Kisah Perjalanan, Makam Raden Ayu Pemecutan

Makam Raden Ayu Pemecutan
Makam Raden Ayu Pemecutan

Alhamdulillah, akhir tahun 2014 lagi-lagi saya berkesempatan berliburan ke pulau Dewata, Bali. Ada hal yang baru ketika berkunjung ke pulau nan eksotik, terkenal dimanca negara dan kaya dengan ragam budaya ini, bahwa di tengah kota Denpasar terdapat sebuah makam seorang puteri muslim yang bernama Raden Ayu Siti Khotijah. Namanya dikalangan muslim tentu sangat familiar, walau berbeda penulisan dan pengucapannya, bahwa nama tersebut sama dengan nama istri junjungan kita Nabi Muhammad SAW, Siti Khadijah. Siapa Raden Ayu Siti Khotijah, yang punya nama asli Gusti Ayu Made Rai atau disebut juga dengan Raden Ayu Pemecutan ini ?

Dari buku yang dijual di sekitar makam beliau, disebutkan beliau adalah seorang putri dari Raja Pemecutan. Tidak jelas dari Raja Pemecutan yang mana. Menurut id.wikipedia.org, dari nama-nama raja Bali Pemecutan di Badung ada sekitar 16 nama raja Pemecutan yang berkuasa di Badung.

Cerita awal sang Raden Ayu Pemecutan, seperti cerita legenda putri-putri keraton di seluruh nusantara. Sang putri terkenal cantik dan disayang hingga menjadi kembang kerajaan. Tak sedikit para pembesar kerajaan di Bali yang ingin meminang sang putri. Namun musibah datang, sang putri mengidap penyakit kuning. Raja Pemecutan berusaha untuk menyembuhkan sang anak kesayangan, namun tak berhasil menyembuhkan sang putri. Hingga Raja Pemecutan membuat sebuah sayembara yang bisa menyembuhkan penyakit sang putri, jika perempuan akan diangkat jadi anak raja dan jika laki-laki akan di kawinkan dengan Raden Ayu Pemecutan.

Kabar tentang sayembara ini terdengar oleh seorang ulama di Yogyakarta dan mempunyai seorang anak didik yang jadi raja di Madura yaitu Cakraningrat IV. Ulama yang dalam buku Sejarah keramat Raden Ayu Pemecutan disebut Syech ini memanggil Cakraningrat IV ke Yogyakarta untuk mengikuti sayembara tersebut. Raja Madura ini berangkat ke Bali, hasilnya dapat ditebak Raden Ayu Pemecutan dapat disembuhkan oleh Cakraningrat IV. Siapa sih sebenarnya Cakraningrat IV ? Pangeran dari Madura ini bernama asli Susroadiningrat, dia mendapatkan tahta kerajaan dari kakaknya Cakraningrat III. Cakraningrat IV adalah seorang pemimpin Madura Barat (bertahta 1718-1746). Seperti pendahulunya, dia menolak kekuasaan raja Mataram. Dia lebih ingin berada di bawah pelindungan VOC, sesuatu yang ditolak VOC. Di samping itu, Cakraningrat secara pribadi membenci Amangkurat IV, raja Mataram (bertahta 1719-1726), dan menolak untuk sowan ke kraton Kartasura. Dia juga takut akan diracuni bila ke kraton.  Tahun 1726 Amangkurat meninggal, digantikan puteranya yang mengambil gelar Pakubuwana II, yang berumur 16 tahun (bertahta 1726-1749). Hubungan antara Mataram dan Cakraningrat membaik, dan Cakraningrat menikahi salah satu adik Pakubuwana. Hubungan antara Cakraningrat dan ibu mertuanya, Ratu Amangkurat, menjadi akrab.Di akhir tahun 1730-an, kekuasaan Cakraningrat di Jawa Timur meningkat dan mengancam kedudukan orang Bali di daerah Blambangan.

Jika benar berita sayembara itu didapat dari Yogyakarta, maka peristiwa sayembara terjadi setelah Amangkurat meninggal (1726), karena sebelum tahun itu Cakraningrat IV tidak pernah datang ke Yogyakarta. Setelah sang putri sembuh, lalu Raden Ayu Pemecutan dan Cakraningrat IV dikawinkan. Tentunya dalam perkawinan muslim, keuanya harus beragama Islam, Raden Ayu Pemecutan pun jadi mualaf dan bergelar Raden Ayu Siti Khotijah. Sang putri lalu di boyong ke Madura oleh Cakraningrat IV.

