penangsang tetap berangkat ke medan perang menaiki kuda jantan yang bernama Gagak Rimang.

Kuda Gagak Rimang dengan penuh nafsu mengejar Sutawijaya yang mengendarai kuda betina, melompati bengawan. Perang antara pasukan Pajang dan Jipang terjadi di dekat Bengawan Sore. Akibatnya perut Arya Penangsang robek terkena tombak Kyai Plered milik Sutawijaya. Meskipun demikian Penangsang tetap bertahan. Ususnya yang terburai dililitkannya pada gagang keris yang terselip di pinggang.Penangsang berhasil meringkus Sutawijaya. Saat mencabut keris Setan Kober untuk membunuh Sutawijaya, usus Arya Penangsang terpotong sehingga menyebabkan kematiannya.Dalam pertempuran itu Ki Matahun, patih Jipang, tewas pula, sedangkan Arya Mataram meloloskan diri. Sejak awal, Arya Mataram memang tidak pernah sependapat dengan kakaknya yang mudah marah itu.

Begitulah penggalan cerita sang kontroversi Aria Penangsang, bagi sebagian orang beliau dianggap sebagai tokoh yang dikorbankan, tokoh yang dianggap antagonis cepat marah, ada juga yang beranggapan sebagai usaha supaya Jipang tidak berkuasa di Demak. Ada juga beranggapan bahwa Babad Tanah Jawi yang menceritakan Aria penangsang,  sengaja dibuat oleh yang berkuasa saat itu, keturunan Sutawijaya untuk memutar balikkan fakta yang sebenarnya. Bisa jadi, pameo bahwa sejarah dibuat oleh yang menang atau yang berkuasa itulah kenyataannya. Dalam sejarah yang memang begitu, lah .. yang paling saya ingat sejak dulu adalah bahwa tidak ada sejarah yang final (Sartono Kartodirdjo).

Wallahualam bi shawab.

Vredeburg, Benteng Perdamaian.

Benteng Vredeburg
Benteng Vredeburg, 31 Desember 2013

Yogyakarta, salah satu kota yang menjadi saksi hebatnya perjuangan bangsa ini melawan tirani bangsa asing. Bangunan-bangunan nan eksotik menjadi saksi, sumber sejarah, serta inspirasi tentang perasaan kebangsaan. Salah satu bangunan sejarah dan sekaligus jadi wisata menarik di Yogyakarta adalah Benteng Vredeburg. Benteng ini berdiri terkait erat dengan munculnya Kesultanan Yogyakarta, berdasarkan Perjanjian Giyanti, tanggal 13 Februari 1755 yang berhasil menyelesaikan perseteruan antara Susuhunan Pakubuwono III dengan Pangeran Mangkubumi (Sultan Hamengku Buwono I kelak) adalah merupakan hasil politik Belanda yang selalu ingin ikut campur urusan dalam negeri raja-raja Jawa waktu itu. Berdasarkan perjanjian ini, wilayah Mataram dibagi dua:  Sunan Pakubuwana III berkedudukan di Surakarta, sementara  Pangeran Mangkubumi  menjadi Sultan Hamengkubuwana I yang berkedudukan di Yogyakarta.

Benteng ini mulai dibangun tahun 1760 oleh Sultan Hamengkubowono I atas permintaan Belanda, dengan sangat sederhana berbentuk bujur sangkar. Di keempat sudutnya dibuat tempat penjagaan yang disebut seleka atau bastion. Pada tahun 1765 diusulkan kepada sultan agar benteng diperkuat menjadi bangunan yang lebih permanen agar lebih menjamin kemanan. Usul tersebut dikabulkan, selanjutnya pembangunan benteng dikerjakan di bawah pengawasan seorang Belanda ahli ilmu bangunan yang bernama Ir. Frans Haak.

