Smart Parenting, Menyediakan Waktu Buat Anak Setidaknya 30 menit sehari.

Berikut hasil catatan ketika saya mengikuti program Pelatihan Orang Tua Shaleh bersama Abah Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari. Orang tua harus menyediakan waktu bersama anaknya minimal 30 menit dalam sehari. Ini peringatan buat orang tua yang terlalu sibuk dengan kegiatan di luar rumah. Anak jarang diajak ngobrol terutama oleh sang Ayah, termasuk saya nih .. hehehe. Kesempatan terbaik saya dekat dengan anak biasanya saat waktu antara habis Magrib dan Isya. Itulah moment terbaik nya, ketika sampai di rumah pulang kerja sekitar jam 15.00, anak saya sudah harus pergi belajar mengaji di TK Alqur’an. Ketika sore harinya saya malah sering ketiduran dan anak saya meneruskan bermain dengan teman-temannya.

Waktu saat liburan menjadi waktu terbaik untuk bersama keluarga. Tapi Abah Ihsan menyatakan bahwa kita bukan dekat dengan anak tapi harus bersama anak, bukan bersama dengan yang lain. Misalnya bukan bersama televisi, bukan bersama koran atau bukan bersama laptop, yang ada harusnya benar-benar hanya bersama anak. Anak saya yang pertama masih berumur 6 tahun, belum banyak bisa diajak diskusi tentang hal-hal yang agak kritis. Biasanya paling saya mengajak berbicara tentang sekitar sekolah TK nya saja.

Ketidakdekatan anak dengan orang tua terutama ayah, disebut Abah Ihsan seperti anak yatim tapi ayahnya hidup. Ada benarnya juga, seolah ayah tidak ada sama sekali kareka sesuatu yang banyak menjadi alasan sepanjang masa yaitu kesibukan kerja. Pertanyaan sederhananya, seberapa sering orang tua ngobrol dan bersama anak ? Materi ngobrol pun seharusnya hanya ngobrol biasa, jangan justru di ceramahi atau dinasehati.

Sepertinya, kedekatan dengan anak juga harus memperhatikan secara kuantitas dan juga kualitasnya. Lalu Dampak negatif jika orangtua tidak dekat dengan anaknya ? jika kepedulian ayah rendah sejak kehamilan menurut Abah ihsan, adalah banyak bayi yang meninggal dalam usia dibawah satu tahun. Selanjutnya anak tidak punya figur yang bisa jadi panutan dan anak tidak bisa hidup mandiri. Dampak yang paling sesat, jika anak kelak berkawan dengan hal-hal negatif seperti narkoba. Naudzubillah Mindzalik.

Pelatihan Orang Tua Shaleh

Sebenarnya saya tak terlalu suka dengan acara mendengarkan para motivator yang biasanya ada di televisi nasional. Saya sering meledek mereka dengan orang ‘jualan logika’. Apalagi penyajiannya membosankan dan bikin ngantuk, untung kalo mengerti. Kalau tidak rugi waktu dan biaya saja yang di dapat. Dalam pengertian saya, mereka menjual sesuatu hasil pemikiran mereka, sesuatu yang baik dan menurut mereka berhasil, yang belum tentu menurut kita sesuatu yang baik dan berhasil kalau kita yang melaksanakan. Atau karena kita belum sampai saja berpikir tentang hal yang sudah mereka anggap baik dan berhasil tersebut.

Namun ternyata pemikiran saya, salah. Asal muasalnya berasal dari rencana masuknya anak perempuan saya yang pertama pada sebuah madrasah swasta di Banjarmasin. Setelah dinyatakan lulus tes, ada undangan untuk orang tua/wali untuk menghadiri Pelatihan Orang Tua Shaleh yang dilaksanakan hasil kerja sama antara sekolah dengan Auladi Parenting School Bandung. Waktu pelaksanaannya pun agak memberatkan saya, karena saya harus meninggalkan anak didik saya di sekolah. Sementara istri saya juga harus menjaga si kecil Abizar.

Dan ikut lah saya pada acara tersebut, ternyata acaranya tidak membosankan. Yang memberi materi adalah Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari, ternyata sudah keliling Indonesia bahkan manca negara melatih para oran tua menjadi orang tua yang smart atau pintar dan shaleh. Penyampaian materi juga bagus, dan menurut saya Abah Ihsan (begitu beliau sering dan ingin disebut) total dalam membagi ilmunya. Bahkan Abah Ihsan harus berguling-guling untuk mencontohkan kelakuan anak-anak, sehingga suasana benar-benar segar ditambah diselingi humor-humor yang tidak bikin ngantuk sama sekali.

Banyak hal yang didapat dari acara tersebut, sebagian jadi refleksi sebagian lagi jadi hal yang baru, yang bisa diterapkan dalam keluarga. Menjadi sebuah refleksi, jika kita sudah melakukan sesuatu yang baik/positif bahkan yang tidak baik/negatif. Artinya jika itu jadi sesuatu yang positif maka harus diteruskan, sedang yang negatif jangan lagi diteruskan. Misalnya, perlunya kita menjaga kedekatan dengan anak, jangan sampai ia lebih dekat dengan temannya atau malah dengan tetangga. Bahkan jangan sampai anak kita seperti anak yatim sedang orang tua nya masih hidup, karena kita tidak dekat dengan anak-anak kita.

Demikian juga dengan ketegasan, ketegasan itu dibangun bukan dengan pemaksaan dengan teriakan bahkan dengan pukulan. Sesuatu yang paling saya sesali selama mendidik anak di rumah, bahwa saya pernah memukul mereka. Dalam perenungan saya, saya sungguh menyesal dan berencana tidak akan pernah melakukannya lagi. Abah Ihsan sambil berteriak, bapak-ibu tahu apa jadinya anak kita kalo besar kalau didik dengan kekerasan, ya seabrek yang tidak baik dalam hidup ini. Naudzubillahi mindzalik.

Hal lain yang sering terjadi adalah seringnya kita membunuh kreatifitas anak kita. Misalnya dengan larangan-larangan bersosialisasi dengan lingkungan, atau mematikan fungsi psikomotornya. Menurut Abah Ihsan, anak mencoret-coret dinding rumah sesungguhnya menimbulnya kreatifitas sendiri bagi anak. Kebetulan salah satu dinding rumah saya penuh dengan coretan anak saya pertama Najwa, pada awalnya saya sempat marah, seterusnya yah saya biarin .. bahkan si kecil ikut-ikutan coret-coret juga. Biasanya ketika libur panjang dinding saya cat ulang.

Banyak hal lain dari acara smart parenting, untuk lebih jelasnya bisa di search melalui website www.auladi.net

Smart Parenting
Smart Parenting