Suatu ketika Raden Ayu  pulang ke Bali beserta 40 orang pegiring dan pengawal. Cakraningrat IV memberikan bekal berupa guci, keris dan sebuah pusaka berbentuk tusuk konde yang diselipkan di rambut sang putri. Sesampainya di kerajaan Pamecutan, Siti Khotijah disambut dengan riang gembira. Namun, kala itu tidak ada yang mengetahui bahwa sang putri telah memeluk agama Islam. Suatu hari ketika ada suatu upacara Meligia atau Nyekah yaitu upacara Atma Wedana yang dilanjutkan dengan Ngelingihan (Menyetanakan) Betara Hyang di Pemerajan (tempat suci keluarga) Puri Pemecutan, Raden Ayu Pemecutan berkunjung ke Puri tempat kelahirannya. Pada suatu hari saat sandikala (menjelang petang) di Puri, Raden Ayu Pemecutan alias Raden Ayu Siti Kotijah menjalankan persembahyangan (ibadah sholat maghrib) di Merajan Puri dengan menggunakan Mukena (Krudung). Ketika itu salah seorang Patih di Puri melihat hal tersebut. Para patih dan pengawal kerajaan tidak menyadari bahwa Puri telah memeluk islam dan sedang melakukan ibadah sholat. Menurut kepercayaan di Bali, bila seseorang mengenakan pakaian atau jubah serba putih, itu adalah pertanda sedang melepas atau melakukan ritual ilmua hitam (Leak). Hal tersebut dianggap aneh dan dikatakan sebagai penganut aliran ilmu hitam.

Akibat ketidaktahuan pengawal istana, ‘keanehan’ yang disaksikan di halaman istana membuat pengawal dan patih kerajaan menjadi geram dan melaporakan hal tersebut kepada Raja. Mendengar laporan Ki Patih tersebut, Sang Raja menjadi murka. Ki Patih diperintahkan kemudian untuk membunuh Raden Ayu Siti Khotijah. Raden Ayu Siti Khotijah dibawa ke kuburan areal pemakaman yang luasnya 9 Ha. Sesampai di depan Pura Kepuh Kembar, Raden Ayu berkata kepada patih dan pengiringnya “aku sudah punya firasat sebelumnya mengenai hal ini. Karena ini adalah perintah raja, maka laksanakanlah. Dan perlu kau ketahui bahwa aku ketika itu sedang sholat atau sembahyang menurut kepercayaan Islam, tidak ada maksud jahat apalagi ngeleak.” Demikian kata Siti Khotijah.

Raden Ayu berpesan kepada Sang patih “jangan aku dibunuh dengan menggunakan senjata tajam, karena senjata tajam tak akan membunuhku. Bunuhlah aku dengan menggunakan tusuk konde yang diikat dengan daun sirih serta dililitkan dengan benang tiga warna, merah, putih dan hitam (Tri Datu), tusukkan ke dadaku. Apabila aku sudah mati, maka dari badanku akan keluar asap. Apabila asap tersebut berbau busuk, maka tanamlah aku. Tetapi apabila mengeluarkan bau yang harum, maka buatkanlah aku tempat suci yang disebut kramat”.

Setelah meninggalnya Raden Ayu, bahwa memang betul dari badanya keluar asap dan ternyata bau yang keluar sangatlah harum. Peristiwa itu sangat mengejutkan para patih dan pengawal. Perasaan dari para patih dan pengiringnya menjadi tak menentu, ada yang menangis. Sang raja menjadi sangat menyesal dengan keputusan belia . Jenasah Raden Ayu dimakamkan di tempat tersebut serta dibuatkan tempat suci yang disebut kramat, sesuai dengan permintaan beliau menjelang dibunuh. Untuk merawat makam kramat tersebut, ditunjuklah Gede Sedahan Gelogor yang saat itu menjadi kepala urusan istana di Puri Pemecutan.