Usul Gubernur W.H. Van Ossenberg agar bangunan benteng lebih disempurnakan, dilaksanakan tahun 1767. Periode ini merupakan periode penyempurnaan Benteng yang lebih terarah pada satu bentuk benteng pertahanan.Menurut rencana pembangunan tersebut akan diselesaikan tahun itu juga. Akan tetapi dalam kenyataannya proses pembangunan tersebut berjalan sangat lambat dan baru selesai tahun 1787. Hal ini terjadi karena pada masa tersebut Sultan yang bersedia mengadakan bahan dan tenaga dalam pembangunan benteng, sedang disibukkan dengan pembangunan Kraton Yogyakarta. Setelah selesai bangunan benteng yang telah disempurnakan tersebut diberi nama Rustenburg yang berarti ‘Benteng Peristirahatan’.

Pada tahun 1867 di Yogyakarta terjadi gempa bumi yang dahsyat sehingga banyak merobohkan beberapa bangunan besar seperti Gedung Residen (yang dibangun tahun 1824), Tugu Pal Putih, dan Benteng Rustenburg serta bangunan-bangunan yang lain. Bangunan-bangunan tersebut segera dibangun kembali. Benteng Rustenburg segera diadakan pembenahan di beberapa bagian bangunan yang rusak. Setelah selesai bangunan benteng yang semula bernama Rustenburg diganti menjadi Vredeburg yang berarti ‘Benteng Perdamaian’. Nama ini diambil sebagai manifestasi hubungan antara Kasultanan Yogyakarta dengan pihak Belanda yang tidak saling menyerang waktu itu.

Bentuk benteng tetap seperti awal mula dibangun, yaitu bujur sangkar. Pada keempat sudutnya dibangun ruang penjagaan yang disebut seleka atau bastion. Pintu gerbang benteng menghadap ke barat dengan dikelilingi oleh parit. Di dalamnya terdapat bangunan-bangunan rumah perwira, asrama prajurit, gudang logistik, gudang mesiu, rumah sakit prajurit dan rumah residen. Di Benteng Vredeburg ditempati sekitar 500 orang prajurit, termasuk petugas medis dan paramedis. Disamping itu pada masa pemerintahan Hindia Belanda digunakan sebagai tempat perlindungan para residen yang sedang bertugas di Yogyakarta. Hal itu sangat dimungkinkan karena kantor residen yang berada berseberangan dengan letak Benteng Vredeburg. Sejalan dengan perkembangan politik yang berjadi di Indonesia dari waktu ke waktu, maka terjadi pula perubahan atas status kepemilikan dan fungsi bangunan Benteng Vredeburg.

Status tanah benteng tetap milik kasultanan, tetapi secara de facto dipegang oleh pemerintah Belanda. Karena kuatnya pengaruh Belanda maka pihak kasultanan tidak dapat berbuat banyak dalam mengatasi masalah penguasaan atas benteng. Sampai akhirnya benteng dikuasai bala Tentara Jepang tahun 1942 setelah Belanda menyerah kepada Jepang dengan ditandai dengan Perjanjian Kalijati bulan Maret 1942 di Jawa Barat.

Sumber Tulisan : http://id.wikipedia.org/wiki/Museum_Benteng_Vredeburg

Jalan-jalan ke Bali, Tari Barong (3)

Salah satu khasanah budaya Bali yang terkenal di manca negara adalah tarian. Unsur kebudayaan kesenian ini, memiliki beragam bentuk tarian dengan keunikan tersendiri dibanding dengan tarian-tarian lain di nusantara. Salah satu jenis tarian yang saya lihat dalam perjalanan kali ini adalah tari Barong dan Keris. Bertempat di Uma Dewi Barong dan Keris dance Jalan Waribang, Denpasar,  tarian Barong disuguhkan secara drama dengan tarian. Tari Barong sendiri merupakan salah satu karakter mitologi dalam budaya Bali, di pulau Jawa dikenal dengan istilah Barongan. Ia adalah raja dari roh-roh serta melambangkan kebaikan. Ia merupakan musuh Rangda dalam mitologi Bali. Banas Pati Rajah adalah roh yang mendampingi seorang anak dalam hidupnya. Banas Pati Rajah dipercayai sebagai roh yang menggerakkan Barong. Sebagai roh pelindung, Barong sering ditampilkan sebagai seekor singa. Sendratari tradisional di Bali yang menggambarkan pertempuran antara Barong dan Rangda sangatlah terkenal dan sering dipertunjukkan sebagai atraksi wisata.

Barong singa adalah salah satu dari lima bentuk Barong. Di pulau Bali setiap bagian pulau Bali mempunyai roh pelindung untuk tanah dan hutannya masing-masing. Setiap Barong dari yang mewakili daerah tertentu digambarkan sebagai hewan yang berbeda. Ada babi hutan, harimau, ular atau naga, dan singa. Bentuk Barong sebagai singa sangatlah populer dan berasal dari Gianyar. Di sini terletak Ubud, yang merupakan tempat pariwisata yang terkenal. Dalam Calonarong atau tari-tarian Bali, Barong menggunakan ilmu gaibnya untuk mengalahkan Rangda.

DSCF2738
Dengan Penari Bali, .. 🙂
DSCF2765
Dengan sang Barong, Siap kan tips nya ya 🙂
DSCF2735
Panggung Uma Dewi Barong & Keris Dance, Denpasar

Masyarakat Bali percaya bahwa mahluk-mahluk halus tersebut adalah kaki tangan Ratu Gede Mecaling, penguasa alam gaib di Lautan Selatan Bali yang beristana di Pura Dalem Ped, Nusa Penida. Saat itu, seorang pendeta sakti menyarankan masyarakat untuk membuat patung yang mirip Ratu Gede Mecaling, yang sosoknya tinggi besar, hitam dan bertaring, lalu mengaraknya keliling desa. Rupanya, tipuan ini manjur. Para mahluk halus ketakutan melihat bentuk tiruan bos mereka, lalu menyingkir. Hingga kini, di banyak desa, secara berkala masyarakat mengarak Barong Landung untuk menangkal bencana.

Sebelum dimulai para penonton medapat sinopsis cerita yang dicetak dalam beberbagai bahasa, mulai bahasa Inggris hingga bahasa Rusia. Lakon atau cerita dalam tarian barong, dimulai dengan tarian yang dibawakan oleh penari wanita diringi dengan suara musik gemelan khas Bali. Gamelan adalah ensembel musik yang biasanya menonjolkan metalofon, gambang, gendang, dan gong. Istilah gamelan merujuk pada instrumennya / alatnya, yang mana merupakan satu kesatuan utuh yang diwujudkan dan dibunyikan bersama. Kata Gamelan sendiri berasal dari bahasa Jawa gamel yang berarti memukul / menabuh, diikuti akhiran an yang menjadikannya kata benda.

Setelah tarian lalu dilanjutkan dengan kemunculan Barong, drama disuguhkan cerita jenaka. Dengan bahasa campuran bahasa Bali dan Indonesia. Suara pelakon drama dan musim gamelan beradu nyaring, sering tidak terdengar secara jelas. Ceirta tari Barong sepertinya juga mengadopsi cerita epos Hindu yang sangat terkenal Ramayana. Berasal dari kata Rama dan Ayaṇa yang berarti “Perjalanan Rama” adalah sebuah cerita epos dari India yang digubah oleh Walmiki (Valmiki) atau Balmiki.