Demikian kisah sang putri yang saya kutip dari beberapa sumber, ada beberapa simpulan dari cerita diatas: Bali, sangat mempertahankan agama, budaya dan tradisinya. Hingga Proses Islamisasi sepertinya tak pernah sampai kesana, kuat dugaan saya keikutan Cakraningrat IV dalam sayembara merupakan salah satu usaha Islamisasi. Sikap teguh untuk tidak akan meninggalkan Hindu ini juga terus dipegang raja-raja Bali sesudahnya termasuk ketika Bali pecah menjadi kerajaan-kerajaan kecil. Meski begitu, bukan berarti Bali tertutup dari pengaruh budaya luar. Bali sangat terbuka terhadap datangnya saudagar-saudagar muslim dan mereka disebut sebagai nyama selam (saudara dari umat Islam). Oleh raja-raja Bali pada sekitar abad ke-18-19, kelompok-kelompok muslim ini diberikan untuk menempati lahan-lahan kosong. Ini merupakan kompensasi dari bantuan yang diberikan kelompok-kelompok muslim itu dalam upaya mempertahankan kekuasaan para raja-raja itu. Karena itulah, banyak ditemukan perkampungan-perkampungan khusus muslim di Bali. Misalnya, perkampungan Islam di Desa Pegayaman, Buleleng, Kampung Bugis di Serangan, Kampung Gelgel di Klungkung, Kampung Kusamba di Klungkung dan masih banyak lagi yang lain. Jika ditelusuri, leluhur kampung-kampung muslim itu pasti memiliki hubungan mesra dengan raja-raja yang pernah mengayominya.

Dari Beberapa Sumber.

Jalan-jalan ke Bali, Tari Barong (3)

Salah satu khasanah budaya Bali yang terkenal di manca negara adalah tarian. Unsur kebudayaan kesenian ini, memiliki beragam bentuk tarian dengan keunikan tersendiri dibanding dengan tarian-tarian lain di nusantara. Salah satu jenis tarian yang saya lihat dalam perjalanan kali ini adalah tari Barong dan Keris. Bertempat di Uma Dewi Barong dan Keris dance Jalan Waribang, Denpasar,  tarian Barong disuguhkan secara drama dengan tarian. Tari Barong sendiri merupakan salah satu karakter mitologi dalam budaya Bali, di pulau Jawa dikenal dengan istilah Barongan. Ia adalah raja dari roh-roh serta melambangkan kebaikan. Ia merupakan musuh Rangda dalam mitologi Bali. Banas Pati Rajah adalah roh yang mendampingi seorang anak dalam hidupnya. Banas Pati Rajah dipercayai sebagai roh yang menggerakkan Barong. Sebagai roh pelindung, Barong sering ditampilkan sebagai seekor singa. Sendratari tradisional di Bali yang menggambarkan pertempuran antara Barong dan Rangda sangatlah terkenal dan sering dipertunjukkan sebagai atraksi wisata.

Barong singa adalah salah satu dari lima bentuk Barong. Di pulau Bali setiap bagian pulau Bali mempunyai roh pelindung untuk tanah dan hutannya masing-masing. Setiap Barong dari yang mewakili daerah tertentu digambarkan sebagai hewan yang berbeda. Ada babi hutan, harimau, ular atau naga, dan singa. Bentuk Barong sebagai singa sangatlah populer dan berasal dari Gianyar. Di sini terletak Ubud, yang merupakan tempat pariwisata yang terkenal. Dalam Calonarong atau tari-tarian Bali, Barong menggunakan ilmu gaibnya untuk mengalahkan Rangda.

DSCF2738
Dengan Penari Bali, .. 🙂
DSCF2765
Dengan sang Barong, Siap kan tips nya ya 🙂
DSCF2735
Panggung Uma Dewi Barong & Keris Dance, Denpasar

Masyarakat Bali percaya bahwa mahluk-mahluk halus tersebut adalah kaki tangan Ratu Gede Mecaling, penguasa alam gaib di Lautan Selatan Bali yang beristana di Pura Dalem Ped, Nusa Penida. Saat itu, seorang pendeta sakti menyarankan masyarakat untuk membuat patung yang mirip Ratu Gede Mecaling, yang sosoknya tinggi besar, hitam dan bertaring, lalu mengaraknya keliling desa. Rupanya, tipuan ini manjur. Para mahluk halus ketakutan melihat bentuk tiruan bos mereka, lalu menyingkir. Hingga kini, di banyak desa, secara berkala masyarakat mengarak Barong Landung untuk menangkal bencana.

Sebelum dimulai para penonton medapat sinopsis cerita yang dicetak dalam beberbagai bahasa, mulai bahasa Inggris hingga bahasa Rusia. Lakon atau cerita dalam tarian barong, dimulai dengan tarian yang dibawakan oleh penari wanita diringi dengan suara musik gemelan khas Bali. Gamelan adalah ensembel musik yang biasanya menonjolkan metalofon, gambang, gendang, dan gong. Istilah gamelan merujuk pada instrumennya / alatnya, yang mana merupakan satu kesatuan utuh yang diwujudkan dan dibunyikan bersama. Kata Gamelan sendiri berasal dari bahasa Jawa gamel yang berarti memukul / menabuh, diikuti akhiran an yang menjadikannya kata benda.

Setelah tarian lalu dilanjutkan dengan kemunculan Barong, drama disuguhkan cerita jenaka. Dengan bahasa campuran bahasa Bali dan Indonesia. Suara pelakon drama dan musim gamelan beradu nyaring, sering tidak terdengar secara jelas. Ceirta tari Barong sepertinya juga mengadopsi cerita epos Hindu yang sangat terkenal Ramayana. Berasal dari kata Rama dan Ayaṇa yang berarti “Perjalanan Rama” adalah sebuah cerita epos dari India yang digubah oleh Walmiki (Valmiki) atau Balmiki.

Diakhir tarian akan ada ‘atraksi’ tarian keris, dimana para penari laki-laki menusukan keris ke tubuh mereka, namun jangan khawatir, mereka tidak akan luka sedikitpun. Menurut guide tour kami, ada teknik tersendiri supaya keris itu tidak melukai mereka. Tapi jangan coba-coba sendiri di rumah atau don’t try this at home. Hehehe

Ada tips untuk melihat suguhan tarian Barong, jika menggunakan guide tour dan dalam kelompok besar, maka tiket masuk untuk melihat tari Barong hanya sebesar Rp. 20.000,- saja, sedang jika datang sendiri dan turis manca negara akan dikenai biaya masuk sebesar Rp. 100.000,-. Waktu pertunjukan dimulai sekitar jam 10.00 waktu setempat. Selain itu kita juga diberi kesempatan untuk foto bareng dengan sang penari, namun jangan lupa ya .. untuk memberi tips kepada mereka. Kalo tidak mereka yang akan minta tips.. hehehe.

Dari beberapa sumber, : http://wikipedia.org.id

(Bersambung)

Jalan-Jalan ke Bali, Kaldera Danau Bratan (2)

Jika Bali identik dengan berpanas-panas di pantai nan elok, ada juga wisata Bali yang menyediakan suguhan alam sejuk ala daerah dataran tinggi. Adalah Danau Bratan yang terletak di Bedugul, Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan. Sekitar 18 kilometer sebelah utara Denpasar, dan merupakan dataran tinggi sekitar 850 meter dari permukaan laut. Danau ini merupakan satu dari tiga danau kembar yang terbentuk di dalam sebuah kaldera besar. Di sebelah utara berturut-turut terdapat Danau Tamblingan dan Danau Buyan. Diapit oleh hutan disekelilingnya serta dikarenakan letaknya di dataran tinggi membuat lingkungan danau ini berhawa sejuk.

Sebagai salah satu objek wisata alam,Danau Bratan tidak dikembangkan ke arah pariwisata modern demi menjaga kelestarian alam dan lingkungannya. Yang menjadi daya tarik utama tempat ini bukan hanya pesona alamnya, namun juga karena banyaknya pura yang menyimpan sejarah dan perkembangan peradaban dan kebudayaan Bali. Salah satu pura yang terkenal adalah Pura Ulun Danu, tempat pemujaan kepada Sang Hyang Dewi Danu sebagai pemberi kesuburan. Pura ini dijadikan gambar dalam uang resmi Republik Indonesia pecahan Rp. 50.000,-.