Diakhir tarian akan ada ‘atraksi’ tarian keris, dimana para penari laki-laki menusukan keris ke tubuh mereka, namun jangan khawatir, mereka tidak akan luka sedikitpun. Menurut guide tour kami, ada teknik tersendiri supaya keris itu tidak melukai mereka. Tapi jangan coba-coba sendiri di rumah atau don’t try this at home. Hehehe

Ada tips untuk melihat suguhan tarian Barong, jika menggunakan guide tour dan dalam kelompok besar, maka tiket masuk untuk melihat tari Barong hanya sebesar Rp. 20.000,- saja, sedang jika datang sendiri dan turis manca negara akan dikenai biaya masuk sebesar Rp. 100.000,-. Waktu pertunjukan dimulai sekitar jam 10.00 waktu setempat. Selain itu kita juga diberi kesempatan untuk foto bareng dengan sang penari, namun jangan lupa ya .. untuk memberi tips kepada mereka. Kalo tidak mereka yang akan minta tips.. hehehe.

Dari beberapa sumber, : http://wikipedia.org.id

(Bersambung)

Jalan-Jalan ke Bali, Kaldera Danau Bratan (2)

Jika Bali identik dengan berpanas-panas di pantai nan elok, ada juga wisata Bali yang menyediakan suguhan alam sejuk ala daerah dataran tinggi. Adalah Danau Bratan yang terletak di Bedugul, Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan. Sekitar 18 kilometer sebelah utara Denpasar, dan merupakan dataran tinggi sekitar 850 meter dari permukaan laut. Danau ini merupakan satu dari tiga danau kembar yang terbentuk di dalam sebuah kaldera besar. Di sebelah utara berturut-turut terdapat Danau Tamblingan dan Danau Buyan. Diapit oleh hutan disekelilingnya serta dikarenakan letaknya di dataran tinggi membuat lingkungan danau ini berhawa sejuk.

Sebagai salah satu objek wisata alam,Danau Bratan tidak dikembangkan ke arah pariwisata modern demi menjaga kelestarian alam dan lingkungannya. Yang menjadi daya tarik utama tempat ini bukan hanya pesona alamnya, namun juga karena banyaknya pura yang menyimpan sejarah dan perkembangan peradaban dan kebudayaan Bali. Salah satu pura yang terkenal adalah Pura Ulun Danu, tempat pemujaan kepada Sang Hyang Dewi Danu sebagai pemberi kesuburan. Pura ini dijadikan gambar dalam uang resmi Republik Indonesia pecahan Rp. 50.000,-.

Sayangnya, saya nggak berani mengarungi Danau Bratan dengan menggunakan perahu motor, sehingga tak bisa mendekat ke pura Ulun Danu yang terkenal itu. Hawa sejuk menyergap tubuh hingga menusuk ke tulang begitu menginjak di bibir danau kaldera terbesar setelah danau Toba ini. Daerah dataran tinggi ini termasuk daerah subur, menurut bli I Wayan Pasek, –guide tour kami– daerah ini merupakan penghasil sayur-sayuran dan buah-buahan. Terutama jenis tumbuhan yang hanya bisa tumbuh di daerah tinggi.

DSCF2727
Danau Bratan Nan Elok
DSCF2730
Danau Bratan, Sejuk
DSCF2729
Pura Ulun Danu, Dari Kejauhan .. Asal Ada Aja,. 🙂

Jenis danau kaldera merupakan jenis danau hasil olah vulkanik gunung berapi. Terbentuk dari jatuhnya tanah setelah letusan vulkanik. Kata “kaldera” berasal dari bahasa Spanyol, yang artinya wajan. Sama dengan danau Toba, kaldera danau bratan terjadi pada masa letusan gunung purba. Keruntuhan permukaan terjadi karena kosongnya kantung magma di bawah gunung berapi, biasanya terjadi karena gunung meletus. Jika cukup banyak magma dikeluarkan, kantung magma yang kosong tidak bisa mendukung berat struktur gunung berapi di atasnya. Patahan melingkar berbentuk cincin terbentuk di sekililing kantung magma. Patahan cincin juga menjadi pemicu keluarnya isi magma lain melalui jalan keluar sekeliling puncak gunung berapi. Dengan kosongnya kantung magma, bagian tengah gunung api mulai runtuh. Runtuhnya gunung bisa berupa satu letusan dahsyat atau sebuah seri letusan. Luas bagian yang runtuh bisa ratusan atau ribuan kilometer besarnya.

(Bersambung)

Jalan-Jalan Bali, Menulusuri Tapak Jalan Daendels (1)

Ini adalah perjalanan kedua kali saya ke pulau dewata Bali. Pulau yang merupakan gugusan kepulauan Sunda Kecil. Konon kabarnya, salah satu pulau eksotik di dunia, dengan keindahan alamnya dan keragaman budaya khas yang dimilikinya. Bali terkenal di manca negara sejak tahun 1930-an ketika pelukis Jerman Walter Spies dan pelukis Belanda Rudolf Bonnet menetap di sana. Peluang pariwisata benar-benar dikembangkan oleh pemerintah pusat dan daerah, sehingga pariwisata jadi primadona utama propinsi yang mayoritas penduduknya beragama Hindu ini.

Perjalanan kali ini sama dengan perjalanan saya yang terdahulu, yaitu dengan jalan darat melalui Surabaya, Jawa Timur. Cukup melelahkan memang, dengan perjalanan selama 12 jam hingga sebisannya harus tidur dalam bus, sambil menyiapkan tenaga untuk jalan-jalan di Bali.  yang tidak bisa tidur selama diperjalanan, dampaknya ketika sampai di Bali akan loyo kecapean. Boro-boro mau menikmati Bali, eh .. malah ketiduran.

Menulusuri perjalanan darat, antara Surabaya hingga ke Banyuwangi sesungguhnya menikmati jalan yang dibuat oleh masyarakat tempo doeloe penuh dengan cerita kesengsaraan. Karena termasuk jalan yang di bangun pada masa pemerintahan Gubernur-Jenderal Herman Willem Daendels. Dikenal dengan jalan pos, jalan yang panjangnya kurang lebih 1000 km yang terbentang sepanjang utara Pulau Jawa, dari Anyer sampai Panarukan. Tujuan pembangunan Jalan Raya Pos adalah memperlancar komunikasi antar daerah yang dikuasai Daendels di sepanjang Pulau Jawa dan sebagai benteng pertahanan di Pantai Utara Pulau Jawa.

Ketika baru saja menginjakkan kakinya di Pulau Jawa, Daendels berangan untuk membangun jalur transportasi sepanjang pulau Jawa guna mempertahankan Jawa dari serangan Inggris. Angan-angan Daendels untuk membangun jalan yang membentang antara Pantai Anyer hingga Panarukan, direalisasikannya dengan mewajibkan setiap penguasa pribumi lokal untuk memobilisasi rakyat, dengan target pembuatan jalan sekian kilometer. Yang gagal, termasuk para pekerjanya, dibunuh. Kepala mereka digantung di pucuk-pucuk pepohonan di kiri-kanan ruas jalan. Gubernur Jenderal Daendels memang menakutkan. Ia kejam, tak kenal ampun. Dengan tangan besinya jalan itu diselesaikan hanya dalam waktu setahun saja (1808). Suatu prestasi yang luar biasa pada zamannya. Karena itulah nama Daendels dan Jalan Raya Pos dikenal dan mendunia hingga kini.

Siapa Daendels ? seorang politikus Belanda yang merupakan Gubernur-Jenderal Hindia-Belanda yang ke-36. Ia memerintah antara tahun 1808 – 1811. Masa itu Belanda sedang dikuasai oleh Perancis. Sejatinya ia adalah seorang kelahiran Belanda, namun Pada tahun 1780 dan 1787 ia ikut para kumpulan pemberontak di Belanda dan kemudian melarikan diri ke Perancis. Di sana ia menyaksikan dari dekat Revolusi Perancis dan lalu menggabungkan diri dengan pasukan Batavia yang republikan. Akhirnya ia mencapai pangkat Jenderal dan pada tahun 1795 ia masuk Belanda dan masuk tentara Republik Batavia dengan pangkat Letnan-Jenderal. Pada tahun 1806 ia dipanggil oleh Raja Belanda, Raja Louis  untuk berbakti kembali di tentara Belanda. Ia ditugasi untuk mempertahankan provinsi Friesland dan Groningen dari serangan Prusia. Lalu setelah sukses, pada tanggal 28 Januari 1807 atas saran Kaisar Napoleon Bonaparte, ia dikirim ke Hindia-Belanda sebagai Gubernur-Jenderal.Daendels tiba di Batavia pada tanggal 5 Januari 1808 dan menggantikan Gubernur-Jenderal Albertus Wiese. Daendels diserahi tugas terutama untuk melindungi pulau Jawa dari serangan tentara Inggris. Jawa adalah satu-satunya daerah koloni Belanda-Perancis yang belum jatuh ke tangan Inggris.