Sayangnya, saya nggak berani mengarungi Danau Bratan dengan menggunakan perahu motor, sehingga tak bisa mendekat ke pura Ulun Danu yang terkenal itu. Hawa sejuk menyergap tubuh hingga menusuk ke tulang begitu menginjak di bibir danau kaldera terbesar setelah danau Toba ini. Daerah dataran tinggi ini termasuk daerah subur, menurut bli I Wayan Pasek, –guide tour kami– daerah ini merupakan penghasil sayur-sayuran dan buah-buahan. Terutama jenis tumbuhan yang hanya bisa tumbuh di daerah tinggi.

DSCF2727
Danau Bratan Nan Elok
DSCF2730
Danau Bratan, Sejuk
DSCF2729
Pura Ulun Danu, Dari Kejauhan .. Asal Ada Aja,. 🙂

Jenis danau kaldera merupakan jenis danau hasil olah vulkanik gunung berapi. Terbentuk dari jatuhnya tanah setelah letusan vulkanik. Kata “kaldera” berasal dari bahasa Spanyol, yang artinya wajan. Sama dengan danau Toba, kaldera danau bratan terjadi pada masa letusan gunung purba. Keruntuhan permukaan terjadi karena kosongnya kantung magma di bawah gunung berapi, biasanya terjadi karena gunung meletus. Jika cukup banyak magma dikeluarkan, kantung magma yang kosong tidak bisa mendukung berat struktur gunung berapi di atasnya. Patahan melingkar berbentuk cincin terbentuk di sekililing kantung magma. Patahan cincin juga menjadi pemicu keluarnya isi magma lain melalui jalan keluar sekeliling puncak gunung berapi. Dengan kosongnya kantung magma, bagian tengah gunung api mulai runtuh. Runtuhnya gunung bisa berupa satu letusan dahsyat atau sebuah seri letusan. Luas bagian yang runtuh bisa ratusan atau ribuan kilometer besarnya.

(Bersambung)

Jalan-Jalan Bali, Menulusuri Tapak Jalan Daendels (1)

Ini adalah perjalanan kedua kali saya ke pulau dewata Bali. Pulau yang merupakan gugusan kepulauan Sunda Kecil. Konon kabarnya, salah satu pulau eksotik di dunia, dengan keindahan alamnya dan keragaman budaya khas yang dimilikinya. Bali terkenal di manca negara sejak tahun 1930-an ketika pelukis Jerman Walter Spies dan pelukis Belanda Rudolf Bonnet menetap di sana. Peluang pariwisata benar-benar dikembangkan oleh pemerintah pusat dan daerah, sehingga pariwisata jadi primadona utama propinsi yang mayoritas penduduknya beragama Hindu ini.

Perjalanan kali ini sama dengan perjalanan saya yang terdahulu, yaitu dengan jalan darat melalui Surabaya, Jawa Timur. Cukup melelahkan memang, dengan perjalanan selama 12 jam hingga sebisannya harus tidur dalam bus, sambil menyiapkan tenaga untuk jalan-jalan di Bali.  yang tidak bisa tidur selama diperjalanan, dampaknya ketika sampai di Bali akan loyo kecapean. Boro-boro mau menikmati Bali, eh .. malah ketiduran.

Menulusuri perjalanan darat, antara Surabaya hingga ke Banyuwangi sesungguhnya menikmati jalan yang dibuat oleh masyarakat tempo doeloe penuh dengan cerita kesengsaraan. Karena termasuk jalan yang di bangun pada masa pemerintahan Gubernur-Jenderal Herman Willem Daendels. Dikenal dengan jalan pos, jalan yang panjangnya kurang lebih 1000 km yang terbentang sepanjang utara Pulau Jawa, dari Anyer sampai Panarukan. Tujuan pembangunan Jalan Raya Pos adalah memperlancar komunikasi antar daerah yang dikuasai Daendels di sepanjang Pulau Jawa dan sebagai benteng pertahanan di Pantai Utara Pulau Jawa.