Makan Malam di Probolinggo
Makan Malam di Probolinggo
DSCF2682
Di Selat Bali Jam 12 Malam
DSCF2696
Pagi Hari di Rumah Makan Sekitar Jembrana
DSCF2703
Pantai di sekitar Jembrana

Perjalanan darat ini akhirnya sampai ke Banyuwangi, tepatnya di pelabuhan Ketapang. Selanjutnya mengarungi Selat Bali yang memisahkan antara pulau Jawa (disebelah barat) dan Bali (disebelah timur).  Sebuah selat yang mempertemukan Samudera Hindia dan Laut Jawa. Sampai sekarang, ditunggu beritanya rencana pembuatan jembatan antara kedua pulau ini. Perjalanan di tempuh kurang lebih 1 jam untuk sampai ke pelabuhan Gilimanuk (Bali).

Ada Tips untuk yang melakukan perjalan darat dari Surabaya ke Bali, jika memadai bisa melakukan perjalana mulai jam 6 sore waktu Surabaya, hingga ketika masuk ke Bali sudah pagi hari. Ketika menuju Denpasar, disekitar kabupaten Jembrana kita sudah bisa menikmati indahnya pantai Samudera Hindia dengan ombaknya yang besar. Dengan pantai ‘berpasir’, pantai yang paling umum dijumpai dengan penampakan yang khas dengan kemiringan pantai yang landai dan tersusun dari material lepas seperti pasir, kerikil (gravel), batu gaplok (cobblestones) dan sejenisnya. Gelombang dan arus di pantai adalah penggerak utama terbentuknya pantai jenis ini dengan secara terus-menerus menempatkan pasir (atau material lepas lainnya) ke pantai. Beristirahat di salah salah satu rumah makan di tepi pantai sekitar Jembrana, sesuatu yang yang mengasyikansambil sarapan, mandi pagi dan pemandangan eksotik.

— Bersambung —

Mobile Blogger

Walau intensitas menulis saya menurun drastis sejak akhir tahun 2012, namun ada angin segar baru menggugah saya untuk kembali sekedar menulis corat-coret di blog ini. Kesibukan mengajar dengan pekerjaan sampingan mengelola pelaporan keuangan madrasah sebenarnya bukan jadi alasan utama, namun kena penyakit ‘malas’ menuliskan untaian kata menjadi kalimat menjadi sebab utama. Ide-ide kadang muncul namun terabaikan begitu saja. Angin segar baru yang saya maksud adalah gadget baru yang saya baru miliki (alhamdulillah, jadi whislist saya sejak lama akhirnya terkabul) sangat mendukung untuk membuat postingan tulisan dimana dan kapan saja.

DSCF2115Adalah Samsung Galaxy Tablet 2 7.0, menggugah harapan untuk kembali sekedar menulis berbagi pendapat, pengalaman dan sekedar pengetahuan dengan harapan berguna untuk siapa saja. Kecanggihan teknologi membuat semua nya sangat ‘mobile’. Maksudnya, bisa digunakan dimana dan kapan saja. Dengan bantuan sebuah konventer Galaxy Tab OTG Connection, ini gadget bisa terhubung dengan mouse dan keyboard USB, untuk mempermudah pengetikan. Tablet dengan ukuran 7 inchi memang agak sedikit ribet dalam hal pengetikan layar sentuh. Hebatnya lagi, dengan bantuan konektor USB to USB, semua hardware eksternal bisa konek secara bersamaan. Anda bisa menambahkan FlashDisk, Card Reader, bahkan USB konektor kamera digital.

Walau saya bukan mobile blogger, paling tidak memudahkan saya jika suatu saat ingin membuat sekedar tulisan di saat traveling. Ada keasyikan tersendiri memang membuat postingan real time disuatu tempat, seperti postingan sebelumnya saat saya berkunjung ke Jawa Timur.

Semoga bermanfaat …

Siti Fatimah binti Maimun, … (Kisah Perjalanan)

image

Alhamdulilah, musim liburan kali ini, saya berkesempatan berkunjung lagi ke tempat-tempat yang sekiranya memberi pengalaman dan pengetahuan, syukur-syukur bisa jadi oleh-oleh di dalam kelas. Bersama keluarga, saya berkunjung ke makam seorang perempuan, yang dibatu nisannya tertulis nama Fatimah binti Maimun, dengan kaligrafi Arab bergaya Kufi. Selain memuat nama sang putri, juga memuat tanggal wafatnya almarhumah, tgl  7 Rajab 475 Hijriah atau  2 Desember 1082 Masehi.  Makam berbentuk kubus dengan bentuk menyerupai rupa bentuk candi-candi yang tersebar di pulau Jawa. Terletak di desa Leran, Kecamatan Manyar, kota Gresik.
Berdasarkan, angka tahun yang tertulis pada batu nisan, maka ini merupakan salah satu sumber sejarah Islam tertua di nusantara. Berdasarkan sumber tertulis tertua yang menjadi bandingan, terdapat dalam sejarah Banten yang ditulis tahun 1662, disebutkan bawa seorang putri bernawa Putri Suwari yang di tunangkan dengan raja terakhir Majapahit. Jika benar adanya, maka putri Suwari memiliki peranan penting dalam perkembangan ajaran agama Islam. Paling tidak, abad ke 11 di pulau Jawa, khususnya Jawa Timur berkembang komunitas muslim. Berbagai macam legenda (folklore) berkembang tentang Fatimah, ada yang menyebut dari Kamboja (Champa), hal ini bisa jadi. Karena kaligrafi tulisan batu nisan dengan gaya kufi ditemukan juga di daerah Phanrang, Champa selatan. Ada juga yang menyebut dari Kedah, Malaysia dan masih merupakan dari keponakan Maulana Malik Ibrahim.
Nama putri Suwari juga disebut-sebut dalam jurnal perjalanan Moquete, yang pernah berkunjung ke Leran. Moquette menyebut bahwa putri Suwari punya hubungan dengan Maulana Malik Ibrahim (salah satu wali Songo), namun agak susah diterima kedua tokoh ini hidup sejaman, karena perbedaan penanggalan wafat keduanya berbeda 400 tahun.
Di dalam cungkup makam, makam Siti Fatimah binti Maimun berjejer dengan para putri lain yang diyakini sebagai dayang-dayang sang putri. Terdiri dari putri Keling, putri Kamboja dan putri Kucing.

image

image

Siapapun sang putri, merupakan bukti panjangnya proses penyebaran dan pengembangan ajaran agama Islam. Bermula dengan sistem pelayaran perdagangan hingga melalui perkawinan, jadi saluran proses Islamisasi. Hingga menjadi acuan akidah dan akhlak 90% persen lebih pendudukn Indonesia. Terlepas dari apapun setiap berkunjung ke makam siapapun, yang penting kita selalu ingat akan mati, sehingga kita akan meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita disertai do’a dan ucapan terima kasih kepada mereka yang telah memperjuangkan Islam, yang menjadi pegangan kita hingga hari akhir.
Surabaya, 2 Januari 2012