Ketika baru saja menginjakkan kakinya di Pulau Jawa, Daendels berangan untuk membangun jalur transportasi sepanjang pulau Jawa guna mempertahankan Jawa dari serangan Inggris. Angan-angan Daendels untuk membangun jalan yang membentang antara Pantai Anyer hingga Panarukan, direalisasikannya dengan mewajibkan setiap penguasa pribumi lokal untuk memobilisasi rakyat, dengan target pembuatan jalan sekian kilometer. Yang gagal, termasuk para pekerjanya, dibunuh. Kepala mereka digantung di pucuk-pucuk pepohonan di kiri-kanan ruas jalan. Gubernur Jenderal Daendels memang menakutkan. Ia kejam, tak kenal ampun. Dengan tangan besinya jalan itu diselesaikan hanya dalam waktu setahun saja (1808). Suatu prestasi yang luar biasa pada zamannya. Karena itulah nama Daendels dan Jalan Raya Pos dikenal dan mendunia hingga kini.

Siapa Daendels ? seorang politikus Belanda yang merupakan Gubernur-Jenderal Hindia-Belanda yang ke-36. Ia memerintah antara tahun 1808 – 1811. Masa itu Belanda sedang dikuasai oleh Perancis. Sejatinya ia adalah seorang kelahiran Belanda, namun Pada tahun 1780 dan 1787 ia ikut para kumpulan pemberontak di Belanda dan kemudian melarikan diri ke Perancis. Di sana ia menyaksikan dari dekat Revolusi Perancis dan lalu menggabungkan diri dengan pasukan Batavia yang republikan. Akhirnya ia mencapai pangkat Jenderal dan pada tahun 1795 ia masuk Belanda dan masuk tentara Republik Batavia dengan pangkat Letnan-Jenderal. Pada tahun 1806 ia dipanggil oleh Raja Belanda, Raja Louis  untuk berbakti kembali di tentara Belanda. Ia ditugasi untuk mempertahankan provinsi Friesland dan Groningen dari serangan Prusia. Lalu setelah sukses, pada tanggal 28 Januari 1807 atas saran Kaisar Napoleon Bonaparte, ia dikirim ke Hindia-Belanda sebagai Gubernur-Jenderal.Daendels tiba di Batavia pada tanggal 5 Januari 1808 dan menggantikan Gubernur-Jenderal Albertus Wiese. Daendels diserahi tugas terutama untuk melindungi pulau Jawa dari serangan tentara Inggris. Jawa adalah satu-satunya daerah koloni Belanda-Perancis yang belum jatuh ke tangan Inggris.

Makan Malam di Probolinggo
Makan Malam di Probolinggo
DSCF2682
Di Selat Bali Jam 12 Malam
DSCF2696
Pagi Hari di Rumah Makan Sekitar Jembrana
DSCF2703
Pantai di sekitar Jembrana

Perjalanan darat ini akhirnya sampai ke Banyuwangi, tepatnya di pelabuhan Ketapang. Selanjutnya mengarungi Selat Bali yang memisahkan antara pulau Jawa (disebelah barat) dan Bali (disebelah timur).  Sebuah selat yang mempertemukan Samudera Hindia dan Laut Jawa. Sampai sekarang, ditunggu beritanya rencana pembuatan jembatan antara kedua pulau ini. Perjalanan di tempuh kurang lebih 1 jam untuk sampai ke pelabuhan Gilimanuk (Bali).

Ada Tips untuk yang melakukan perjalan darat dari Surabaya ke Bali, jika memadai bisa melakukan perjalana mulai jam 6 sore waktu Surabaya, hingga ketika masuk ke Bali sudah pagi hari. Ketika menuju Denpasar, disekitar kabupaten Jembrana kita sudah bisa menikmati indahnya pantai Samudera Hindia dengan ombaknya yang besar. Dengan pantai ‘berpasir’, pantai yang paling umum dijumpai dengan penampakan yang khas dengan kemiringan pantai yang landai dan tersusun dari material lepas seperti pasir, kerikil (gravel), batu gaplok (cobblestones) dan sejenisnya. Gelombang dan arus di pantai adalah penggerak utama terbentuknya pantai jenis ini dengan secara terus-menerus menempatkan pasir (atau material lepas lainnya) ke pantai. Beristirahat di salah salah satu rumah makan di tepi pantai sekitar Jembrana, sesuatu yang yang mengasyikansambil sarapan, mandi pagi dan pemandangan eksotik.

— Bersambung —

Jalan-jalan Ke Bali : Tanah Lot (4)

Tempat wisata terakhir yang kami kunjungi di Bali adalah Tanah Lot. Sebuah obyek wisata yang terletak di Desa Beraban Kecamatan Kediri Kabupaten Tabanan, sekitar 13 km barat Tabanan. Di sini ada dua pura yang terletak di atas batu besar. Satu terletak di atas bongkahan batu dan satunya terletak di atas tebing. Pura Tanah Lot ini merupakan bagian dari pura Dang Kahyangan. Pura Tanah Lot merupakan pura laut tempat pemujaan dewa-dewa penjaga laut.

Menurut legenda, pura ini dibangun oleh seorang brahmana yang mengembara dari Jawa, yang bernama Danghyang Nirartha . Ia juga mengubah selendangnya menjadi ular penjaga pura. Ular ini masih ada sampai sekarang dan secara ilmiah ular ini termasuk jenis ular laut yang mempunyai ciri-ciri berekor pipih seperti ikan, warna hitam berbelang kuning dan mempunyai racun 3 kali lebih kuat dari ular cobra.

Lanjutkan membaca “Jalan-jalan Ke Bali : Tanah Lot (4)”

Jalan-jalan ke Bali : Pantai Nusa Dua – Pantai Kuta (3)

Ketika sampai di Pantai Sanur saat pagi hari, teman-teman pada berkelakar, ‘mana nih bule koq pada sepi’. Maklum saja,  saya dan teman-teman sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu hanya mendengar berita bahwa di Bali banyak dikunjungi wisatawan mancanegara (wisman). Memang ketika di Sanur saat pagi hari tak banyak wisman yang pelesiran di pantai, hanya ada satu dua yang melakukan jogging di sekitar pantai.

Pantai Kuta

Lanjutkan membaca “Jalan-jalan ke Bali : Pantai Nusa Dua – Pantai Kuta (3)”

Jalan-jalan ke Bali : Everyday is Sunday in Bali (2)

Masjid Al Ihsan Sanur Bali, sumber http://selatanonline.com

Jam 04.00 wita sampai juga akhirnya di Sanur, Bali.  Kenapa jadi Sanur  tujuan pertama di Bali ? Karena menurut kabar  pantai ini memiliki pemandangan sunrise (matahari terbit) yang mempesona, selain itu juga  terdapat sebuah masjid yang bisa digunakan untuk sekedar cuci muka, mandi, istirahat dan sholat.  Nama Masjidnya adalah Masjid Al Ihsan yang terletak di perumahan Taman Griya Jimbaran. Dan inilah satu-satunya masjid yang saya temukan dalam perjalanan ke Bali (mungkin ada ditempat lain). Maklumlah, Islam di tempat ini menjadi minoritas, dibanding mayoritas masyarakat Bali yang beragama Hindu. Masjid dengan bentuk seperti panggung tanpa dinding dan terasa sejuk dikelilingi oleh pepohonan yang rindang

Lanjutkan membaca “Jalan-jalan ke Bali : Everyday is Sunday in Bali (2)”

Jalan-jalan ke Bali : Surabaya – Bali (1)

Salah satu tempat di Indonesia yang ingin saya kunjungi adalah Bali. Sebuah propinsi di Indonesia dengan pariwisata yang terkenal ke mancanegara  dengan keunikan berbagai hasil seni-budaya dan alam, bahkan sebagian orang di mancanegara lebih mengenal Bali dari pada Indonesia.  Nama Bali sendiri diambil dari nama pulau terbesar di propinsi tersebut yaitu Pulau Bali, disamping pulau-pulau kecil lainnya, berada dalam gugusan kepulauan Sunda Kecil. Agama Hindu menjadi agama mayoritas di pulau ini, diperkirakan mendapat pengaruh kuat dari kebudayaan India. Nama Balidwipa (pulau Bali) mulai ditemukan di berbagai prasasti, diantaranya Prasasti Blanjong yang dikeluarkan oleh Sri Kesari Warmadewa pada 913 M dan menyebutkan kata Walidwipa. Seiring dengan perkembangan Islam di Nusantara hingga kemunduran kerajaan Majapahit, banyak bangsawan, pendeta, artis dan masyarakat Hindu lainnya yang ketika itu menyingkir dari Pulau Jawa ke Bali.

Lanjutkan membaca “Jalan-jalan ke Bali : Surabaya – Bali (1)”